Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 132


__ADS_3

"Kaito, ini semua salah mu ...," ucap Mina lirih sembari terus menundukan kepalanya.


Hmm, seperti yang ku duga ... kutukan iblis ...


Angin sepoi sepoi menerobos masuk melalui jendela kamar Haru yang terbuka lebar. Angin di akhir musim semi ini menerpa kami dengan kesejukannya. Rambut pendek Mina sedikit bergerak karena terpaan angin. Dia terus menunduk, dengan bekas air mata di pipinya. Air matanya pasti sudah kering, dia pasti sudah mengeluarkan semuanya untuk kepergian Raku.


Aku sudah memikirkan kemungkinan tentang Mina yang akan terkena kutukan iblis karena masalah ini. Aku tahu dia tak akan bisa menahan rasa penyesalan dan kesedihan yang paling dalam ini. Bukan hanya dia, hatiku serasa di tusuk tusuk saat mengingat kenanganku bersama sahabatku itu. Aku kembali bangkit berdiri dan bersiap untuk segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"Kaito ... Mina kena kutukan ...," kata Fumio memberi tahu dari luar pintu kamar.


"Aku tau, biarkan aku yang mengatasinya sendiri ...," sahabatku lenyap, sahabatku yang lain terkena kutukan. Entah apa lagi yang bisa membuatku membenci dunia ini.


"Kaito, kenapa kamu menyelamatkanku ... bukankah kamu seharusnya ke rumah Raku dulu?" Nada datar Mina yang belum pernah ku dengar sebelumnya.


"Maaf," aku mengepalkan kedua tanganku untuk menahan rasa sakit luar biasa di dalam hatiku ini.


Mengingat kenangan indah sejak kami bertiga masih duduk di bangku sekolah dasar. Tertawa, menangis, saling mengejek, dan candaan tak terbatas. Masa dimana kami tidak memikirkan masalah dunia ini dan hanya mengetahui dua kata, bermain dan belajar. Kami sering pergi ke festival musim panas bersama ibu kami bertiga. Kebersamaan dan kehangatan itu tak atan pernah ku rasakan lagi. Mana mungkin bisa, takdir sudah merebut seseorang dari ku. Dia mulai melawan balik, dan sekarang Mina juga ingin ia rebut dariku.


Untuk apa aku hidup di dunia ini?


Mengingat kenangan kami bertiga sewaktu SMP. Masa masa dimana cinta mulai tumbuh di hati mereka berdua. Setiap malam aku menjadi teman curhat Mina, kami selalu berbalas pesan di ponsel kami. Membaca isi hati sahabat perempuanku. Aku sangat senang, ditambah lagi keesokan harinya. Pada jam istirahat, Raku sering berbicara tentang Mina sewaktu kami makan bersama di kantin sekolah. Kami mulai pergi ke festival musim panas tanpa orang tua kami. Pengalaman itu sekarang hanyalah sebatas abu. Aku sudah kehilangan salah satu dari kedua sahabatku yang sangat berarti itu.


Hatiku semakin sakit ketika menyadari tahun lalu, kami bertiga tak lagi pergi ke festival musim panas bersama. Hanya bertemu di kelas lalu berpisah begitu saja saat bel pulang sekolah berdering. Kenangan itu ternyata memudar sebelum akhirnya benar benar lenyap. Aku, payah, semua ini karena aku, aku seharusnya tidak berteman dengan mereka dari awal. Seharusnya aku tahu tentang kutukanku sejak bayi. Aku tak akan pernah bisa merasakan kebahagiaan. Jika aku mengetahuinya, pasti tidak begini akhirnya. Lebih baik aku hidup sendiri daripada melihat temanku satu per satu direbut oleh pedang tajam takdir.


"Kaito!" Mina menatapku dengan matanya yang sudah berubah jadi merah menyala dan warna hitam sudah mengambil alih warna putih di bola matanya.


"Maaf," aku hanya bisa menunduk pasrah.


"Kenapa kau menyembunyikan semua ini dari kami?" Mina berdiri dan menatap ku dengan mata iblisnya yang terbuka lebar.


"Maaf," satu kata yang terus keluar dari mulutku.


"Kaito, kamulah yang membunuh Raku ...," perlahan, Mina mendekat kepada ku.


"Hmm ... maaf ...," aku terus menunduk dan memanggil Ten Kara No Ken milikku. Aku menggenggam pisau itu dengan tangan kananku.


"Kaito, kau juga harus mati ...," Mina menghentikan langkahnya ketika jarak kami hanya sekitar tiga puluh setimeter. Aku berhadapan langsung dengan sahabatku yang menderita karena ulahku sendiri.


"Kalau begitu, lakukan lah ...," aku memberikan pisauku itu kepada Mina.

__ADS_1


"Baguslah kalau kamu mengerti." Ucapnya dengan tatapan kosong yang keluar dari mata iblisnya itu. Mina menerima pisau ku dan menggenggamnya kuat di tangan kanannya.


