Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 193


__ADS_3

"Yuutaaa!!!"


"Shinjiro!!!!"


Boom!!!


Pemukiman Chizu sekarang sudah menjadi medan pertempuran. Ratusan Akame mulai menginjakan kakinya di wilayah ini dan juga di kota Natsu. Karena kemampuan Shinjiro dan Yuuta yang sangat hebat. Hampir seluruh rumah di pemukiman Chizu rata dengan tanah. Hanya tersisa reruntuhan dan api yang membara di sini. Tak ada satupun rumah yang berdiri kokoh dalam medan pertempuran ini.


"Yuu! Sadarlah! Dia bukanlah Kurai Munmei yang kau kenal!" Teriak Shinjiro dengan nafasnya yang terengah engah.


"Apa kau kira aku akan percaya? Dasar SAMPAH!" Pekik Yuuta yang menandakan amarahnya sedang berkobar.


"Hmm, kalau begitu, biarkan aku kalahkan dirimu sekali lagi!" Shinjiro mengangkat tangan kanannya ke atas dan sebuah tombak kegelapan muncul. Sesekali petir hitam mengalir di sekitar tombak Shinjiro.


"Hahahaha! Seperti waktu itu ya!!" Yuuta memanggil pedang cahaya dan menggenggamnya di tangan kanan. Tak sampai di situ saja, Ia juga memanggil pedang kegelapan berwarna merah darah di tangan kirinya.


"Hmm, sedikit bernostalgia!" Shinjiro melempar tombaknya menuju kepala Yuuta.


Yuuta hanya menelengkan kepalanya ke kanan dan lolos dari tajamnya mata tombak Shinjiro. Tentu Shinjiro melempar tombaknya dengan satu alasan. Dewa kematian itu melakukan teleportasi untuk kembali menggenggam tombaknya. Ini adalah kesempatan emas bagi Shinjiro untuk menyerang Yuuta dari belakang.


Saat Shinjiro mengayunkan tombaknya, Yuuta berbalik lalu menahan serangan itu. Ia menyilangkan kedua pedangnya sehingga terbentuk huruf X. Untuk memecah pertahanan Yuuta, Shinjiro mengayunkan kaki kanannya dan serangannya itu tepat mengenai kepala Yuuta. Reingkarnasi Kaito itu terpental jauh dan berguling guling di sekitar reruntuhan rumah pemukiman Chizu ini.


"Huff, Yuuta! Kekalahanmu tak bisa disangkal lagi! Menyerahlah!" Ucap Shinjiro mengarahkan ujung tombaknya pada Yuuta yang sedang berusaha bangkit berdiri.


"Hmm, aku mungkin pernah kalah, tapi aku tak akan kalah dua kali!" Yuuta kembali berdiri tegak walau pelipis kirinya sudah mencucurkan darah merah.


"Ha?!"


Shinjiro menyadari ada serangan yang akan datang dari atas langit. Dan benar saja, beberapa lingkaran yang berisi tulisan mantra sihir muncul di atas dewa kematian itu. Lingkaran sihir itu menembakan sinar berwarna hitam tepat ke arah kepala Shinjiro.


Dewa kematian itu melompat kebelakang untuk menghindari serangan yang pertama. Ia menangkis serangan kedua dengan hanya mengayunkan tombaknya.


Zrak!!!


"Mana mungkin?!"

__ADS_1


Sebuah tangan Akame muncul dari dalam tanah dan menahan pergelangan kaki Shinjiro. Alhasil ia tak bisa bergerak, pada akhirnya Shinjiro tak sempat menghindar atau pun menangkis sinar sihir Yuuta. Sinar itu menghantam Shinjiro dan ledakan besar terjadi.


"Hmm, kau mulai curang ya Yuuta?" Kata Shinjiro sesaat setelah asap hitam yang mengelilinginya lenyap.


"Apa salahnya pakai akal di pertarungan ini ha?" Yuuta tersenyum tipis saat beberapa Akame berkumpul di belakangnya.


"Hmm, senjata sampahmu itu ternyata berguna di saat seperti ini ya?" Shinjiro membersihkan debu yang melekat di bahu kanannya.


"Dasar jiwa sampah!" Lanjut Shinjiro sembari mengarahkan telapak tangannya ke depan. Tak lama kemudian langit berubah jadi gelap. Gumpalan awan hitam menutupi cahaya sang surya. Langit oranye yang cerah hanya tinggal kenangan.


Duar!!!


Kilatan petir merah menyambar keluar dari awan hitam itu. Petir itu bukan menyambar, tapi turun dan berkumpul di depan Shinjiro. Semakin lama terlihat jelas busur raksasa bercahaya merah darah terbentuk dari petir yang menyambar tadi.


"Hika! Bersiaplah!" Shinjiro berkomunikasi menggunakan telepati untuk memperingatkan Hika.


"Heeeee?! Panah itu lagi?! Shinjiro! Kamu harus bayar!" Teriak Hika kesal pada dewa kematian itu.


"Kenapa juga harus bayar ...," gumam Shinjiro dengan senyum tipisnya.


