
"Waaaa?!! Serius kah?!!!"
Saika memaksaku untuk keluar dari mobil dan menarik tanganku seenaknya. Kami berjalan di tengah trotoar kota yang juga sangat padat ini. Aku sudah mengirim pesan pada Sora agar mobil yang kami tinggalkan tak mengganggu pengguna jalan lain.
Si mesum yang mengenakan Yukata Hitam itu menggandeng dan memimpin langkah kami maju ke depan. Perhatian pejalan kaki lainya pun tertuju pada Saika. Tentu, karena dia cantik, ditambah dia memakai Yukata dan berjalan di tengah keramaian malam ini.
"Oi oioi?! Saika apa kamu serius?!" Pekikku tetap mengikuti langkahnya.
"Kan tadi Senpai yang bilang aku boleh melakukan apa saja yang ku mau." Ujarnya tanpa menoleh sama sekali.
"Siapa yang ... oii!!" Sebelum aku menyelesaikan kalimatku Saika terpeleset dan hampir saja terjatuh. Untung aku bisa menariknya dan tetap membuatnya berdiri tegak.
"Auu ...," Saika memandang ke kakinya, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Kakinya pasti sakit jika berjalan jauh, apa lagi berlari.
"Saika? Ada yang sakit?" Tanyaku walau sudah tahu apa yang membuatnya berdiri membeku itu.
"Engga ...," Ia menggeleng dengan wajah datarnya itu.
"Oi? Jangan boong, kakimu sakit kan?" Aku berjongkok dan memastikan kedua pergelangan kakinya baik baik saja. Geta bisa jadi berbahaya jika digunakan untuk lari. Punggung kaki Saika sedikit tergores karena tali berlapis kain itu. Untung saja dia tidak mendapat luka yang parah. Aku kembali bangkit berdiri dan menggandeng gadis cantik nan mesum itu.
"Makanya, lain kali ... jangan seenaknya." Ujarku mengingatkanya sembari memasang wajah datarku.
"Masih kuat jalan?" lanjutku memastikan keadaannya.
"Hnm," si mesum itu hanya mengangguk tanpa sepatah kata pun. Tanpa basa basi lagi kami berdua pun melanjutkan perjalanan menyusuri trotoar kota yang ramai. Di sisi kiri hanya terlihat barisan mobil mobil yang sama sekali tak bergerak. Sisi kanan kami ada berbagai toko dan gedung gedung pencakar langit dengan gemerlap lampu yang meramaikan malam musim panas ini.
Suara deru langkah kaki ratusan orang yang lalu lalang seperti semut yang mencari makan. Suara mesin dan klakson kendaraan yang terjebak kemacetan total. Aku berjalan berdampingan dengan Saika menerobos keramaian malam ini. Beberapa kali aku mengambil ponsel lalu mengembalikannya kedalam saku celanaku lagi. Aku hanya mengecek waktu yang terus berjalan maju.
Saat ini sudah jam setengah delapan malam, dan acara puncak festival diadakan tepat pukul delapan malam. Ya, peluncuran kembang api. Itulah yang dinantikan oleh banyak orang termasuk aku sendiri. Sejak dulu aku merasa mengingat sesuatu ketika melihat kembang api yang bertebaran di langit malam yang penuh bintang.
Sepertinya aku akan mengingat potongan kenangan masa laluku jika pergi ke festival bersama Ai atau Saika. Gadis yang berjalan di samping kiriku ini adalah reingkarnasi Ame, seingatku, kami belum pergi ke festival musim panas bersama pada kehidupan yang lalu. Dan sekarang Tuhan memberikan kesempatan keduanya untuk hidup, dan bahkan memberikan apa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Saika, masih kuat kan?" Tanyaku di tengah langkah kaki kami.
__ADS_1
"Hnm," lagi lagi dia hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun. Setelah pertanyaan itu, tak ada komunikasi lagi diantara kami bedua. Aku terus menggandengnya dan melangkah menuju ke lapangan Natsu yang jaraknya tinggal beberapa ratus meter lagi. Dan terkejutnya aku ketika melihat jam di layar ponselku. Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam kurang lima menit lagi.
Hmm ... gak sempet ya?
"Saika, ano ... kayaknya kita ga sempet sampe ke sana, gimana?" Aku bertanya seraya menghentikan langkah kami.
"Ohhh ... gitu ya udah ...," Wajah datarnya itu membuatku lebih tenang karena ia tak terlihat sedih sama sekali.
"Kalo gitu ...," sebelum aku menyelesaikan kata kataku, genggaman tangannya seketika menjadi lebih kuat. Ia menunduk dan air mata menetes tepat di depan sepatuku. Tentu saja dia sedih, betapa bodohnya aku ini.
Astaga ... apa aku harus melakukan itu?!
"Saika, naik ke punggungku!" Aku berdiri membelakanginya dan sedikit membungkukan badanku.
"Se-senpai?"
"Ayo! Aku akan berusaha supaya kamu bisa melihat kembang api!" Aku beusaha meyakinkannya agar segera naik ke punggungku.
"Hmm," perlahan ia memeluk leherku dari belakang dan aku memegang bagian belakang kakinya dengan kedua tanganku. Setelah memastikan Saika siap aku segera berlari sekuat tenaga tanpa memikirkan apa pun. Aku menggendongnya di punggungku seperti tas ransel dan entah apa yang membuatku bisa berbuat demikian.
