Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 25 •Kehidupan yang Lalu 4


__ADS_3

Bulan purnama sudah ada di puncak langit malam ini. Awan hitam tebal yang mengelilinginya membuat malam ini semakin mencekam. Hanya terlihat para Akame yang lalu lalang mencari mangsa di tengah padang rumput yang memisahkan dua hutan lebat.


Okino Gilbert, Leona Emilia, Erickson Field, Violetta Charlotte. Nama nama yang tertulis di seragam militer mereka masing masing. Kegelapan mulai mengambil alih hari. Hanya ada cahaya dari lentera yang ada di atas meja makan.


Cahaya yang sedikit redup itu menambah kesan mencekam di dalam ruangan itu. Para Akame seakan mengepung mereka dan menunggu salah satu kepala mereka muncul dari rumah tua itu.


Vio masih tertidur lelap di atas ranjang tua di dalam rumah itu. Sedangkan Erick masih dalam alam mimpinya di atas sofa usang itu. Okino masih memejamkan matanya sembari memikirkan strategi untuk keluar dari rumah itu dan tetap selamat.


Okino dan Ema duduk berdampingan di atas lantai yang terbuat dari kayu tua dan menyandarkan punggung mereka ke pintu. Okino terus menggenggam tangan kanan Ema.


"Ema ... apa yang ingin kau lakukan setelah semua ini usai?" Tanya Okino dengan matanya yang masih terpejam itu.


"Aku ingin terus bersama Okino-sama ... selamanya ...," jawab Ema dengan wajah datar dan tatapan kosongnya itu.


"Ohh ... kalau aku ... mungkin aku bakal beliin kamu makanan sebanyak banyaknya ... supaya kamu gak kelaperan kaya gini," ujar Okino dengan senyuman tipisnya.


"Aku ingin makan cokelat ...," ucapan Ema yang membuat Okino langsung menoleh ke arahnya.


"Kalo gitu ... habis ini aku bakal beliin kamu cokelat yang banyak," Okino memgusap kepala Ema dengan lembut seraya bangkit berdiri.


"Erick ... sudah saatnya," Okino menepuk pipi Erick untuk membangunkannya.


"Charlotte-chan ...," Okino melakukan hal yang sama pada Vio yang tertidur di atas ranjang.


Mereka berdua pun terbangun dan segera bangkit berdiri.


"Dasar Gill'a ... sudah ku bilang jangan panggil aku dengan sebutan aneh itu," Vio membalas ejekan Okino yang memanggilnya menggunakan nama belakang.


"Sudah sudah ... ayo kumpul sini ...," Okino menuntun Ema untuk duduk di kursi kayu yang ada di depan meja makan.


"Okay ...," Erick mengusap matanya dan duduk kursi yang ada di seberang Ema dan Okino.

__ADS_1


Lentera yang ada di tengah meja makan. Meja kayu tua yang di cat hitam. Erick dan Vio duduk berdampingan, serta Okino dan Ema yang duduk di seberang mereka. Mereka seperti sedang double date saja.


Tapi ini adalah medan perang. Tak ada kata cinta di sini. Suasana menjadi sunyi sejenak. Menunggu sang ketua untuk mengatakan sesuatu dari mulutnya.


"Hmm ... jadi ... Erick ... peluru mu sisa empat kan?" Tanya Okino dengan tatapan tajamnya yang keluar dari bola mata hijaunya itu.


"Hmm," Erick mengangguk perlahan.


"Erick ... aku ingin kau bawa senapanku ...," ucap Okino dengan wajah seriusnya.


"Tapi? ..."


"Aku masih punya pistol ...," kata kata Okino yang membuat Erick tak berani membantah permintaan ketuanya itu.


"Vio ... tolong gandeng Ema apa pun yang terjadi ...," pinta Okino.


"Okay ... tapi,"


"Ini aku akan menjadi pengalih perhatian," kata-kata Okino yang membuat mata Erick dan Vio terbelalak setelah mendengarnya.


"Tenang ... pengalih bukan berarti harus mati kan ... aku janji akan tetap bersama dengan kalian," jelas Okino.


"Erick ... tembak empat Akame dengan posisi paling jauh yang kau bisa ... buat Akame lain memakan temannya yang kau tembak itu."


"Jika aku hitung tadi ... satu Akame mengulur waktu kita sekitar dua puluh detik ... dan bom asap membingungkan mereka selama satu menit"


"Hmm ... jadi kalo kita tembak empat Akame kita dapat waktu yang sama ...," Erick menyimpulkan rencana Okino.


"Jarak rumah ini ke hutan seberang sekitar dua ratus delapan puluh meter ... kita butuh lebih dari delapan puluh detik pastinya."


"Biar aku urus sisanya ... rencana selesai ... Bersiap di posisi!" Kata Okino dengan tegas seraya berdiri dari kursinya.

__ADS_1


Erick menodongkan senapannya keluar jendela dan membidik Akame yang paling jauh dari posisi mereka saat ini. Okino bersiap di depan pintu dengan pistol di tangan kanannya.


Seperti yang diperintahkan, Vio menggenggam tangan Ema dengan erat dan berdiri di belakang Okino. Erick bersiap untuk menarik pelatuk senapan nya dengan jari telunjuknya. Sekarang tinggal menunggu perintah dari sang pimpinan.


"Sekarang!!"


Duar!! Duar!! Duar!! Duar!!


Empat tembakan beruntun yang keluar dari moncong sniper milik Erick. Setiap peluru berhasil menembus tubuh satu Akame. Tujuan tembakan itu bukan lah untuk membunuh, melainkan hanya memancing Akame lain dengan darah sang target.


Okino pun membuka pintu dan memimpin regunya itu berlari menuju hutan yang mereka tuju. Okino berlari paling depan disusul Vio yang menggandeng Ai lalu Erick yang berlari paling belakang.


Mereka berempat berlari menyusuri padang rumput di tengah gelapnya malam yang mecekam itu.


"Erick!! ... tukar posisi!" Pinta Okino lalu memperlambat larinya dan bertukar posisi dengan Erick.


Di saat yang sama para Akame melihat mereka yang sedang melarikan diri itu.


"Graarrkhh!!"


Teriakan satu Akame itu membuat banyak Akame lain mengejar regu Okino dengan sangat cepat. Akame bisa berlari dua bahkan tiga kali lebih cepat dari manusia biasa.


Saat Erick, Vio, dan Ema berhasil masuk ke hutan, Okino menghentikan langkah nya dan berbalik ke arah para Akame yang berlari ke arahnya dan siap untuk menerkam dirinya itu.


"Gilbert!!! ... apa yang kau lakukan!!?!!" teriak Erick dari balik pohon.


"Erick ... ini operasi Kamikaze ... tunggu aku di kastil Bougenville ...,";kata-kata Okino yang membuat Erick terbelalak.


"Pastikan kamu bawa mereka berdua dengan selamat," Okino mengambil sebilah pisau tajam dari pinggangnya dengan tangan kirinya.


"Jangan ceroboh!!! ... aku tunggu kamu di kastil!!" Dengan berat hati Erick kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke hutan.

__ADS_1


"Ya ... pasti ... aku pasti akan kembali ...," Okino menodongkan pistol di tangan kanannya ke arah sekelompok Akame yang berlari ke arahnya.


"Ema ... tunggu aku ..."


__ADS_2