Shinjiro mungkin adalah dewa kematian. Tapi siapa bilang dewa kematian tak bisa jatuh cinta? Shinjiro jatuh hati pada gadis yang seharusnya bukan ditakdirkan untuknya. Dan pada akhirnya dia terjebak pada permainan takdir dan cinta. Sama seperti Kaito. Walau pun Hika sebenarnya adalah salah satu reingkarnasi Ai atau Munmei. Shinjiro tak membunuhnya, malahan mengajaknya bertarung bersama. Yap, para dewa suka sekali cari masalah.


"Yuuta! Kau tahu serangan siapa yang akan menang kan?" Shinjiro menggunakan tombak di tangan kanannya itu sebagai anak panah.


"Hmm, aku tau!" Yuuta juga hendak melancarkan serangan akhirnya. Energi sihir yang sangat kuat berkumpul di kedua bilah pedangnya. Pedang cahaya dan kegelapanya itu menyemburkan energi sihir ke atas langit. Pedangnya sekarang ini tak berujung, cahaya sihir pedangnya bahkan bisa menembus awan hitam.


Sementara itu, dua orang gadis sedang berdiri di atas atap SMA Asakura. Letak sekolah itu agak sedikit jauh dari medan pertempuran Shinjiro dan Yuuta. Walau setengah bagian gedung sekolahnya sudah runtuh. Tapi masih ada tempat untuk berdiri di atas gedung itu. Siapa lagi kalau bukan Saika dan Hika. Dari sini mereka bisa melihat pancaran sinar sihir dari pedang Yuuta yang terlihat seperti tiang cahaya.


"Apa kamu yakin Shinjiro ga apa apa?" Tanya Saika dengan tatapan mata dingin miliknya.


"Hmm, bodo amat sama tu cowok!" Hika terlihat sedikit kesal karena sebenarnya saat Shinjiro menggunakan serangan akhirnya. Energi sihir Hika ikut tersedot untuk memperkuat serangannya.


"Sekarang aku mau ritual pemanggilan, Saika, tolong lindungi aku ya?" Hika menyatukan telapak tangannya seperti orang yang sedang berdoa. Dan disaat yang sama lingkaran cahaya berisi tulisan mantra sihir muncul. Sekarang Hika berdiri di tengah lingkaran sihir dengan mata terpejam.


"Saika, gunakan jurus pertahanan terkuatmu! Efek dari benturan kekuatan sihir mereka sangat kuat. Chizu akan hangus." Jelas Hika dengan matanya yang terpejam menandakan ia sudah fokus merapalkan mantra.

__ADS_1


"Hmm! Baik!" Saika mengangguk dan bersiap menghandapi ledakan besar itu.


Kita kembali ke medan pertempuran antara dua laki laki itu. Reingkarnasi dewa keabadian dan dewa kematian saling berhadapan. Mereka berdua siap melancarkan serangan terkuatnya.


"Mati kau, Yuuta." Gumam Shinjiro melepas anak panahnya.


"Shinjiroooo!!!" Teriakan Yuuta sembari mengayunkan pedangnya kebawah.


Booommm!!!! Swushh!!!


Ledakan besar terjadi. Karena benturan kekuatan sihir yang sangat kuat itu. Kubah cahaya raksasa terbentuk dan semakin membesar. Kubah cahaya warna merah darah itu semakin besar dan hendak menelan gedung SMA Asakura. Saika tentu sudah siap dengan perisai yang melekat di lengan kanannya itu.


"Shield Wall!!!" Teriak Saika diiringi benteng cahaya yang tinggi muncul dan melindungi gedung SMA Asakura yang tinggal separuh itu. Dinding cahaya yang dikeluarkan Saika itu sangat indah, seperti benteng sebuah kerajaan yang amat kokoh.


"Takdir adalah takdir!"


"Di dalamnya terdapat sebuah kisah! Kisah dari sang dewa yang berusaha melawan takdirnya."


"Kisah kali ini adalah seorang pahlawan berhati mulia!"


"Reingkarnasi Dewa Keabadian yang mengorbankan hidupnya untuk cinta!"


"Dengan ini aku memanggilmu dari alam kematian, kau akan hidup kembali di dalam kisah yang berbeda!"


"Okino Fuyuka! Pahlawan yang bertarung persama perisai hidupnya!"


"Jawablah permintaanku ini!"


"Tolong hidup dan bantu aku memperbaiki kisah dari Okino Kaito!" Tubuh Hika semakin bercahaya dari waktu ke waktu. Setelah ia selesai merapalkan mantranya, butiran cahaya berkumpul di depannya dan membentuk tubuh seorang manusia.


Tak lama kemudian kubah cahaya hasil benturan sihir Shinjiro dan Yuuta lenyap. Sekarang seluruh wilayah Chizu sudah rata dengan tanah. Ledakan besar tadi hanya menyisakan reruntuhan dan tentunya api yang tersisa di ranting pohon.


"Ha?! Mana mungkin?!" Shinjiro terbelalak karena menyadari ada seseorang yang melindungi Yuuta.


"Shin! Jangan pikir kau bisa menang kali ini!" Ternyata gadis bernama Kurai Munmei itu melindungi Yuuta dari efek ledakan tadi.

__ADS_1


"Sial!" Gumam Shinjiro yang tenaganya sudah habis tak tersisa.


"Hmm, sampai jumpa sampah!" Yuuta masih ingin menyerang Shinjiro dengan sihirnya. Ia mengarahkan tangannya ke depan dan lingkaran mantra sihir yang cukup besar muncul di depan tanganya itu.


__ADS_2