
"Kaito, perang sudah dekat."
Suara itu, Tenshi Yume. Malaikat mimpi yang sudah lama tak ku jumpai. Jika dia muncul, pasti ada sesuatu yang sangat penting. Dan satu kalimatnya itu sudah jelas. Dia memperingatkan perang akan segera tejadi.
Tapi perang apa?
Aku membuka kedua kelopak mata ku perlahan. Lantai putih bersih yang memantulkan cahaya lampu di langit langit. Hanya putih yang ku lihat sejauh mata memandang. Aku kembali berada di ruangan tak berujung ini bersamanya. Rambut putih yang terurai, mata merah padam yang menyejukan hati. Dan pakaiannya yang juga serba putih. Entah kenapa setiap bertemu dengannya aku merasa ada hal buruk akan segera terjadi.
"Yume, perang apa yang kau maksud?" Langsung ku bertanya tanpa basa-basi lagi.
"Musim dingin ini, perang akan terjadi ... bersiaplah ...," Yume melangkah mendekat ke arahku.
"Musim dingin ... tapi melawan apa?" Lanjutku bertanya karena masih belum mengerti tentang apa yang Yume maksud.
"Aku tak bisa memberi tau mu ...," Yume meraih tangan kananku.
"Hanabi, cepatlah hampiri dia ..."
Kata kata terakhir Yume sebelum pandanganku kembali beralih ke kegelapan tak berujung. Aku kembali bisa merasakan badanku. Aku bisa menggerakan ujung jari tangan ku. Aku sudah tersadar dari alam mimpi itu. Hanabi, sepertinya akan terjadi sesuatu pada adik perempuanku itu. Semoga saja bukan hal buruk yang menghampirinya lebih dulu daripada aku.
"Kaito? Apa kamu sudah sadar?" Tanya Haru mengarahkan kedua telapak tangannya yang bercahaya itu ke dadaku.
"Haru?!" Aku terbelalak saat menyadari Haru kembali memakai kekuatanya. Padahal dia bisa saja Lock dan lumpuh selama beberapa hari.
"Hehe, kerja bagus Kaito! Kamu sudah berhasil menyelamatkan teman mu lagi." Haru memuji ku dengan senyumannya itu.
"Haru, sudah cukup ...," aku bangkit dan duduk diranjang untuk menghentikan Haru terus menggunakan kekuatannya. Aku melirik ke segala arah dan menyadari, aku masih berada di dalam kamar Haru.
"Kaito, maafkan aku ...," ucap Mina dengan wajah penuh penyesalannya itu.
"Hmm, yang menusuk ku tadi bukan kamu, cuma ibilis yang merasuki mu aja." Aku bangkit berdiri dan sedikit meregangkan tubuhku yang kaku ini.
"Haru, terima kasih banyak." Aku membantunya untuk berbaring di ranjangnya karena tubuhnya sudah tak berdaya lagi. Sebentar lagi dia pasti tidak akan bisa bergerak sama sekali. Dia tetap menyembuhkan ku walau tau resikonya yang sangat berbahaya itu.
"Gak apa apa kok," ujarnya lirih dengan senyum tipis.
"Hehe, biar aku yang menjaganya!" Kakume tersenyum lebar karena melihat Haru yang tak berdaya itu. Dan aku tahu maksudnya, dia pasti ingin memanfaatkan keadaan ini dan berbuat mesum. Dasar otak sampah, penuh dengan kotoran.
"Heee?!! Kaito, jangan biarkan dia yang menjaga ku!" Pekik Haru panik.
__ADS_1
"Mana mungkin, Mina, tolong jaga Haru ya, urusan sekolah biar aku yang bilang ke kepala sekolah langsung." Aku menepuk pundak kanan Mina.
"He? Kepala sekolah? Apa kamu jadi orang penting? Kok bisa bisanya bilang gitu?" Mina memiringkan kepalanya sedikit karena kebingungan.
"Mina ... lebih baik kau minta penjelasan ke Fumio, Kakume, tolong antar dia ya?" Pinta ku menoleh ke arah Kakume yang tak memiliki kegiatan sama sekali belakangan ini.
"Dengan senang hati ketua!" Seru Kakume meletakan tangan kanannya di pelipis memberi hormat padaku.
"Jangan sentuh dia ...," aku memberinya peringatan disertai tatapan tajam.
