Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 177 Last Memories


__ADS_3

---------


"Hiroki, Hi-ro-ki!"


Suara yang baru saja aku dengar itu sangat mirip dengan milik Yume. Tunggu, itu benar benar dia. Gadis berambut putih panjang yang terurai. Manik mata merah padam yang menyejukan hati. Gaun putih indahnya itu selalu menarik perhatianku.


"Yume?"


Apa ini? Mimpi? Lagi lagi aku tak bisa mengendalikan gerak gerik tubuhku sendiri.


Benar, ini adalah ingatan masa laluku bersamanya.


Kami berdua sedang duduk di tempat yang sama dengan mimpiku yang terakhir kali. Kami duduk di tengah taman bunga yang luas nan indah. Berbagai jenis bunga tumbuh di sini, tapi semua bunga itu nampak asing bagiku. Mungkin dunia ini berbeda dengan dunia yang sedang aku jalani sekarang ini.


Kami berdua duduk di permukaan tanah yang lebih tinggi dari pada yang lain. Dari sini kami bisa melihat seluruh sudut taman bunga ini. Dan juga bukit-bukit yang terlihat seakan menjadi pembatas tempat ini. Langit sore yang sangat indah, warna oranye kekuning-kuningan itu sangat memanjakan mata. Tempat seindah ini, ternyata aku pernah menikmatinya, walau mungkin hanya sejenak.


"Hiroki, apa kita akan terus seperti ini?" Tanya Yume lirih sembari menundukan kepalanya.


"Huff, tentu tidak," aku menghela nafas dan menjawab dengan nada berat.


"Kenapa kita tidak mengajak Mayu ke sini?" Ia menoleh ke arahku dan menatapku dengan paras cantiknya itu.


"Natsuno Yume, hari ini adalah ulang tahunmu kan?" Aku mengusap kepalanya perlahan.


Natsuno Yume? Jadi itu nama lengkapnya.


"He?" Ia memalingkan wajah memerahnya itu dariku.


"Oi oi, apa kau malu?" Aku menggodanya dengan melempar senyum ejekanku.


"Mana ada! Jangan terlalu berharap!" Wajahnya semakin memerah saat mengeluarkan kata-kata itu.


"Ne, Yume, aku ada hadiah buat kamu." Aku mengambil sebatang bunga matahari yang tergeletak di sampingku.


"He?" Yume kembali memberikan semua perhatiannya padaku. Dengan perlahan dan kelembutan tangannya itu ia menerima setangkai bunga matahari yang aku berikan padanya itu.


"Apa kau suka?" Aku mendekatkan wajahku padanya.


"Hiroki?!" Ia kembali memalingkan wajahnya dengan rona merah yang memancar di kedua sisi pipinya.


"Apa ini?! Masa cuma ini?!" Ia menggelembungkan pipinya dan wajahnya semakin imut saja.


"Huumm, ada satu lagi!" Aku merogoh saku celanaku dan mengambil sesuatu.


"Thaadaaa!" Seruku memeriahkan suasana.

__ADS_1


Tu-tunggu itu?!


Ternyata yang ada di tanganku adalah kotak perhiasan warna putih. Dan aku yakin isinya pasti cincin.


"A-apa i-itu?!" Yume terpaku pada kotak yang ada di tangan kananku ini.


"Cincin loh!" Aku membuka kotak perhiasan itu dan menunjukan cincin perak berkilau dengan hiasan batu permata warna merah yang sangat indah.


"Ha?! Apa?!" Yume sepertinya membeku karena tak percaya akan apa yang dia lihat ini.


"Kenapa? Ada yang salah?" Aku mengambil cincin itu dan meletakan kotaknya di tanah.


"Sini, aku pakein," dengan perlahan aku meraih tangan kirinya dan memasukan jari manisnya kedalam lubang cincin itu.


"Huff, ternyata pas, untung aja," aku meghela nafas dan mengelus dada seakan kekhawatiranku tak terjadi.


"Hiro, apa ini tandanya," Yume terpaku pada cincin yang sekarang ada di jari manis tangan kirinya itu.


"Iyap, aku memilihmu." Kataku sembari menikmati pemandangan matahari yang sebentar lagi akan ditelan bumi.


"Lalu, bagaimana dengan Mayu?!" Tanya Yume panik.


"Yume, kau memang baik. Kau mau memberikan semuanya untuk temanmu."


"Bahkan cintamu padaku?"


"Dan itulah yang membuatku memilihmu." Setengah dari tubuh sang surya sudah tenggelam.


"Natsuno Yume, mimpi di musim panas." Aku sungguh menikmati pemandangan yang perlahan mulai berubah menjadi malam penuh bintang di musim panas ini.


