Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 206


__ADS_3

"Dasar murahan ...,"


"Kamu merebut segalanya dariku!"


"Kak Hikaru lebih menyayangimu!"


"Ayah juga lebih memperhatikanmu!"


"Jahat! Kamu lebih cocok disebut setan!"


"Kamu merebut semuanya dariku!"


"Kau bukan adikku lagi!"


"Perempuan murahan!"


"Akan kubunuh kamu Saika!"


Semua kata kata itu terdengar sangat jelas di dalam kepalaku. Tak hanya itu, wajah Ai juga ikut terbayang di pikiranku. Bukan wajah manisnya, tapi raut muka penuh amarah dan air mata. Dan seketika aku tersadar dari alam mimpi buruk seperti neraka itu. Aku melirik ke segala arah, ternyata aku masih ada di dalam kamarku. Duduk di pinggiran ranjang sembari menggenggam tangan kanan Saika yang tertidur lelap.


"Apa itu?" Gumamku sembari memegang kepala dengan kedua tanganku.


"Maaf ... aku ... kakak," Saika sepertinya mengalami mimpi buruk sampai mengigau seperti itu. Dalam keadaan tidur ia berbicara sendiri dengan mata tertutup dan keringat yang membasahi pelipisnya.


Mungkin saja tadi aku melihat mimpi Saika. Jadi dia juga sudah berjuang melawan perasaannya sendiri. Si mesum ini ternyata memendam perasaan bersalahnya selama ini. Ia merasa sudah merebut semua dari kakak perempuannya itu. Padahal dia tak seharusnya menyalahkan diri sendiri. Ayah merekalah yang membuat ini semua terjadi.


Tak seharusnya Kazuki membedakan Ai dari yang lain. Tapi, aku juga tak sepenuhnya bisa menyalahkan Kazuki. Bagaimana pun juga, takdir selalu berusaha menghapus kata kebahagiaan di dunia ini.


"Hmm?" Aku baru sadar ada Hanabi yang sedang mengintip dari luar pintu kamarku yang terbuka lebar itu.


"He?! Maap maap!" Ucapnya perlahan dengan wajahnya yang memerah.


Tanpa basa basi aku melangkah keluar dari kamar lalu menutup pintu kamarku ini. Adik perempuanku itu malah salah tingkah. Mukanya yang memerah, ia sesekali menoleh ke kanan dan kiri. Ia juga memalingkan pandangannya dariku. Haa, seperti biasa, pikiran kotor selalu ada di dalam kepalanya. Dia pikir aku sudah menggunakan kesempatan tadi untuk ena ena.


"Hmm, jangan mesum dasar bocah." Aku mengusap kepalanya perlahan lalu menuruni tangga menuju lantai dasar.


"Heee!! Siapa bilang! Kak Kaitolol!" Umpatnya sembari mengejarku yang sudah menginjakan kaki di lantai dasar rumah ini.

__ADS_1


"Wah wah, apa ada yang kulewatkan?" Ujar Fuyuka yang baru saja membuka pintu depan rumah.


"Siscon ...," kata Munmei yang berdiri di belakan Fuyuka.


"Oi ... aku bukan siscon ...," sangkalku dengan wajah datar.


"Ya udah, aku siapin makan malam dulu ya!" Hanabi bergegas ke dapur untuk melaksanakan tugasnya.


"Hanabi! Aku bantu!" Teriak Munmei sembari menyusul Hanabi ke dapur.


"Fuyuka, apa kamu punya waktu?" Tanyaku kepada diriku dari Earth lain atau dunia paralel.


"Hmm, mau bicara? Ayo ikut aku," Ucap Fuyuka mengajakku keluar dari rumah. Aku pun segera mengikuti kemauannya dan berdiri di sampingnya. Kami berdua berada di teras rumah replika ini. Saat melihat ke atas, hanya ada besi dan lampu lampu yang berbaris. Hidup di dalam bunker bukanlah hal yang bagus.


"Mau lihat pemandangan di luar?" Fuyuka memejamkan matanya lalu lingkaran mantra sihir muncul di bawah kakinya. Kami berdua berada di atas lingkaran mantra atau Magic Circle.


"Cahaya dari surga, bawa kami ke tempat yang kuinginkan!" Fuyuka merapalkan mantra lalu tubuh kami diselimuti cahaya terang.


Tak lama kemudian sinar yang menyilaukan mata itu hilang dan kami sudah berpindah tempat. Aku terbelalak saat menyadari bahwa aku sedang berdiri di atas gedung SMA Asakura. Tapi, gedung sekolahku ini hanya tersisa setengah bagian saja. Setengah lagi sudah runtuh dan rata dengan tanah. Di wilayah Chizu ini, hanya bangunan ini saja yang masih berdiri.


Tempat ini sudah penuh dengan reruntuhan. Bahkan tak ada pohon yang masih berdiri. Semua benar benar hancur lebur. Dan aku tak tahu mengapa setengah gedung ini masih utuh. Pemandangan yang sangat menyedihkan, ditambah langit oranye di atas itu. Sang surya hampir tenggelam, setengah bagian tubuhnya sudah termakan oleh bumi.


