Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 28


__ADS_3

Kaito


Hari minggu, hari yang paling menyenangkan sekaligus hari yang paling menjengkelkan. Menyenangkan saat menjalani hari libur ini dengan santai. Tapi menjengkelkan saat menyadari hari esok aku harus menghadapi pelajaran yang membosankan lagi di sekolah.


Hari ini aku sengaja keluar dari rumah untuk menikmati udara di musim semi ini. Walau bunga sakura belum bermekaran tapi musim semi kali ini aku mendapat hal yang sama sekali tak terpikirkan olehku.


Aku di datangi malaikat rambut putih dan ia menunjukan hal hal tak masuk akal di dunia ini. Ditambah aku bertemu tiga gadis yang sama sekali tak di bicarakan oleh Yume.


Karena tak tahu harus melangkah kemana lagi. Aku memutuskan untuk pergi ke sungai mabuta tempat pertama kali aku bertemu manusia yang dikuasai iblis malam itu.


Aku duduk di kursi kayu panjang yang ada di pinggir aliran sungai yang deras itu. Aku hanya duduk dan memandangi langit yang perlahan berubah warna menjadi oranye. Suara deras nya aliran sungai dan angin yang bertiup ke sana kemari membuat hatiku sedikit lebih tenang.


"Hei ... apa aku boleh duduk di sini?" Tanya seorang laki laki dengan rambut hitam yang gaya rambutnya hampir sama sepertiku.


Gaya rambutnya memang sama, tapi dia terlihat lebih rapi. Bola mata hitam dan tubuh tingginya itu, seperti nya aku pernah melihatnya di sekolah.


"Hmm ...," aku hanya mengangguk tanda mempersilahkannya duduk di samping ku.


"Makasih ...," ucapnya lalu duduk di samping ku.


"Tunggu ... apa kamu anak SMA Asakura?" Lanjutnya bertanya.


"Hmm ...," aku kembali menganggukan kepala ku dan tetap memandang ke arah langit sore.


"Ohh ... aku Shinobuya Shou ... ketua OSIS di sekolah."


Pantas saja aku merasa pernah melihatnya, ternyata dia sang ketua OSIS yang sering dibicarakan itu.

__ADS_1


"Aku Okino Kaito, anak kelas dua A," ucapku memperkenalkan diri.


"Ohh ... apa kau juga datang kesini karena ada masalah?" Tanyanya sembari mengarahkan pandangannya ke langit juga sepertiku.


"Kau tau ... aku juga sering ke sini kalo ada masalah ... huff," kata Shou seraya menghela nafasnya.


Hmm, jadi ini tempat favorit para sad boy ....


"Ya sudah ... giliran ku selesai ... sampai jumpa lagi ...," aku pun berdiri dan kembali melangkah untuk kembali ke rumah.


"Oke ... hati hati," kata Shou.


Langit yang masih berwarna oranye. Jalanan yang sunyi dan sepi. Aku bisa mendengar langkah kakiku sendiri. Bahkan detak jantungku sendiri. Aku tak berhenti mengingat kejadian yang baru baru ini ku alami.


"Aaaaaa!!!"


"Tolong!!"


Sial!! ... ternyata suara teriakan itu adalah suara Ai yang ketakutan karena melihat manusia yang sudah dikendalikan oleh iblis. Ai sedang berdiri terpaku sembari memeluk sebuah novel.


Iblis yang kali ini berbeda. Jantungnya sudah tak berwarna merah darah lagi. Jantung yang ada di dada pria itu berwarna oranye dan bersinar terang. Yang ada bukan lagi retakan, tapi seperti akar yang memusat di jantung iblis itu. Akar itu memiliki warna seperti merah darah.


"Ai!!!" aku berlari dan berhenti di depan Ai.


Aku tak akan membiarkan iblis itu menyakiti temanku apapun yang terjadi.


"Kaito ... itu adalah Akame ... dia bukan manusia lagi ... dia seperti Zombie ... cepat bunuh dia!" Suara Yume dari dalam kepalaku.

__ADS_1


"Kaito!?"


Di saat yang sama cahaya kembali berkumpul di atas telapak tanganku dan aku kembali menggenggam pisau dari surga ini.


"Graarrk!!"


Akame itu berlari ke arahku dengan sangat cepat. Walau sebenarnya aku ketakutan. Tapi perasaan itu tak ada gunanya sekarang.


Sang Dewa ... tolong pinjamkan lah kekuatan mu sekali lagi ...


Bilah pisauku pun memanjang dan menjadi pedang yang bercahaya putih terang.


Jrak!!!


Aku menusuk jantung Akame itu tepat sebelum dia menerkamku. Ujung bilah pedangku menembus tubuh monster itu seperti aku menusuk penghapus dengan sebuah pensil. Akame itu memang sudah tak tampak sisi kemanusiaan nya. Jadi ini akibatnya kalau kutukan itu dibiarkan begitu saja.


Tak lama kemudian Akame yang telah ku tusuk jantungnya itu perlahan meleleh dan menjadi cairan berwarna hitam pekat. Lalu Akame itu sepenuh nya meleleh dan hanya menjadi cairan hitam yang ada di atas aspal jalan.


Dan di saat yang sama cahaya pedangku juga memudar. Dan sekarang yang di tangan kananku hanyalah pisau biasa. Aku membalikan badanku dan melihat Ai terpaku melihatku dengan wajahnya yang ketakutan itu.


Tang!!!


Aku menjatuhkan pisau ku dan memeluknya. Entah apa yang aku pikirkan tapi aku sangat ingin memeluknya sekarang ini.


"Ka-Kaito?! ... apa itu tadi?" Ai meneteskan air matanya ke jaket hitam yang aku pakai ini.


"Aku gak tau ... yang penting kamu gak apa apa kan?"

__ADS_1


__ADS_2