"Aku masih ada satu hadiah lagi," Aku melempar senyum tipisku pada gadis cantik yang duduk di sebelah kiriku ini.


"Apa?"


"Kita tunggu matahari terbenam sepenuhnya ya?" Aku menggenggam tangan kanan Yume. Kami pun menunggu beberapa menit sampai langit benar benar berubah. Dan saat kurasa ini adalah saat yang tepat.


"Teman teman!!! Pertunjukan dimulai!!" Seruku dengan suara lantang.


"He?! Apa?!"


Cwush!!! Duar!!!


Kembang api pertama sudah diluncurkan dan meletup menyebarkan percikan api yang sangat indah. Tak lama kemudian banyak kembang api yang menyusulnya. Ya, pertunjukan kembang api di malam musim panas.


"Hiroki ...," air matanya mulai mengalir keluar dan membasahi pipinya.

__ADS_1


"Hoi hoi ... ngapain nangis," aku bisa melihat pantulan kembang api yang menghiasi langit malam ini dari bola matanya itu.


"*****!!" Ia melemparkan setangkai bunga matahari itu ke wajahku.


"He?!"


"Untuk apa kau melakukan semua ini!!!" Pekiknya seraya memelukku erat.


"Umm, buat apa ya?" Aku mencoba menggodanya walau tahu dia sedang serius.


"Kamu itu ***** atau gimana sih?!" Yume memukul dadaku perlahan dengan tangan kecilnya itu.


"Hmm, Yume, setelah kehidupan yang ini berlalu ... apa aku masih bisa melihatmu?" Aku membalas pelukannya dan membelai gadis cantik yang ada dalam pelukanku ini.


"Tentu! Aku akan masuk ke dalam alam mimpimu dan hidup abadi di sana!" Air matanya nulai membasahi pakaianku ini.


"Yume, bukankah kekuatanmu bisa mengacaukan takdir?"


"Aku tak peduli! Karena suatu saat nanti pasti, aku akan membalas semua kebaikanmu!" Setelah perkataannya itu hanya suara letupan kembang api yang terdengar. Aku menengadahkan kepalaku dan melihat ke langit malam yang dihiasi kelap-kelip bintang. Ditambah dengan kembang api yang memperindah langit malan ini.


------------


Setelah itu semuanya menjadi gelap. Aku mulai kembali merasakan hawa panas dan rasa sakit. Tentu, aku sudah tersadar dari alam mimpiku itu. Jadi selama ini Yume berbohong, Mayu bukanlah Ai dan Saika dalam satu tubuh. Melainkan Yume juga adalah salah satu dari kedua gadis yang kukenal sekarang ini. Takdir hidupku sangat rumit, aku bahkan menyerah untuk memahami semuanya.


"Jadi, ternyata, Saika adalah Yume." Gumamku perlahan.


Aku membuka mataku lebar dan melihat Gillbert yang berdiri di hadapanku. Aku kembali berada di halaman kastil besar yang sedang terbakar itu. Gillbert juga sedang berada dalam kendali iblis, mata merah bersinarnya itu, ia sama seperti yang terakhir kali kulihat dalam mimpi beberapa waktu lalu.


"Gillbert!!!!" Tanpa basa basi lagi aku langsung maju menyerangnya.


Kali ini, aku pasti akan menang. Tak ada alasan lagi bagiku untuk kalah di tangan masa laluku sendiri. Aku membuat Gillbert kualahan menangkis serangan dari pedang cahayaku ini. Dan di saat yang tepat aku mematahkan bilah besi dari pedangnya itu. Dengan ini dia sudah tak bisa menangkis seranganku lagi.


"Mati kau!!!" Aku memotong kedua tangannya secara bergantian. Potongan lengannya itu terjatuh ke tanah disertai darah merah yang mengalir keluar.


Jrak!!!


Sekali lagi aku menusuk jantungnya dengan pedangku sama seperti saat ia menusuk Sora. Dengan ini aku yakin dia pasti mati.


"Kaito, selamat, kau berhasil!" Gillbert tersenyum tipis disaat ajal hendak menjemputnya.


Di saat yang sama semua hal yang kulihat perlahan menjadi tidak jelas. Pandanganku kabur, dan ini tandanya aku sudah mencapai batas kekuatanku. Bukan hanya Gillbert yang jatuh tersungkur. Aku juga ikut tergeletak di sampingnya.


"Okino-sama! Bangun!! Aku mohon!"


Saat kelopak mataku perlahan menutup, aku sempat melihat Ema yang menghampiriku dengan air matanya yang berlinang itu. Perlahan tapi pasti kesadaranku menurun dan akhirnya menghilang.

__ADS_1


"Ema...,"


__ADS_2