"Gak perlu tanya! Kamu maksa aku buat ngelakuin ini!" Aku terus berlari menerobos keramaian pejalan kaki lain. Tentu saja kami berdua mengambil perhatian seluruh orang yang melihatku berlari menggendong seorang gadis cantik sepertinya.
"Oi oi!"
"Wahh romantisnya!"
"Apa itu?!"
"Ha?! Apa mereka waras?!"
Suara pejalan kaki lain yang kami lewati. Tentu aku sama sekali tak mempedulikan mereka. Aku terus berlari sampai akhirnya masuk ke gerbang lapangan Natsu yang terbuka lebar. Aku masih berlari menyusuri tenda tenda penjual makanan dan souvenir yang berbaris rapi di kanan dan kiri jalan setapak ini.
Tempat ini sudah sangat sepi, karena semua orang berada di tengah tanah lapang untuk segera melihat peluncuran kembang api yang akan segera dilaksanakan beberapa detik lagi. Setelah menuruni tangga, kerumunan banyak orang sudah memenuhi lapangan ini. Aku segera menurunkan Saika dan mencoba untuk mengatur nafasku yang terengah engah ini.
__ADS_1
"Huff ... ternyata masih sempat ...,"
Cwushh!! Duar!!!
Di saat yang sama ledakan kembang api pertama terdengar. Dilanjutkan dengan kembang api berikutnya. Orang orang bersorak gembira memandang ke arah langit malam penuh bintang yang dihiasi warna warni kembang api. Aku pun mengangkat kepala dan menikmati indahnya langit malam ini.
"Senpai ... kenapa aku menangis?" Tanya Saika memandang ke atas dengan air matanya yang mengalir keluar. Bola matanya terlihat sangat indah karena memantulkan cahaya dari kembang api yang ada di langit.
"Hmm, mungkin kamu bahagia." Seketika rasa lelahku hilang saat melihat ke atas. Suasana yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, tapi aku merasa aku sudah pernah merasakannya. Tentu saja, aku pernah merasakan ini di kehidupanku yang sebelumnya. Pergi ke festival musim panas bersama seorang gadis, dan menikmati pertunjukan kembang api ini bersamanya.
"Senpai, apa aku boleh ...," Saika menggenggam tangan kananku dan menatapku dengan wajah tanpa ekspresi yang basah karena air mata itu.
"Apa?"
"Aku mencintaimu!" Pekiknya sembari memejamkan kedua matanya. Seketika suara letupan kembang api itu tak terdengar lagi. Waktu serasa berhenti begitu saja. Detak jantungku bahkan bisa aku dengar sendiri.
Apa dia menyatakan perasaanya?
"Apa Senpai mau jadi pacarku?" Ucapnya lirih tanpa memandangku sama sekali. Rona merah yang terpacar di pipinya itu semakin membuatku yakin kalau dia serius dan tidak main main.
Apa dia serius?! Seriuskah?!
"Maaf ... tapi ...," aku menolaknya, tentu aku menolaknya. Walau pun dia gadis pertama yang menbuatku jatuh cinta di kehidupanku yang lalu. Tapi hatiku tetap memilih Ai. Aku bingung harus berkata apa agar hatinya tak tersakiti, inilah saat yang paling aku benci.
"Umm ... aku tau kok! Senpai lebih memilih kakakku!" Aku melihat senyuman disertai air mata yang mengalir keluar dengan derasnya.
"Tapi aku tetap mencintaimu!" Seru Saika memelukku erat. Air matanya mulai membasahi jaketku ini. Aku membiarkannya menangis di dalam pelukanku. Aku membelai kepalanya lembut sembari memandang ke atas langit yang indah malam ini. Warna warni kembang api yang menghiasi malam musim panas ini, kebahagiaan yang menyelimuti. Semua orang tersenyum dan tertawa gembira, kecuali gadis yang ada di dalam pelukanku ini.
"Saika, terima kasih sudah mencintaiku ...," gumamku menikmati keindahan langit malam ini.
"Senpai *****!!" Saika melepas pelukannya dan memegang kedua sisi wajahku dengan tangannya. Ia menarik wajahku sampai bibir kami bersentuhan. Lagi lagi aku menerima kejutan malam ini, gadis cantik nan mesum ini menciumku di saat saat yang tak terduga.
"Senpai ... apa aku cantik?" Tanyanya lirih setelah melepas bibirnya dariku. Wajah kami yang hanya berjarak dua sentimeter ini membuatku bisa merasakan nafas lembutnya. Aroma parfum dan samponya selalu menusuk hidungku. Paras cantik dengan rona merah samar di pipinya. Bibirnya yang juga merah merona. Dia terlihat sangat berbeda malam ini.
__ADS_1
"Iya ...," satu kataku sembari menahan rasa gugup yang mulai menghantuiku.
"Kalau gitu ...," Saika kembali mengecup bibirku seakan masih belum puas dengan ciuman pertama tadi. Letupan kembang api kembali terdengar dan suara keramaian yang menyelimuti. Malam ini aku kembali menerima kejutan yang tak terduga.