Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 195


__ADS_3

"Heee?! Dibayar cuma pake sekaleng teh?!" Hika menggelembungkan kedua pipinya setelah menerima sekaleng teh dari dewa kematian.


"Mau gimana lagi? Tempat ini udah hancur lebur kan?" Shinjiro meneguk habis sekaleng teh dingin miliknya.


Mereka berdua duduk di atap gedung SMA Asakura untuk menikmati langit malam penuh bintang. Walau setengah bagian gedung sekolah ini sudah hancur tak bersisa, separuhnya masih utuh berkat kemampuan sihir pertahanan Saika. Setengah bagian gedung ini adalah satu satunya bangunan yang masih berdiri kokoh di wilayah Chizu. Pemukiman padat penduduk itu kini tinggal kenangan.


Hanya ada reruntuhan dan para Akame yang berkeliaran. Walau begitu sang rembulan dan pasukan bintangnya tetap setia bersinar di atas langit. Cahaya mereka memberikan secercah harapan bagi dunia ini.


"Hmm, ya ya ya, dasar pelit!" Hika memukul kepala Shinjiro perlahan.


"Takdir yang ini ... berbeda dengan yang lain," ujar Shinjiro dengan suara kecilnya sembari menengadahkan kepalanya.


"Underworld dan Earth terhubung ... apa mungkin ada sesuatu yang memicunya?" Hika menyeruput teh dinginnya itu dan melihat pemandangan yang buruk di bawah sana.


"Alterego?" Gumam Shinjro dengan suara kecilnya.


"Ulah penyihir? Ia mengubah Ai menjadi senjata mematikan seperti Kurai Munmei." Hika meletakan kaleng teh itu di sampingnya.


"Ada seseorang yang berusaha mengacaukan takdir Kaito sejak awal ... hmm sekarang istirahat dulu lah!" Shinjiro membaringkan tubuhnya ke lantai atap gedung SMA ini.


"Hmm!? Dasar bodo! Ga ada waktu buat istirahat!" Hika melompat lalu menimpa perut Shinjiro dengan posisi duduk.


Bruak!


"Oi?! Sakit!"


"Hika, apa boleh kau kupanggil Nami?": Shinjro memejamkan kedua matanya.


"Na-na-na-na-nami?!" Pipi Hika memancarkan rona merah tanda ia sedang tersipu malu.


"Boleh gak?" Tanya Shinjiro santai dengan senyuman tipis di wajahnya.


"Bo-boleh, kalo ... ano ... kamu kupanggil Shin? Bo-boleh ga?" Tanya Hika terbata-bata dengan wajahnya yang berubah jadi merah.


"Hmm, deal! Sekarang kita pasrahkan semua pada Fuyuka dan si perisai itu." Shinjiro menghela nafasnya dan terlelap ke dalam alam mimpi.

__ADS_1


"Dasar laki laki aneh!" Hika atau bisa dipanggil Nami itu memukul dada Shinjiro perlahan.


"Ya, tapi ... kerja bagus, Shin!" Nami meletakan kepalanya di atas dada Shin untuk ikut beristirahat.


Sementara itu Saika dan Fuyuka tidak dalam situasi yang tenang. Mereka berusaha menerobos sekumpulan Akame yang memblokir jalan menuju ke bunker kota Natsu. Bunker adalah bangunan bawah tanah yang digunakan untuk berlindung di saat saat seperti ini. Karena bantuan ramalan Arin. Dunia berhasil membuat Bunker di setap negara untuk menyelamatkan para warga di perang takdir ini.


Pintu masuk bunker Natsu berada di wilayah Natsu tower. Ada semacam pintu raksasa yang terbuka dan membelah taman di depan menara Natsu itu. Penjagaannya cukup ketat, para polisi dan tentara, mereka yang belum bergabung dengan Shogun. Detroit dan Tenshi juga ikut campur dalam hal ini. Kerja sama adalah kunci kemenangan dari perang takdir ini.


Aroma dan suasana yang busuk dan sunyi. Sampah sampah berterbaran di trotoar jalan. Mobil mobil yang terparkir di sembarang tempat. Gemerlap kota Natsu tak terlihat lagi malam ini. Hanya Natsu Tower yang masih menunjukan kilauannya.


"Saika! Dari kanan!" Teriakan seorang laki laki yang sedang bertarung di tengah jalanan kota yang dipenuhi kerumunan Akame.


Buak!!! Jrakk!!!


Saika mendengar peringatan dari Fuyuka lalu menendang dan memutus kepala iblis rendahan itu dengan hantaman perisainya.


"Cahaya dari surga ... bantulah Saika dengan kekuatanmu!" Fuyuka merapalkan mantra dan lingkaran mantra sihir itu muncul di depan tameng besi Saika.