"Kau akan mati!!!" Teriakan Mina seraya bersiap menusukku. Aku mejamkan kedua mataku dan menyerahkan semuanya kepada sahabatku itu.


Apa aku akan mati?


Walau masih ada sedikit keraguan di dalam hatiku. Aku tetap percaya pada rencana awalku. Dan benar saja, beberapa detik berlalu, aku masih belum merasakan apa pun. Aku kembali membuka kelopak mataku dan melihat Mina menahan tangan kanannya dengan tangan kirinya. Mina menahan keinginan iblisnya untuk membunuhku. Aku yakin kekuatan hati Mina tidak selemah itu. Air mata mulai keluar dari mata merah menyalanya itu. Seperti yang ku inginkan, Mina tidak akan mau menyerangku.


"Kai-to ... lari!" Mina berusaha berbicara diluar kehendak iblis yang menguasainya.


"Mana mungkin aku meninggalkan mu payah ...," aku melangkah maju dan memeluknya. Orang bodoh mana yang akan lari meninggalkan sahabat satu satunya yang ku miliki saat ini.


"Kau ... Ingin mati ya?" Suara hati iblis yang keluar dari mulut Mina.


"Lebih baik aku mati di tangan sahabatku dari pada terus hidup di dunia yang busuk ini ...," aku memejamkan mataku dan terus memeluk Mina.


"Ka-i-to ... pergilah ... ku mohon." Air matanya mulai membasahi seragam sekolah ku.


"Maaf," aku membelai rambutnya dengan lembut. Sejak dulu, aku sudah menganggap Mina sebagai adik kedua ku setelah Hanabi. Selain karena nama depan Mina sama dengan milik adik ku. Dia adalah perempuan pertama yang akrab denganku.


"Kaito, aku tidak akan bisa menahanya lebih lama ...," Ucap Mina lirih.


Jrak!!!


Mina menusuk punggungku karena tangan kanannya sudah dikuasai kembali oleh sang iblis. Darahku mencucur keluar dan rasa sakit mulai menghantamku. Aku hanya memejamkan mata ku dan menahan rasa sakit itu.


"Kaito, apa kamu baik baik saja di dalam!"


"Kami akan masuk!" Suara Haru dan Kakume yang masih ada di luar kamar.


"Jangan, biar aku yang urus ini ...," jawab ku perlahan. Aku bisa merasakan darah mulai mengalir keluar membasahi punggungku ini.


"Mina ... aku minta maaf ...,"


"Aku minta maaf karena hanya kata maaf lah yang bisa ku katakan sekarang ini."


"Seharusnya ini tak terjadi kalau kita bertiga tidak berteman sejak awal."


"Ini semua salah ku."

__ADS_1


"Tak apa jika kau membunuh ku sekarang."


"Tapi, tentunya kau akan hidup sendirian ... kami berdua tak lagi ada di sisi mu."


"Apa kau mau itu?"


"Lagipula, aku yakin ... Raku masih hidup diluar sana."


"Kita belum tau pasti dia ada dirumah atau tidak saat itu."


"Kita juga belum melihat mayatnya ... aku yakin, dia masih hidup."


"Aku berjanji padamu, aku akan menemukannya dan membawanya padamu ... aku janji." Sial, darah ku terus mangalir keluar, aku tak lagi memiliki tenaga. Kesadaran ku sedikit memudar, dan pasti sebentar lagi aku akan jatuh tak sadarkan diri.


"Kaito, maaf ... maafkan aku!" Mina melepas pisau yang menancap di punggungku dan membalas pelukan ku.


"Kenapa kau masih di sini *****!"


"Aku sudah menyuruhmu pergi tau!"


"Dasar Kaitolol!" Umpatnya terus menangis di dalam pelukanku.


"Hmm, sudahku bilang aku tak akan meninggalkan mu sendirian."


"Kita bertiga adalah sahabat, bukan ... aku menganggap kalian sudah seperti keluarga sendiri."


"Kita saling berbagi kebahagiaan dan rasa sakit bersama."


"Jadi, jangan menyerah dulu, tetaplah hidup dan tunggu aku."


"Tunggu sampai aku menemukan Raku ... aku yakin dia masih hidup." Aku bisa merasakan Ten Kara No Ken yang menancap di punggung ku lenyap menjadi butiran cahaya.


"Mina, sekali lagi aku minta maaf ...,"ucap ku lirih. Pandangan ku mulai kabur dan tubuhku semakin berat.


Bruak!


Aku tersungkur di lantai dan tak bisa berbuat apa apa. Aku bersyukur Mina sudah terbebas dari kutukan iblis itu. Matanya sudah kembali seperti semula. Mina panik dan membuka pintu kamar ini. Haru dan Kakume masuk dan segera menghampiriku yang sudah tak bisa mendengar apapun.


Satu masalah selesai, aku tinggal menepati janji ku pada Mina ... walau sesulit apapun. Pasti akan ku tepati, pasti!

__ADS_1


__ADS_2