
Ranjang besar yang terletak di tengah ruangan. Tirai mewah yang terbuka lebar membiarkan udara dari luar masuk lewat jendela yang terbuka. Dua rak buku besar yang mengapit beberapa vas bunga antik.
Ai tergeletak di lantai kamarnya ini dengan darah yang menggenang di sekitar kepalanya. Sepertinya darah itu keluar dari telinganya, terlihat dari bekas darah yang ada di daun telinganya itu.
"Ai?!"
Aku panik dan tak tahu harus berbuat apa. Aku segera mengangkatnya dan membaringkan nya di atas kasurnya itu. Baru kali ini aku merasa sepanik ini. Aku bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya berdiri dan memandanginya saja.
Syukurlah, tak lama kemudian Ai membuka kedua matanya itu. Wajah nya terlihat pucat pasi. Entah kenapa aku merindukan senyuman yang ada di wajah nya itu sekarang.
"Kaito? ... kenapa ... apa aku pingsan lagi?" Tanyanya lemas.
"Apa maksudnya lagi? ... apa kamu udah gini berkali kali?" Aku tahu dia tak akan mendengarku. Tapi aku tak tahu harus berkata atau berbuat apa sekarang.
"Maaf ya? ... aku jadi ngerepotin kamu," ucapnya dengan senyuman tipis di wajah pucatnya itu.
"Hmm ..."
"Kaito!!! ada Akame!!" Teriakan Yume yang hanya terdengar olehku.
"Dimana?" Gumamku.
"Di dekat rumahmu!", jawab Yume.
"Cih ..."
__ADS_1
Aku segera mencari kertas di meja belajar Ai yang ada di ujung ruangan. Aku mengambil pulpen dari saku celana ku tadi dan menulis di atas secarik kertas yang kutemukan.
'Ai, maaf tapi aku harus pamit ... adikku dalam bahaya, monster tadi juga ada di dekat rumah ku'
Saat aku kembali, Ai sudah tertidur di ranjangnya. Aku pun hanya meletakan kertas tadi di sampingnya lalu segera berlari keluar dari rumahnya.
Kenapa?! kenapa banyak Akame yang bermunculan?!
Aku terus berlari dan melupakan segalanya. Yang ada di pikiranku hanya keselamatan adik perempuanku satu satunya itu. Hanya dia yang aku punya di dunia ini. Jika sang dewa ingin merebutnya, aku mungkin tak bisa hidup lagi di dunia ini.
Aku berlari di kesunyian malam hari ini. Aku terus berharap Akame itu tak menemukan adikku dan memakan nya. Tuhan, tolong berikan aku kekuatan untuk melindungi adikku.
Saat aku hendak sampai di gerbang rumah ku. Aku melihat lima Akame sekaligus yang berdiri di depan rumahku. Aku tak pernah menghadapi jumlah sebanyak ini sebelumnya.
"Oi!!! ... kesini *****!!!"
Crat!!!
Aku menggores lengan kiriku sendiri menggunakan pisau ku ini. Setelah darahku menetes ke atas aspal jalan. Mereka berlima langsung menoleh ke arahku. Monster monster itu memang bukan manusia lagi. Mereka adalah mayat hidup yang haus akan darah.
Jantung yang bersinar terang itu adalah kelemahan mereka. Aku harus menusuk nya satu per satu. Pertanyaannya adalah, apa aku sekuat itu?
Apa peduliku?!
"Dengan cahaya aku menghukummu, dengan kegelapan aku membuatmu menderita ... kalian akan lenyap dalam hitungan detik," ucapan yang langsung keluar dari dalam hatiku.
__ADS_1
Aku memejamkan mata ku sejenak dan mulai merasakan kekuatan iblis yang mengalir di tubuh bagian kiriku. Dan di saat yang sama aku merasakan aura Akame itu sedang berlari ke arahku.
Aku mulai bisa merasakan pisau yang ada di tangan kananku ini sudah menjadi pedang yang mempunyai ketajaman luar biasa. Saat aku membuka mataku, waktu seakan menjadi lamban. Aku bahkan bisa melihat daun yang jatuh dengan kecepatan sangat rendah.
Apa apa-an slow motion ini?!
Aku bisa melihat kelima Akame itu berlari ke arahku dengan mulut yang terbuka lebar untuk bersiap menerkam ku. Satu Akame rambut panjang berlari paling depan, dua Akame botak di belakangnya. Dua Akame paling belakang hanya berjalan biasa.
Hmm ...
Aku menghentakan kaki kanan ku dan waktu kembali berjalan normal. Aku memegang pedangku dengan ke dua tangan ku dan bersiap untuk menebas mereka satu per satu.
Crat!!! Slash!!! Jrat!!!
Aku memotong kepala Akame yang berlari paling depan. Aku berlanjut ke dua Akame botak di belakangnya itu. Dengan cepat aku juga memotong leher Akame sebelah kiri hingga kepalanya terpisah, dan menusuk jantung Akame yang ada di sebelahnya.
Aku menarik pedangku yang menembus jantung Akame itu tanpa merasa berdosa. Di saat yang sama ketiga Akame tadi berubah menjadi cairan hitam yang langsung menyatu dengan aspal jalan.
Sisa dua Akame yang berjalan santai ke arah ku dengan mulut mereka yang terbuka lebar itu. Dengan cepat aku berlari ke arah mereka dan memotong leher mereka berdua secara bersamaan. Kepala mereka berdua jatuh ke tanah dan tubuh mereka menjadi cairan hitam secara bersamaan.
Tang!!!
Aku menjatuhkan pedangku dan melihat tangan kiriku yang penuh dengan retakan retakan aneh. Aku, aku memanglah bukan manusia. Aku juga bukan malaikat, aku juga bukan iblis.
Lalu apa aku ini?!
__ADS_1