"Saika! Gunakan The Great Blast!" Pinta Fuyuka.


"The Great Blast!!" Teriak Saika diiringi bagian tengah perisainya mulai mengumpulkan cahaya warna biru cerah.


"Arahkan lurus ke depan!" Fuyuki memejamkan matanya karena tubuhnya sedikit mengeluarkan cahaya. Saat Saika menembakan sinar lasernya, lingkaran mantra sihir di depan tamengnya itu memperkuat dan memperbesar jangkauan serangan jarak jauh Saika itu.


Cwush!!! Duar!!!


Setelah kilatan cahaya biru yang singkat. Ledakan yang sangat besar terjadi dan menghanguskan ribuan Akame yang berkeliaran di jalanan. Hampir satu kilometer dari titik tembakan itu hangus dan hanya mrnyisakan abu. Saika terbelalak akan kekuatannya sendiri itu. Ia bahkan tak tahu bisa melakukan hal ini sebelumnya.


"Huff, dengan ini jalan kita bersih!" Seru Fuyuka mengusap keringat yang ada di pelipisnya sendiri.


"Se-senpai? Eh?!" Saika tanpa sadar memanggil Fuyuka dengan sebutan senior atau senpai.


"Oh! Kerja bagus Saika!" Fuyuka mengusap kepala Saika seperti sudah mengenalnya sejak lama.


"Ano ...," Saika hanya bisa tertunduk diam karena canggung.

__ADS_1


"Iya juga?! Maaf Saika! Kita baru kenal beberapa menit! Aku sudah ga sopan!" Fuyuka membungkukan badan tanda permintaan maafnya.


"Hmm, ayo kita langsung ke bunker!" Saika melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan Fuyuka.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan pintu gerbang bunker Natsu. Taman yang ada di halaman Natsu Tower sudah tidak ada. Ternyata taman itu hanyalah sebuah pintu bagi bunker natsu. Sekarang yang terlihat di deoan gedung hanyalah anak tangga menurun menuju sebuah pintu lift dengan tinggi sepuluh meter dan lebar hampir dua puluh lima meter.


Mobil baja dan pagar besi sementara dibuat untuk memblokade jalan dari serangan para zombie itu. Saika dan Fuyuka melangkah ke pos pertahanan untuk meminta izin masuk. Beberapa tentara bersenjata lengkap dan armor di tubuhnya berdiri di pos itu untuk menjaga palang kecil yang menjadi pintu masuk ke area bunker.


"Kalian dari DH?" Tanya salah seorang penjaga.


"Ohh ya!" Jawab Saika.


"Hmm, silahkan masuk, ada seseorang yang menunggu kalian." Penjaga itu menekan satu tombol dan palang pintu pun naik secara otomatis. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam wilayah yang sama sekali tak mereka kenali ini.


"Yow! Aku Detroit nomer I-1G!" Ucap seorang laki laki yang seumuran dengan Hanabi. Rambut sebahu dan dagu yang lancip. Bola mata hitamnya itu masih seperti manusia biasa, walau dia adalah Detroit. Badan kurus dengan tinggi hanya sedada Fuyuka.


"Ha? Nama yang aneh," Fuyuki mengernyit heran.


"Mau gimana lagi, ya sudah, aku akan membimbing kalian untuk bertemu Hikaru." Tanpa basa basi lagi Detroit itu memimpin jalan mereka berdua untuk masuk ke lift. Lift sebesar ini hanya digunakan untuk tiga orang, rasanya sedikit hampa. Tapi tidak saat mereka melihat pemandangan indah di dalam bunker ini.


Sebuah kota di bawah sebuah kota. Aneh tapi nyata, bunker ini tak seperti yang dibayangkan banyak orang. Banyak gedung dan bangunan layaknya di permukaan bumi. Buker ini dibagi jadi dua lantai. Lantai Alpha yang digunakan untuk menunjang kehidupan. Alpha berada di posisi paling bawah dari bunker ini. Dan lantai yang berada di atas tingkatnya yaitu Omega. Jauh berbeda dengan Alpha yang berisi bangunan seperti kota pada umumnya. Omega adalah fasilitas militer dan pusat pengendalian bunker ini.


Ini bukanlah bunker biasa, untuk mengurangi resiko diserang iblis darat. Bunker ini bisa terbang, ya, ini adalah UFO raksasa dengan diameter lebih dari ratusan kilometer. Luasnya bahkan hampir menyamai kota Natsu meliputi wilayah Chizu.



First Floor: Alpha


Lantai paling bawah bunker yang berguna untuk menampung para warga kota Natsu.



Second Floor: Omega


Berada di atas lantai Alpha dan digunakan untuk keperluan bertempur.

__ADS_1


__ADS_2