Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 175


__ADS_3

"Oi! Kaito! Tunggu dulu!" Suara seorang gadis tiba tiba menarik tangan kananku. Aku berbalik karena penasaran akan siapa yang menghentikan langkahku ini.


"Ha? Sora? Kenapa?" Aku mengangkat alisku tinggi tinggi karena bingung.


"Oi? Kamu pikir mau kemana sama luka itu ha?" Sora menunjuk ke arah perutku yang memang terluka parah.


"Ohh iya," jujur saja aku merasakan rasa sakit yang luar biasa karena luka ini.


"Jangan gerak!" Pinta Sora sembari mengarahkan kedua telapak tangannya ke perutku. Aku terkejut karena tiba tiba telapak tangannya bercahaya. Dan perlahan kelima luka tusukan di perutku lenyap. Bukan hanya itu, kemejaku yang tadinya berlubang karena cakar Akame raksasa itu, sekarang kembali seperti semula. Bahkan bekas darahnya pun menghilang.


Heal? Ternyata Sora juga memiliki kekuatan spesial.


"Oi? Sejak kapan kau punya kekuatan seperti ini?" Tanyaku bingung.


"Hmm," Sora hanya diam sampai proses penyembuhanku selesai.


"Sekarang kau mau kemana?" Dia malah bertanya sebelum menjawab pertanyaanku sebelumnya.


"Ketemu Raku, apa kau mau ikut?" Aku menepuk-nepuk perutku sendiri memastikan sudah tak ada luka yang tersisa.


"Apa boleh?"


"Kalian!! Angkat tangan!!" Tiba tiba sebuah mobil polisi berhenti di tengah jalan dan dua orang polisi keluar. Mereka menodongkan pistol mereka kepada kami. Dan sekarang aku ingat, Shogun bekerja sama dengan pemerintahan dan tentu polisi berada di pihak Shogun.


"Ada apa ini? Apa kami melakukan kesalahan?" Aku berdiri di depan Sora untuk melindunginya dari bahaya yang bisa saja terjadi.


"Kami melihatmu menggunakan senjata api tanpa izin!" Seru polisi botak yang berdiri di sebelah kanan.


"Sekarang kalian ikut kami ke kantor!" Seru temannya yang perutnya sedikit buncit itu.


Tak lama kemudian sebuah mobil SUV berlapis baja berhenti di belakang mobil polisi itu.


"Kalian! Segera naik!" Seru seorang tentara bersenjata dan berarmor lengkap yang keluar dari mobil lapis baja itu.


"Sora, kirim pesan ke Fumio!" Bisiku pada Sora yang berdiri di belakangku.


"Hoi!! Berikan semua alat komunikasi kalian!!" Kedua polisi itu menghampiri kami dan merampas ponsel kami. Tak lupa pistol dan pisauku pun mereka amankan. Dan sekarang kami berdua sudah tak bisa berbuat apa-apa. Kami pun hanya diamdan mengikuti arahan mereka untuk masuk ke mobil lapis baja itu. Setelah masuk kedalam mobil lapis baja, kami duduk berseberangan di kursi yang ada di sisi kanan dan kiri mobil ini.


Tak ada jendela atau apa pun yang bisa membantu kami melihat keluar. Terdapat semacam dinding baja yang membatasi antara tempat duduk pengemudi dan tempat duduk kami. Di langit langit mobil hanya ada satu kotak lampu kecil yang memberi kami sedikit pencahayaan.


"Huff, Sora? Apa tadi kamu sempet kirim pesan ke Fumio?" Tanyaku sembari menyandarkan punggungku.


"Hmm," lagi lagi ia hanya diam dan mengangguk menanggapi pertanyaanku. Sepertinya dia bukan takut karena ditangkap, tapi ada sesuatu yang membuatnya seperti itu.


"Oi? Kamu ga apa apa kan?" Lanjutku memastikan keadaannya.


"Maaf ini semua salahku," ucapannya yang membuatku mengerutkan dahi.

__ADS_1


"He?"


"Inilah kenapa aku tak ingin keluar dari kantor."


"Aku selalu saja membuat orang jatuh dalam masalah."


"Maaf, aku hanya pembawa sial," kata-kata tak jelas yang Sora lontarkan.


"Hoi? Teori dari mana itu?" Tanyaku bingung.


"Kau ingat pertama kali aku datang ke rumahmu?"


"Aku pasti datang membawa masalah." Kedua mata gadis tomboy itu sudah berkaca-kaca seakan menahan air matanya yang hendak keluar itu.


Kalau dipikir iya juga, ketika ia datang kerumah. Tiba tiba Shogun datang menyerang. Dan sekarang pun begitu, saat Sora menghampiriku, kami malah ditangkap Shogun.


"Itu cuma kebetulan, mana ada orang yang bawa masalah?" Aku mencoba memberinya sedikit keyakinan.


"Tapi ...," Sebelum Sora menyelesaikan kalimatnya, mobil yang kami tumpangi tiba tiba berhenti. Dan tak lama kemudian pintu keluar terbuka.


"Kalian keluar cepat!" Perintah tentara itu sembari menodongkan senapan laras panjangnya pada kami.