"Huff ... begitulah ... ngomong ngomong, duniamu seperti apa?" Tanyaku seraya bersandar ke pagar yang ada di pinggiran atap ini.


"Ya, bisa dibilang hampir sama ... hanya saja di duniaku SMA ini adalah sekolah sihir. Sekolah dimana aku menderita." Jawab Fuyuka lalu duduk di atas atap sekolah ini.


"Dan kenapa Munmei ada di sini?" Lanjutku bertanya.


"Aku punya kemampuan spesial, kemampuan dimana aku bisa memanggil diriku atau pasanganku dari Earth yang lain." Sahut Fuyuka seraya menengadahkan kepalanya.


Jadi dia bisa memanggil Munmei, atau diriku yang lain. Kekuatan yang sangat hebat.


"Oh ya, di kehidupanku ... gimana ya jelasinnya. Aku tak sengaja memanggil Saika dan ...,"


"Ohh, ga perlu dijelasin ... Fuyuka, terima kasih sudah menjaganya." Ucapku menyela kalimatnya yang belum selesai.


Aku yakin di dalam kisah hidup Fuyuka. Dia tak sengaja memanggil Saika dengan kekuatannya. Dan aku tahu apa kelanjutannya. Mereka menjalani hari bersama lalu jatuh cinta. Setidaknya Saika memperoleh kebahagiaan di kehidupan Fuyuka.

__ADS_1


"Kaito, kau mau tahu pasanganku yang satunya?" Fuyuka menoleh padaku dan mengangkat alisnya tinggi-tinggi.


Seperti yang aku duga, kehidupannya tak jauh berbeda denganku. Ia mempunyai dua tokoh utama perempuan yang terikat tali cinta pada Fuyuka. Seperti sekarang ini Saika dan Ai jatuh cinta padaku. Jadi selain Saika Fuyuka juga punya satu gadis lain yang memperebutkan hatinya.


"Siapa?"


"Adikku sendiri ... Okino Minami," jawabannya itu sungguh membuatku terkejut.


Di-di-di kehidupanku yang lain ... aku jatuh cinta pada Hanabi?! Adikku sendiri?!


"Ya, hidupku lebih rumit dari yang kamu bayangkan, yah ... menurutku jutaan diri kita yang lain juga mengalami hal yang sama." Kata Fuyuka seraya kembali bangkit berdiri.


"Jadi, sekacau apa pun takdirmu ini ... jangan berhenti di tengah jalan, cepatlah selesaikan ceritamu ini." Fuyuka melangkah mendekatiku lalu menepuk pundakku.


"Hmm, mau ngucapin terima kasih ... tapi kamu kan diriku sendiri." Candaku dengan senyuman tipis.


"Oi oi ... bilang aja ga mau ngomong trima kaseh ... dasar Kaitolol." Sahut Fuyuka dengan wajah datar.


Boomm!!!


Ledakan besar terjadi tak jauh dari gedung sekolah ini. Ada sesuatu yang besar muncul dari dalam tanah. Ledakan besar itu menghasilkan debu yang menyelimuti benda besar di tengah wilayah reruntuhan Chizu itu.


"Apaan tuh?!" Tanya Fuyuka terkejut setelah mendengar ledakan besar tadi.


"Hahaha! Akhirnya aku muncul ke permukaan!" Suara pria menggema dari dalam kabut itu.


Dan aku baru sadar setelah kabut itu perlahan memudar. Aku melihat monster naga raksasa dengan total tinggi sekitar lima puluh meter. Ia memiliki empat kaki dengan cakar tajam, sepasang sayap besar di punggungnya. Di sayapnya terdapat lubang lubang bekas pertarungan yang pernah ia alami. Naga itu bersisik warna nerah menyala, mata kuning dengan garis hitam ditengahnya. Monster itu juga memiliki taring tajam dan gigi gigi raksasa yang terlihat ketika dia membuka mulutnya. Panjangnya hampir empat ratus meter, dengan tubuh seperti itu, dia bisa dengan mudah menghancurkan kota.


"Devil King?!"


Aku tersentak ketika melihat Devil King bisa muncul ke permukaan bumi ini. Dia adalah monster yang membunuhku, bersama dengan Yume di salah satu kehidupanku yang dulu.


"Haaa?! Kenapa di sini juga ada naga!!!??" Fuyuka memegang kepalanya dengan kedua tangan karena sangat terkejut.


"Hati hati ... dia ... sangat kuat," ujarku memperingatkan Fuyuka.


"Kaito?! Kau?!" Fuyuka heran ketika melihat raut wajahku.

__ADS_1


Ya, keringat dingin keluar di pelipisku. Aku takut, aku pernah menghadapinya sekali. Dan hampir kalah, padahal saat itu aku melawannya bersama Ai dan Saika. Bahkan kekuatan mode Fate Breaker milikku tak bisa menyaingi dia.


"Cih ... kalau kau sampai bilang begitu ... maka dia memang kuat."


__ADS_2