
"Cih,"
Aku berdiri di pinggiran Helipad atau tempat mendaratnya helikopter atas gedung tempat aku biasa bertemu dengan Dai dan juga Kazuki. Aku berdiri dengan santai menyembunyikan kedua tangan ku ke dalam saku jaket hitam ku ini. Angin di akhir musim semi ini menerpaku dengan kesejukannya. Rambut oranye ku ini mengikuti arah angin kesana kemari. Aku menarik ponsel dari dalam saku jaket kananku. Aku menelepon asisten pribadiku alias anggota Divisi Cyber yang bekerja hanya untukku.
"Selamat siang Takumi-sama ... ada masalah apa lagi?" Suara seorang gadis yang mengangkat teleponku.
"Kali ini, benda apa yang akan ku hancurkan?" Tanyaku tanpa basa basi.
"Hmm, seperti biasa, The Flying Fortress." Satu kalimatnya itu cukup menjawab semua pertanyaanku.
"Ne, Takumi-sama ... apa kamu tidak kelelahan?" Pertanyaan yang selalu ia tanyakan padaku.
"Hmm, Sayaka ... aku harus lebih kuat demi adikku ...,"
"Aku tak peduli walau aku hanya dianggap senjata mematikan, justru itulah yang ku inginkan." Jawaban dan alasan yang selalu ku berikan pada Sayaka Miyoki, asisten pribadiku sejak aku bergabung di DH.
"Apa kau akan pakai Hell Breaker lagi?" Lanjut Sayaka bertanya.
"Mau gimana lagi, lagi pula disana ada Kaito kan?" Jawab ku santai walau mengetahui resiko besar di balik kekuatanku itu.
"Hmm, ternyata kau sudah tahu tentang jebakan itu ya?" Ujar Sayaka.
"Hmm, Shogun mengincar Saika dan Kaito sekaligus." Aku mengangguk lalu menengadahkan kepala ku.
"Mereka sedang berada di benua China, sebentar lagi Kaito dan Taki akan berhadapan dengan pasukan udara dalam jumlah besar itu." Jelas Sayaka.
Flying Fortress adalah pesawat super besar yang memuat puluhan pesawat jet dan juga helikopter tempur. Bentuknya hampir sama dengan kapal induk, hanya saja mereka memiliki empat baling baling di masing masing sudut dan jet pendorong berdiameter lebih dari seratus meter di bagian belakang. Shogun memiliki sesuatu yang tak dimiliki oleh DH ataupun Enjeruhanta. Organisasi yang belum banyak kami mengerti. Sejauh penyelidikan intel DH ataupun Detroit pengintai, tak ada yang bisa menemukan petinggi ataupun pemimpin Shogun. Yang kami tahu mereka adalah kaki tangan orang penting di dunia ini.
"Sayaka, terima kasih ... nanti ku hubungi lagi ...," ucapku lalu memutus sambungan telepon kami. Tak lama kemudian helikopter militer dengan warna silver dan logo DH di bawahnya mendarat dari atas langit dengan suara bisingnya itu. Aku hanya diam dan menunggu sampai kaki helikopter itu menyentuh dataran Helipad. Suara bising dan angin kencang ini tak terhindarkan lagi. Rambut oranyeku berkibar karena diterpa angin yang berasal dari putaran baling baling itu.
Tanpa basa basi aku langsung melompat ke dalam ruang penumpang tanpa pintu ini. Seperti biasa, aku hanya berdiri santai di pinggiran helkopter tanpa takut apa pun. Lagi lagi mereka yang menjemputku. Chou dan Chen, pilot antar jemput yang sangat sangat aktif belakangan ini.
"Takumi-sama! Kita akan menuju ke bandara dalam dua menit!" Seru Chou lalu helikopter ini kembali melayang di udara dan melesat maju.
"Apa aku akan naik benda itu lagi?" Tanyaku sembari menikmati pemandangan kota Natsu dari atas awan.
"Ya, Air Huter one ...," jawab Chen fokus ke depan.
Air Hunter one adalah pesawat cargo besar yang sudah dimodifikasi menjadi kantor udara milik Demon Hunter. Pesawat itu memiliki dua lantai, lantai bawah hanya ruang kosong untuk mengangkut senjata mematikan, yaitu diriku sendiri ini. Dan lantai atas pesawat itu sudah seperti warnet, banyak komputer yang berjejer rapi dan para pekerja kantoran yang lalu lalang.
Tepat dua menit kemudian, kami sudah mendarat di pinggiran landasan pacu bandara Natsu. Aku melompat turun dari Helikopter dan segera mendekat ke arah pesawat besar warna hitam dengan logo DH di ekor pesawat itu. Aku menuju ke bagian belakang Air Hunter one dan menunggu pintu cargo itu untuk terbuka sepenuhnya.
Brak!!