Tanpa basa basi kami pun keluar dan melihat ke sekeliling. Tempat ini seperti parkiran bawah tanah yang ada di mall. Tempat yang luas disertai banyak penyangga yang terbuat dari beton. Di langit langit juga terdapat banyak lampu penerang. Mobil tentara yang barusan membawa kami itu langsung melaju ke pintu keluar yang terbuka. Tapi tak lama setelah mobil lapis baja itu keluar, pintu besi perlahan menutup jalan keluar itu.


"Hmm? Tempat apa ini?" Gumamku terus melihat sekeliling dan tetap waspada.


"The Key?!" Aku terkejut, tapi tak terlalu terkejut mendapati laki laki yang seluruh tubuhnya dibalut perban itu. Ia memakai jubah hitam dan celana pendek hitam. Dia juga tak mengenakan alas kaki, The Key benar benar tak menunjukan warna kulitnya sedikitpun karena perban yang benar benar menutupi jati dirinya itu sepenuhnya.


"Kaito, apa kau sudah mengetahui sedikit tentang kehidupan masa lalumu?" The Key menghentikan langkahnya ketika kami hanya berjarak beberapa meter.


"Cih! Shinjiro! Apa itu kamu!" Aku langsung saja menyebut nama dewa kematian yang berusaha membunuhku di setiap kehidupan yang aku jalani.


"Wah wah wah, ternyata kau sudah tau sejauh itu." Ujarnya sembari tepuk tangan dengan santainya.


"Hmm, mau apa kau membawa kami ke sini?" Aku memanggil Ten Kara No Ken dan menggenggam pisau itu kuat di tangan kananku.


"Santai dulu, aku hanya ingin mengajakmu bergabung denganku." Lagi lagi ia mengatakan hal itu.


Sebenarnya apa maksudnya dengan bergabung?


"Tunggu, apa maksudnya dengan bergabung?!" Pekikku penasaran dan berusaha tetap memasang mataku padanya.


"Kau tau, aku sudah lelah memburumu jutaan kali."


"Sejak aku berhasil membunuhmu di Eden waktu itu."


"Sang Pencipta memintaku untuk terus memburu kalian."

__ADS_1


"Aku lelah, aku tak bisa bebas dari perintah God."


"Apa kau mau bergabung denganku untuk melawannya?" Kali ini aku baru terbelalak mendengar penjelasannya.


"Ha?! Apa yang kau pikirkan?! Apa kau sudah tak waras?!" Itu pasti hanya omong kosongnya saja.


"Hahaha, sudah kuduga kau akan begitu, hatimu itu memang masih bersih."


"Walau God sudah tidak menganggapmu sebagai anak."


"Tapi kau masih saja tak mau membantuku melawannya." Shinjiro perlahan membuka perban yang membalut seluruh kepalanya itu.


"Apa kau masih mengingatku?" Ujarnya setelah membuka perban yang menutupi seluruh kepalanya itu.


Laki laki tinggi nan gagah. Rambut putih dan bola mata kecoklatannya. Dan kulitnya yang eksotis itu. Dia sama seperti laki laki yang kulihat dalam mimpi. Shinjiro yang memenggal kepala Munmei tepat di depan mataku.


"Shinjiro! Sudah kuduga!"


"Kaito, kuharap kau bisa mengalahkanku di kehidupanmu yang ini." Shinjiro melempar senyum tipisnya padaku.


"Shinjiro-sama, saatnya pergi!" Suara seorang gadis yang sama sekali belum aku dengar sebelumnya.


"Humm, baiklah, Kaito aku pergi dulu. Perburuanku masih panjang." Ucapnya tiba tiba lenyap seperti hantu, lagi.


Jrak!!!


"Aaah ...,"


Saat aku mengalihkan perhatianku pada Sora, punggungnya sudah tertusuk sebilah pisau. Aku berbalik dan bersiap dengan Ten Kara No Ken atau pisauku ini. Dan lagi-lagi kejutan, seorang pria dengan hoodie hitam, dan celana panjang warna hitam pula. Seluruh kulitnya dibalut oleh perban sama seperti Shinjiro tadi. Tinggi dan postur tubuhnya mirip dengan Shinjiro.


Dia?! Bukannya The Key yang kutemui di lapangan Natsu kemarin?!


Tunggu?! Apa dia bukan Shinjiro?! Seingatku dia pernah menunjukan bola mata hijaunya. Lalu, berarti, The Key bukan satu orang?!


"Kaito, apa kau pikir kau akan lepas dengan mudah?" Ia datang sembari menyeret pedangnya.


"Sora!? Sembunyi!"


Swush!!! Jrat!!!


Mataku terbuka lebar, tubuhku seakan membeku. Aku melihat The Key menusuk jantung Sora menggunakan pedangnya. Darah merah segar memuncrat keluar membasahi perban yang membalut tubuh The Key itu.


Apa?! Itu?! Tadi?!


"Hahahahaha!!" Tanpa rasa bersalah sedikitpun ia mencabut pedangnya itu dan membiarkan tubuh Sora jatuh tersungkur di atas tanah.


"Mana mungkin?!"

__ADS_1


__ADS_2