
"Selamat pagi Kaito ...," sapa Kakume yang sudah menungguku di depan gerbang rumah.
"Ha?"
Aku yang hendak berangkat sekolah ini pun bingung kenapa Kakume sudah menungguku. Apa dia menunggu jawabanku? ... tapi kenapa harus sepagi ini seh?!
Aku kembali menutup pintu rumahku dan keluar dari gerbang. Jubah hitam nya itu membuatku malu jika harus berjalan disampingnya.
"Apa kamu sudah menemukan jawaban nya?" Tanya Kakume.
"Hmm ...," aku pun mengangguk perlahan.
"Ooo ... sang terpilih akhirnya bergabung juga ... sekarang biar aku anter kamu ke markas," ujarnya dengan sedikit tawa.
"He? ... terus sekolah nya gimana?" Walau aku bertanya begitu, sebenarnya aku sangat lega mengetahui aku tak harus sekolah hari ini.
"Aku sudah bicara dengan kepala sekolah mu ... beres pokoknya ..." ucapnya sembari menepuk pundakku.
"Hmm ..."
Aku pun hanya mengikuti langkah si pirang berjubah aneh itu. Entah kemana aku di bawanya, tapi sepertinya markas nya bukan markas besar seperti film detektif di televisi. Beberapa saat kemudian aku menyadari ada hal yang aneh.
Kami hanya berjalan memutari pemukiman tanpa tujuan yang jelas. Aku pikir markas mereka ada di hutan atau semacamnya. Tapi aku salah besar, kami berdua berhenti di depan sebuah rumah yang letak nya hanya beberapa blok dari rumahku.
"Ini dia!!" Seru Kakume menunjuk ke arah sebuah rumah yang struktur bangunannya hampir mirip dengan rumahku.
"Jangan bercanda ... markas kalian ada di perumahan?" Ujarku dengan wajah datar.
"Heh ... jangan nilai buku dari sampulnya tau?" Kakume membuka gerbang dan memimpin langkah kami untuk masuk ke rumah yang katanya adalah sebuah markas.
__ADS_1
Greek~
Kakume membuka pintu dan kami berdua pun masuk ke dalam. Bangunannya memang benar benar sama dengan rumahku. Aku seperti sedang di rumah sendiri. Di saat yang sama seorang gadis turun dari lantai dua. Ia menghentikan langkahnya di tengah anak tangga.
Rambut merah padam sebahu yang basah. Handuk biru yang ada di leher nya, tank top kuning dan celana pendek warna hitam. Sepertinya dia baru saja mandi, dan sebenarnya siapa yang mandi di dalam rumah yang katanya markas ini?!
"Christ? ... siapa itu?" Tanya gadis itu.
"Ohh ... Haru-chan ... dia sang terpilih itu loh ...," jawab Kakume dengan sedikit tawa.
"Haa? ... ternyata dia masih sekolah? ... ya udah ... aku ganti baju dulu!!" Haru langsung kembali menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.
"Kaito ... duduk di meja makan dulu biar aku ambil minum," Kakume memintaku untuk duduk di meja makan yang berada tepat di depan dapur.
Aku merasa sudah hafal seluk beluk rumah ini. Ya karena memang rumah ini sama dengan bentuk bangunan rumahku. Aku melangkah masuk dan melihat meja makan berbentuk persegi berwarna hitam dan empat kursi yang mengelilinginya.
"Nih ... anggep aja rumah sendiri," Kakume duduk di kursi yang ada di samping kiri ku sembari meletakan sekaleng teh di atas meja.
"Cewe tadi namanya Yurika Haru ... dia juga seorang Tenshi ...," Kakume menyeruput sekaleng teh yang ada di tangannya.
"Halo halo halo ... Yurika Haru di sini!" Haru berlari ke arah kami dan duduk di kursi yang ada di seberangku.
Dia sudah memakai kemeja merah muda lengan panjang dan rok hitam selutut. Rambut merah padam sebahunya itu sudah kering, aku baru sadar bola matanya juga memiliki warna yang sama dengan rambutnya.
"Haru-chan ... kenapa hari ini kamu semangat banget ... padahal semalem kamu lemes ...," ujar Kakume mengernyit.
"Apa kalian tidur satu kamar?" Tanyaku dengan wajah datar.
"Enggak *****!!" Teriak mereka serentak dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Beneran kah?" Candaku karena tak yakin mereka bisa menahan nafsu mereka jika hanya tinggal berdua.
"Beneran *****!!!" Lagi lagi mereka menjawab dengan serentak.
"Oke oke ... aku percaya"
"Oh iya siapa nama mu?" Tanya Haru.
"Okino Kaito"
"Ohh ... jadi kamu orang yang terpilih itu ... apa kamu mutusin buat gabung?" Lanjutnya.
"Hmm ...," aku hanya mengangguk perlahan.
"Kamu pasti heran kan? kenapa markas kok cuma kaya rumah biasa?" pertanyaan yang sudahku tunggu tunggu sejak pertama kali menginjakan kaki di sini.
"Hmm ...," aku kembali menganggukkan kepala ku.
"Ya udah ayo!!" Haru menarik tanganku dan memaksa ku untuk mengikutinya.
"Kaito ... hati hati ya?" Suara Kakume yang ku dengar saat kami berdua sedang menaiki tangga untuk menuju ke lantai dua.
Kami masuk ke ruangan yang jika dirumahku, aku menggunakannya sebagai gudang. Ruangan ini kosong dan bersih, tapi aku terkejut ketika melihat benda besar seperti lift di mall yang ada di tengah ruangan ini.
"Ta ta ... ini dia yang gak ada di rumah biasa!!" Seru Haru dengan wajah cerianya.
"Biar ku tunjukin apa yang lebih spesial dari lift ini," Haru menekan tombol di samping pintu lift itu, dan secara otomatis pintu lift itu terbuka.
"Ayo *****!" Haru kembali menarik tangan ku dan memaksaku masuk ke dalam lift itu.
__ADS_1