__ADS_1
Suara ujung pintu baja itu bersentuhan dengan aspal landasan pacu. Dan aku melihat gadis dengan setelan jas hitam dan rok pendek warna hitam. Dia juga memakai sepatu hak tinggi. Rambut pirang yang dikuncir, dan tubuh proposional. Gadis pony tail itu adalah Sayaka. Rekan kerja yang sudah lama ku kenal.
"Selamat datang kembali The One!" Sambutnya dengan senyuman yang sama setiap kali aku hendak naik ke pesawat ini.
"Hmm, terserah." Aku melangkah di atas pintu besi yang menghubungkan tanah dan bagian belakang pesawat ini.
"The One sudah naik, tutup pintunya." Sayaka berkomunikasi pada para pilot melalui T-Phone miliknya. Tidak perlu menunggu lama, pintu cargo di belakang ku itu kembali naik dan menutup secara otomatis. Di saat yang sama aku mulai merasakan sedikit getaran. Aku juga bisa merasakan pesawat ini yang mulai bergerak maju. Sebentar lagi kami akan segera Take-off dan terbang kemana yang seharusnya.
"Sayaka, kau tak perlu menunggu di sini." Ucapku tanpa menatapnya sama sekali.
"Hmm, aku tau kok, semoga berhasil Takumi-sama!" Sayaka menepuk pundakku dan melangkah pergi untuk naik ke lantai atas pesawat ini.
Glek!! Glek!!! Glek!!!
Lampu ruang muatan ini pun mati dan hanya terlihat lampu yang menyala warna merah di atasku. Aku berbalik ke arah pintu keluar dan memejamkan mataku. Hell Breaker, perubahan terkuat yang ku miliki sekaligus kekuatan terkuat yang pernah ada di dunia ini. Mode itu jauh lebih kuat dari pada Dark Madness yang pernah ku gunakan saat melawan Kaito.
Jika berubah ke mode Hell Breaker. Jantung iblis akan muncul di dadaku. Tubuhku muncul semacam tato kutukan yang berwarna seperti bara api. Aku sama sekali tak akan bisa mengendalikan keinginan membunuh dan menghancurkan di dalam hatiku ini. Peramal di DH pernah bilang, jika tak ada yang menghancurkan jantung iblisku. Dunia ini akan hancur di tanganku. Aku adalah mesin pembunuh tingkat SSS. Tak ada yang bisa menandingi kekuatanku dalam mode Hell Breaker. Itulah kenapa aku disebut sebagai Tenshi terkuat di bumi. Walau sebenarnya aku hanyalah iblis berhati malaikat yang mencoba untuk melawan takdir ku.
"Hana ... apa kakak masih belum cukup kuat?" Gumamku terus memejamkan kedua mataku.
"Kakak?" Suara kecil yang membuatku terbelalak.
Aku menoleh ke segala arah dan tak melihat siapapun di sini. Selalu seperti ini, halusinasi. Sampai seperti ini kamu membuat kakak rindu Hana. Sebentar lagi, kamu akan melihat kekuatan kakak yang sebenarnya lagi. Aku kembali menarik ponsel dari saku jaketku dan menelepon Fumio.
"Tenang dulu loli ganas," ejek ku santai.
"Aku sedang perjalanan ke sana, beritahu Kaito supaya dia siap untuk mengubahku kembali menjadi manusia." Jelas ku pada si loli ganas itu.
"Ta-Takumi? Jangan bilang?" Fumio pasti juga terkejut setelah mendengar kata kataku barusan.
"Ya ya ya, sudah dulu ya ... pastikan Kaito menerima pesanku." Aku langsung memutus sambungan telepon dan mengembalikan ponsel ku ke dalam saku jaket. Aku kembali diam dan memejamkan mataku. Aku merenung untuk mengumpulkan kebencian di dalam hati iblisku ini. Beberapa menit berlalu, suara yang ku tunggu tunggu akhirnya terdengar juga.
"Takumi-sama, saatnya sudah tiba." Sayaka menepuk pundakku dan membuatku kembali tersadar. Aku mulai merasakan angin yang sangat kuat, tak salah lagi pint cargo di depanku sudah terbuka lebar. Aku hanya bisa melihat awan putih tebal yang ada di bawah.
"Hmm," aku merenung sejenak untuk bersiap melompat.
"Takumi, semoga berhasil. Ren selalu menunggu mu loh." Ujar Sayaka dengan senyumannya itu.
"Tentu, Sayaka ... sampaikan padanya bahwa aku mencintainya!" Aku berlari dan melompat keluar dari pesawat bernama Air Hunter one itu.
"Aaaaaaaaaaggghhhhhhh!!!!!!"