"Ohh, iya iya ... Tenshi terkuat kedua memang serem ...," Kakume menuntun Mina keluar dari kamar menuju lift rahasia yang ada di ruangan depan kamar ini. Tak lama kemudian Taki berhenti di depan pintu kamar Haru.
"Kaito, aku punya sesuatu untuk mu." Taki memberikan sebuah benda kepada ku.
"Hmm? Apa ini?" Aku menerima benda seperti kartu ATM itu.
"Wahh, Kaito sudah punya kartu spsesial dari DH ...," ujar Haru yang masih terbaring lemas di ranjangnya itu.
"Spesial?" Aku mengernyit heran dan memutar kartu itu dan membaca apa yang tertulis di sini.
"Itu T-card ... tanda bahwa kamu sudah resmi menjadi orang penting di DH." Jelas Taki sembari membenarkan posisi kacamatanya dengan jari telunjuk.
"Tentu saja Tenshi ... hadeh ...," Taki menepuk keningnya sendiri.
"Oh ya apa istimewanya ini?" Lanjut ku bertanya.
T-Card adalah kartu spesial yang diberikan kepada orang penting di organisasi Demon Hunter. Kartu ini sangat berguna. Dengan kartu ini aku bisa menghubungi Divisi Cyber untuk meminta informasi apapun. Dan juga dengan kartu ini aku bisa memesan kendaraan apa pun sama seperti yang Takumi lakukan beberapa hari lalu. Walau masih banyak gunanya, Taki tidak punya banyak waktu untuk menjelaskanya padaku.
Name: Okino Kaito
Gender: Male
Division: Intelegent, Detective
Code: 2-3521T
Cyber: 073456
Medic:056678
__ADS_1
Begitulah yang tertulis di bagian depan T-Card ku, tentu ada foto ku di samping tulisan itu dan lambang DH di bagian atas kartu. Sekarang aku resmi pindah divisi, aku jadi Intel sekaligus detektif. Entah otak ku mampu atau tidak. Yang jelas aku tak tahu harus bahagia atau malah kecewa sekarang ini. Dan mulai sekarang aku punya tim Cyber ku sendiri. Aku bebas menelepon dan bertanya apa saja pada tim ku itu.
"Ada sesuatu yang lebih penting, adikmu dalam bahaya." Kali ini aku tak terkejut oleh kata kata Taki.
"Hmm, aku sudah tau ...," aku meraih ponsel dari dalam saku dan menghubungi nomor Divisi Cyber yang tertera di T-Card ku.
"Halo, customer care di sini ... apa ada yang bisa saya bantu." Suara laki laki yang mengangkat teleponku.
"Okino Kaito, 2-3521T." Aku mengatakan kode rahasia yang juga tertera di T-Card ku ini.
"Ohh, identitas di konfirmasi!"
"Selamat datang Kaito-sama ... namaku Sorachi Murakami. Panggil saja aku Sora, siap melayani anda." Ujar laki laki itu memperkenalkan dirinya.
"Panggil saja Kaito, lagi pula aku masih muda ...,"
"Sora maaf mengganggu, tapi apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanyaku seraya menyandarkan punggung ku ke dinding yang ada di samping pintu.
"Tentu saja, aku adalah asisten pribadi mu ... tak perlu bertanya seperti itu." Tanggap Sora.
"Hmm ... SMP Senkou, apa ada aktivitas Shogun atau Enjeruhanta?" Aku langsung saja bertanya.
"Sebentar, biar aku cek ...," kata Sora lalu terdiam sejenak.
"Ada! Pesawat pengebom sedang menuju ke sana!" Sergah Sora yang membuat ku tersentak.
"Berikan detailnya ...," pinta ku.
"Pesawat jenis Bakuhatsu-30B!"
"Terbang dari Rusia menuju ke sini!"
"Muatan, empat bom Air to Ground jenis F-25C, daya ledaknya sampai radius dua ratus meter."
"Impact dalam waktu sekitar dua jam setengah." Sora menjelaskan semuanya dengan rinci dan mudah sekali dipahami walau aku tak mengerti jenis pesawat dan bom itu.
"Terima kasih, akan ku hubungi lagi nanti." Kata ku lalu memutus sambungan telepon kami.
"Aku sudah pesan mobil diluar, apa kamu mau nyetir?" Taki memamerkan kunci mobil di tangannya itu.
__ADS_1
"Boleh di coba, Haru, kami berangkat dulu ya?" Aku merebut kunci mobil itu dari Taki seraya keluar dari kamar Haru.