
Klek! Clack!
Aku mengisi ulang peluru pistolku dan siap untuk bertarung kembali. Kami berempat menumpangi mobil sedan berkecepatan lebih dari seratus lima puluh kilometer per jam di jalan raya. Takumi terlihat tegang dan keringat dingin mulai keluar di pelipisnya. Aku yakin dia tidak panik karena musuh yang mengejar, tapi dia hanya takut pertarungan ini bisa melukai Hanabi.
Bukan hanya dia, aku saja mulai tegang karena melihat sorot lampu mobil yang mengejar kami dari kaca spion yang bisa kulihat dengan jelas.
"Ai, Hanabi! Terus menunduk dan jangan perlihatkan kepala kalian!" Pintaku karena melihat moncong senjata api keluar dari jendela mobil sedan putih yang mengejar kami.
"Kaito, tembaki mereka!" Perintah Takumi sembari terus mengendalikan mobil ini.
Saat mendengar perintahnya, aku membuka jendela pintu mobil yang ada di sebelah kiriku lebar lebar. Sebelum menjalankan aksi ku, aku melihat ke depan sejenak untuk memastikan tak ada mobil mobil yang akan mengganggu. Untung saja, sepanjang jembatan ini sepi dan hanya terlihat sorot lampu jalan yang menambah keteganganku.
Aku segera mengeluarkan separuh tubuh ku keluar lubang jendela dan menghadap ke belakang. Aku mengacungkan pistol ku ke mobil orang-orang pemerintah itu. Jari telunjuk ku menarik pelatuk dan beberapa peluru keluar disertai kilatan api dari ujung pistol ku ini. Aku berhasil membuat tiga lubang kecil di kaca depan mobil yang mengejar kami. Tapi aku yakin mereka akan membalas seranganku.
Dan benar saja, orang bersetelan jas hitam dan memakai kacamata hitam pula. Ia mengeluarkan kepala dan kedua tangannya dari jendela mobil. Dan yang membuatku panik adalah, dia membawa senapan mesin laras panjang yang pastinya lebih berbahaya dari pistolku. Sontak aku pun memasukan kembali kepalaku ke dalan mobil dan menundukan kepala.
"Awas kepala kalian!" Teriakku.
Tratatatata!!!
Suara tembakan beruntun keluar dan beberapa lubang mulai muncul di kaca belakang mobil yang kami tumpangi. Setelah beberapa saat, serangan mereka berakhir. Aku menoleh ke belakang dan mengecek keadaan para gadis.
"Kalian baik baik saja kan?" Tanyaku panik.
__ADS_1
"Ya ...," jawab Ai terus memeluk Hanabi.
"Kakak! Siapa mereka? Aku takut!" Hanabi mulai meneteskan air matanya.
"Cih, gimana ini?!" Takumi juga mulai kehabisan ide.
Dan di saat yang sama, mobil orang pemerintahan itu menghantam bumper belakang mobil kami. Guncangan hebat pun terjadi, retakan timbul di kaca belakang mobil. Tangisan Hanabi semakin kuat. Aku pun memutar otakku untuk segera keluar dari situasi ini.
"Takumi!? Gimana kalau aku lompat keluar dan mengalihkan perhatian mereka?"
"Mungkin kalian bisa kabur ...,"
"Tidak! Itulah keinginan mereka, aku yakin ada orang yang menunggu kita di ujung jembatan nanti!" Teriak Takumi menolak rencanaku mentah mentah.
"Hmm, gitu kah?" Aku membongkar perban yang mengikat kepala dan menutupi mata kiriku ini. Perlahan aku membuka mata kiriku dan kembali bisa melihat dengan jelas.
"Hmm, sepertinya ...," aku langsung berubah ke mode Light Chaser. Cahaya terangku ini mulai mengusir kegelapan dari dalam mobil ini.
"Heh?! Apa yang ada di otakmu ha?!" Takumi memalingkan pandangannya karena cahaya tubuhku menyilaukan matanya.
"Light Speed!"
Aku berteleportasi keluar dari mobil. Aku berdiri mencegat mobil pemerintahan itu, tanpa basa basi aku menahan bumper depan mereka menggunakan tinju tangan kananku. Mobil mereka terlempar ke atas langit sebelum akhirnya berguling guling di tanah. Dengan kecepatan cahaya aku kembali ke tempatku semula. Aku duduk di kursi samping Takumi yang sedang memfokuskan matanya ke jalanan di depan.
__ADS_1
"Satu beres," ucapku kembali ke tubuh manusia biasaku. Aku kembali mengambil pistol yang tadiku letakan di atas dashboard mobil.
"Yang di depan itu giliranku!" Kata Takumi menunjuk ke arah beberapa mobil baja yang memblokade ujung jembatan yang akan kami lalui.
"Pegang setirnya Kaito!" Takumi menonjolkan kepala dan tangan kanannya keluar dari jendela. Aku pun menjaga roda kemudi mobil ini agar tetap berjalan lurus ke depan dengan satu tanganku.
"Dark Ball!!!" Energi kegelapan berkumpul di depan telapak tangannya, tak lama kemudian bola hitam kemerahan itu melesat ke arah orang-orang pemerintahan itu.
Dar!!!
Ledakan itu membuat mobil mobil baja besar itu terlempar dan membuka jalan bagi kami. Takumi kembali memegang kendali penuh mobil ini dan menancap gas dalam dalam. Kami berhasil melewati blokade jalan di ujung jembatan tadi. Tapi mungkin ada tantangan selanjutnya yang menunggu kami.
"Haha! Yo! Kita lolos!" Takumi kegirangan dengan seringai senyumnya itu.
"Apa kau yakin?" Tanyaku pesimis sembari tetap waspada menggenggam pistol di tangan kananku.
"Tentu saja ...," sebelum Takumi menyelesaikan kalimatnya, ban depan kami meletus dan membuat Takumi kehilangan kendali atas mobil ini. Sayangnya kami sedang berada di jalan pendakian, sisi kanan dan kiri kami hanya pagar pembatas yang menghalangi kami jatuh ke jurang. Tapi aku yakin dengan kecepatan seperti ini, pagar pembatas jalan itu pasti jebol.
Ciiittt!!! Bruak!!!
Dan benar saja, kami menembus pagar pembatas dengan mudah dan terjun ke jurang yang dalam. Mobil kami mulai berguling guling dan aku tak lagi bisa berpikir jernih. Hanya berputar, suara kaca yang pecah, jantung yang berdebar kencang. Aku bisa melihat kaca spion mobil ini terlepas. Kaca depan mobil ini bukai retak seiring mobil ini berguling. Tak lama kemudian kaca depan pun pecah berkeping keping. Suara teriakan Hanabi dan Ai masuk ke lubang telingaku. Aku ingin semua ini cepat berakhir dan melihat keadaan mereka. Tapi takdir terus membuat mobil kami berguling menuruni tebing curam.
Brak!!!
__ADS_1
Mobil ini berhenti bergerak saat menghantam pohon besar yang ada di sisi kanan mobil. Suasana pun menjadi sunyi sejenak. Hanya terlihat sorot lampu mobil kami yang masih menyala terang. Kap mesin mobil ini sudah hilang dan terlihat mesin yang mengeluarkan kepulan asap putih tipis. Aku bisa merasakan cairan hangat mulai mengalir dari pelipis kiriku. Ini pasti darah. Aku bisa mencium aromanya. Kepalaku juga terasa sakit dan pusing, pandanganku sedikit kabur.
"Hanabi? Ai? Kalian tak apa?" Tanyaku lirih dan berusaha menoleh ke belakang.