Aku berteriak dan mataku berubah jadi putih tanpa ada titik hitam di tengahnya lagi. Tanda kutukanku mulai keluar dan menyelimuti sekujur tubuh ku. Aura kegelapan kembali menyelimuti tubuhku. Bunuh, bunuh, hancurkan! Hanya itu yang ada di dalam pikiran ku saat ini. Teriakan ku semakin kencang dan cahaya merah muncul di tengah tengah dadaku. Bola energi kegelapan dengan diameter sekitar satu meter mulai muncul di depan kedua telapak tanganku.
__ADS_1
"Mati!!!!"
Aku menembus awan dan mulai terlihatlah Flying Fortress milik Shogun itu. Aku juga bisa melihat dua pesawat tempur yang bertarung dengan belasan pesawat tempur Shogun. Itu pasti Kaito dan juga Taki. Tentu saja aku tak mempedulikan mereka. Aku terus melesat kebawah menuju ke landasan pacu yang ada di atap Flying Fortress itu.
Boom!!!
Aku mendarat dan membuat aspal landasan pacu itu remuk tak karuan. Aku melempar kedua bola kegelapanku itu ke arah pesawat dan helikopter yang terparkir rapi di sisi landasan ini. Aku melempar dan membentuk bola energi itu lagi, terus berulang sampai semua armada yang mereka miliki remuk tak bersisa. Puluhan agen mereka pun keluar dan menodongkan senapan mesin kepadaku. Aku hanya diam dan memiringkan kepalaku.
Tratatatata!!!
Mereka menghujani ku dengan jutaan peluru yang tentunya tak bisa menyentuhku. Dengan santai aku melangkah maju dan membelah hujan peluru yang mereka berikan padaku. Tanpa basa basi aku melempar Dark Ball di tangan kananku dan membuat mereka semua terpental ke udara. Dan salah satu dari mereka yang masih berdiri itu terlihat gemetaran dan menjatuhkan senjatanya itu.
"Aaaaahhhh!!!" Aku melesat kepadanya dan memukul perutnya. Tubuh lemahnya itu tak bisa menahan pukulanku. Alhasil tinjuku ini menembus badannya dan membuat darah bercucuran keluar. Tanpa rasa bersalah aku mencabut tanganku yang menancap di badannya. Aku melompat beberapa meter ke udara dan melesat kebawah. Dengan kekuatan superku ini aku menjebol puluhan lapis baja tebal. Aku masuk ke dalam ruangan yang ada di The Flying Fortress ini.
"Hahahaha!!!! Kalian semua akan mati!!!!" Aku tertawa kencang saat melihat banyak orang yang berada di dalam ruangan, ruangan ini sama seperti kantor kantor biasa. Penuh dengan meja komputer yang berbaris dan pekerjanya yang lalu lalang. Hanya saja mereka semua itu bekerja pada orang yang salah.
Dengan tawa kebahagiaan aku membantai mereka dengan senang hati. Aku memutus kepala, memutus kaki, dan segala cara ku lakukan agar nyawa mereka melayang.
"Monster!!!!"
"Aaaaa!!!!"
Teriakan, kepanikan, kakacauan sudah menyelimuti keadaan di dalam markas berjalan mereka. Tak jarang aku melempar meja ke segala arah saat tak memiliki target untuk pembunuhanku selanjutnya. Beberapa orang mencoba untuk menembaki ku menggunakan senapan mainannya. Tapi semua usaha mereka sia sia. Tak satupun peluru yang menyentuh kulitku ini. Bunuh, bunuh, hancurkan, patahkan, serang semua yang ada didepan. Darah menyebar kesegala arah setiap kali aku menghancurkan tengkorak kepala orang orang ini satu per satu. Aku sangat menikmati suasana ini.
"Kalian akan melihat Neraka!!!!"
"Hahahahaha!!!!"
Aku tertawa lepas dan terus melanjutkan misi pembantaian ini. Setelah satu lantai bersih dari kehidupan. Aku melempar bola kegelapanku ke bawah dan membuat lubang besar agar aku bisa turun ke lantai berikutnya yang inginku bersihkan. Aku sebut misi ini dengan nama, menyapu lantai. Aku terus membunuh ratusan orang di setiap tingkatan pesawat ini. Lama kelamaan aku merasa bosan. Hanya manusia biasa tanpa perlawaan yang bisa aku temui.
"Hahaha, aku akan akhiri ini dengan cepat!!!"
"Nightmare!!!!
Jantung iblisku bersinar sangat terang. Dan aura kegelapan mulai berkumpul di hati iblisku itu. Merah, semakin bersinar, terus bersinar. Aku akan meledakan pesawat mainan ini dalam sekejap mata. Bagiku, menghancurkan pesawat ini bagaikan menghancurkan mainan kardus anak TK.
"Aaaaaaaaahhhhhh!!!!!!"
-----------------------------
Aku dah nulis agak banyak nih hehe ... jangan lupa likenya yah!!!
Seyou next chapter guys!!!
__ADS_1