Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 74 •Bunga yang gugur


__ADS_3

Dua tahun lalu ...


------------------


Takumi


"Kakak? ... kakak pasti capek ya?"


Cahaya yang memancar masuk melalui jendela yang terbuka lebar. Bau obat obatan, suara bising dari luar ruangan. Aku duduk di bangku yang ada di samping ranjang rumah sakit adik perempuanku. Aku tertidur dan meletakan kepala ku di pinggiran ranjang adikku.


Tangan lembutnya itu mengusap kepalaku perlahan. Aku pun membuka mataku dan mengangkat kepalaku. Rambut hitam panjang yang terurai, bola mata hitam yang memantulkan cahaya. Wajah imutnya, tubuh kecilnya itu. Selang infus yang menancap di punggung tangan kanannya. Dia duduk di ranjangnya dan memandangku dengan senyuman manisnya di pagi hari.


"Kak Takumi ... terima kasih untuk malam ini ...," kata kata yang selalu ia ucapkan setiap pagi untukku.


Akiba Hana, gadis yang menderita penyakit yang tidak dikenal. Aku sudah membawanya ke berbagai rumah sakit dan meminta anggota Demon Hunter yang memiliki kemampuan Heal untuk menyembuhkannya. Tapi semua itu sia sia saja. Dia tetap terbaring lemas di ranjang tanpa bisa berbuat apa apa.


Aku sampai menjual rumahku untuk membayar biaya rumah sakit adikku. Gajiku di Demon Hunter juga aku gunakan untuk hidup dan membiayai adikku ini. Tapi itu semua tidak ada apa apanya dibanding dengan kesembuhan Hana. Aku hanya ingin membuatnya kembali merasakan kebahagiaan yang sudah ia lupakan.


Aku ingin dia kembali berjalan, aku ingin dia kembali melompat kegirangan. Aku ingin melihatnya tertawa lepas di taman bunga. Semua akan aku korbankan demi kebahagiaan adik perempuanku ini. Setiap malam aku membunuh para Akame dan membebaskan kutukan iblis dari orang orang.


Aku terus berjuang demi menghidupi adikku ini. Aku berhenti dari sekolahku untuk mengurangi pengeluaran. Aku menghemat uang ku untuk membayar biaya rumah sakit adik perempuanku.


"Kak? ... kok ngelamun?" Tanya Hana ketika melihatku terpaku melihatnya.

__ADS_1


"Ohh ... gak kenapa napa kok ...," jawabku melempar senyumku padanya.


Greek~


"Halo halo ... Takumi! Hana! ... selamat pagi!" Sapa seorang gadis yang tiba tiba membuka pintu ruangan rumah sakit adikku ini.


Gadis yang memakai seragam warna putih dan rok pendek warna biru. Rambut putih yang terurai dan mata coklat. Tubuh proposional dan kulitnya yang sedikit kecoklatan. Aku sering menyebutnya si gadis eksotis dengan mata elang. Dia adalah rekan satu timku di Demon Hunter. Dan juga teman satu satunya di tim DH nomor 12. Sebagian anggota kami sudah gugur dalam pertempuran. Kami berdua memutuskan untuk tak menambah anggota.


Sudah cukup, kami tak ingin kehilangan teman lagi. Kami berdua saja sudah cukup kuat untuk menghadapi ratusan Akame. Namanya adalah Shizuta Renai. Aku memanggilnya dengan sebutan Ren.


"Hua ... Hana-chan ... kamu dah bangun rupanya ...," Ren masuk ke ruangan dan berdiri di samping kananku dengan membawa sekantong plastik yang berisi buah buahan.


"Pagi kak Ren ...," Hana kembali melempar senyumnya itu.


"Waah ... apel!" Hana mengambil sebuah apel dari dalam kantong plastik itu dan langsung menggigitnya.


"Ren ... makasih ... jadi gak enak ngerepotin kamu terus ...," aku menggaruk kepalaku dan tersenyum tipis pada Ren.


"Ha? ... apaan sih Takumi ... kita kan udah temenan lama banget ... adikmu itu juga adikku tau," ujar Ren memukul kepalaku perlahan.


"Eh iya ... apa kalian udah pacaran?",l Tanya Hana sembari menggenggam apel merah di tangan kanannya itu.


"He?! Mana mungkin!" Kami menyangkal serentak dan saling memalingkan pandangan kami.

__ADS_1


"Hahaha ... kalian memang cocok tau ...," Hana kembali menggigit apel yang ada di tangannya itu.


"Cih ... siapa juga yang mau pacaran sama cewek ganas kaya dia ..."


"Dasar cowok gak guna!!!",


Bruak!!!


Ren memukul kepalaku dengan sangat keras membalas ejekanku tadi.


"Hahaha ...,";Hana tertawa geli karena melihat aku dan Ren bertengkar.


Tawa imutnya itu membuat pagiku lebih bersemangat. Tanpanya aku hanyalah kesatria tanpa pedang dan perisai. Aku pasti akan mati, dan aku tak akan membiarkan takdir merebut nyawa seseorang lagi dariku. Aku sudah muak melihat nyawa temanku di cabut oleh takdir tepat di depan mataku.


"Kakak? ... malam ini kalian akan kembali bertarung kan?" Tanya Hana.


"Pastinya! ... kakakmu itu lemah ... dia masih butuh banyak lawan untuk membuatnya lebih kuat," ujar Ren.


"Jangan sampai Lock lagi Ren ... aku bosan terus menggendongmu ...," aku memasang wajah malasku.


"Siapa juga yang mau di sentuh sama cowok mesum kaya kamu!" Ren melipat tangannya di depan dada dan memasang wajah kesalnya.


Shizuta Renai, Tenshi yang memiliki kekuatan unik. Dia bisa memanggil senjata apa pun dengan sihirnya. Tapi dia hanya bisa menggunakan senjata jarak jauh seperti senapan dan sejenisnya. Jika dia bertarung dengan serius dia akan memanggil panah cahayanya. Kekuatannya sudah tak diragukan lagi. Satu anak panahnya bisa menembus bukit sekalipun.

__ADS_1


Jujur saja, dengan adanya dia bersamaku. Aku sedikit merasa terbantu. Kami bisa menyerang musuh dari jarak jauh terlebih dahulu sebelum aku bisa menyerangnya secara langsung. Tapi aku juga sering kerepotan saat Ren mengalami Lock. Dia pasti pingsan dan kehilangan kesadarannya untuk sementara. Hampir setiap malam aku menggendongnya untuk kembali kerumahnya.


__ADS_2