
*Fuyuk**a*
Dengan ini aku mengambil peran tokoh utama. Walau hanya untuk beberapa waktu. Tapi aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan Saika lagi. Malam yang penuh bintang ini, tak seharusnya seperti ini. Kota Natsu, gemerlap gedung pencakar langit dan kendaraan yang lalu lalang. Takdir sudah kacau, aku sampai hidup dua kali dan akan bertarung melawan tokoh utama kisah ini sendiri.
"Huff, semoga saja aku berhasil." Gumamku perlahan menengok ke pemandangan mengerikan yang ada di bawah gedung ini.
Aku memiliki kisahku sendiri, tapi tak ada waktu untuk memikirkan itu sekarang. Impianku hanya satu, menjadi penyihir yang kuat supaya teman temanku bisa tersenyum bahagia. Malam ini aku akan melakukan pemanasan sejenak. Hikaru sudah memintaku untuk istirahat. Mereka sangat baik karena sudah menyiapkan rumah di lantai Alpha bunker itu.
Di bawah para bintang, gemerlapnya, itulah sumber kekuatanku. Aku berdiri di atap salah satu gedung kota Natsu. Memandang ke bawah dimana Akame berkeliaran, makhluk busuk itu bahkan sampai di kehidupan ini.
"Hoi? Mau ngapain?" Suara seorang gadis yang mengejutkanku.
"Munmei?!" Aku tersentak menyadari Munmei berdiri di belakangku. Dia sudah berganti pakaian dan memakai kemeja dilengkapi rok hitam selutut. Dari pada penampilan awalnya, dia lebih cocok seperti ini.
"Panggil saja Mei, mau bertarung?" Ia berdiri di samping kananku lalu melihat pemandangan langit malam ini.
"Hmm, kau sendiri?" Aku mengangguk dan kembali melempar pertanyaanku padanya.
"Hanya lihat pemandangan," ujar Mei tanpa menatapku sama sekali.
"Hmm, ya sudah, aku pergi dulu Mei!" Tanpa basa basi lagi aku menjatuhkan diriku dari atap gedung ini.
"Cahaya dari surga! Bantu aku meringankan bebanku di dunia ini!" Aku merapalkan mantra dan secara otomatis aku melayang di udara.
Beberapa Akame sudah menyambutku di jalanan nan mati itu. Mereka menanti di bawah kakiku seakan ikan yang menunggu makanannya. Mereka memang tak lebih dari sekedar mayat hidup. Tak perlu dikasihani, tak perlu diampuni. Mereka hanya bisa membunuh, mereka hanya bisa mengambil tanpa memberi. Mereka harusnya tak lepas dari rantai Underworld. Namun, sekarang mereka bebas melewati gerbang antar dimensi yang bernama Jigoku Gate itu.
"Heaven Light Rain!" Aku menggunakan jurus pertamaku. Lingkaran Cahaya atau yang biasa aku sebut Magic Circle itu muncul di atas kepala para iblis itu. Ya, singkatnya lingkaran itu adalah gerbang yang akan menembakan serangan sihirku.
"Mati ...,"
Duar!!!!
Selama beberapa detik mereka dihujani oleh jutaan tetes cahaya yang lebih tajam dari pada mata pedang manapun. Berlian pun akan hancur lebur saat menerima seranganku ini. Aku menapakan kakiku di aspal jalan yang digenangi darah hitam iblis itu.
"Huff, masih sama seperti dulu ... aku masih lemah." Gumamku melihat telapak tanganku sendiri.
__ADS_1
Tapi ...
Aku menyadari sesuatu yang besar mendekat ke arahku. Ada tiga Akame raksasa menunggu di depanku. Mereka bertiga menatapku seakan aku adalah serangga tak bernyawa. Walau sebenarnya merekalah yang tak memiliki nyawa. Sungguh makhluk yang tak layak menginjakan kakinya di atas bumi.
"Huaa! Ada tamu lagi!!" Aku menyunggingkan senyuman lebarku.
"Cahaya dari surga, bantu aku menerangi jalanku! Heaven Chain's!" Jurus keduaku, beberapa rantai muncul dari bawah tanah dan mengikat kaki kaki mereka.
"Senjata surga yang agung! Sekali lagi, biarkan aku menyentuhmu!"
"Tengoku no Yari!!" Setelah selesai merapalkan mantra, butiran cahaya membentuk sebuah tombak yang berdiri tegak di depanku.
Itu adalah senjataku, anugrah dari sang dewa. Tombak agung berwarna silver dengan mata tombak yang bersinar terang. Aku menggenggan gagang tombakku ini kuat kuat dan merasakan sihirku mengalir di dalam sana. Aku bukan hanya penyihir yang bisa menyerang dari jarak jauh. Aku juga hebat dalam pertempuran jarak dekat.
"Mati kalian!!!" Aku melesat dan menusukan mata tonbakku yang bersinar ini ke batu permata bersinar di dahinya. Aku berlanjut ke Akame raksasa di sebelah kananku, tanpa belas kasihan aku memutus lehernya dengan satu ayunan tombak suciku ini. Tak sampai di situ saja, aku melempar senjataku ini ke arah satu Akame yang tersisa.
Aku melompat kembali ke tanah dan mencabut tombak yang tertancap di kepala monster itu. Dalam kurun waktu kurang dari lima detik aku berhasil menumbangkan tiga monster sekaligus.
"Hmm, sudah cukup pemanasannya." Gumamku lalu berbalik menuju ke Bunker untuk segera beristirahat.
"Tunggu, Fuyuka!" Seorang laki laki memanggil namaku. Dengan berat hati aku berhenti dan berbalik.
"Aku Okino Yuuta, salah satu reingkarnasimu," laki laki rambut cokelat dan mata hijau padam itu memperkenalkan dirinya. Dia seperti anak SMA pada umumnya jika dilihat dari jaket hitam dan celana panjangnya itu.
Walau begitu, auranya begitu buruk. Sama seperti para Akame tadi. Aku merasa dia tak memiliki nyawa sama sekali. Yuuta, dia pasti adalah musuhku.
"Aku kesini untuk mengajakmu bergabung!" Dan benar saja, dia hanya bicara padaku untuk sebuah kepentingan. Mereka bukanlah kawan, karena teman tak membutuhkan kekuatanku. Teman selalu mengharapkan kehadiranku, itu saja sudah cukup.
"Teman yang sebenarnya itu ... mereka mengharapkan kehadiranmu, kebahagiaanmu, senyumanmu, kehangatanmu," Suara seseorang yang teringiang di kepalaku.
"Maaf, tapi aku menolak." Aku menolaknya mentah mentah dan kembali berjalan ke arah Bunker.
"Kalau begitu matilah!"
Swush!!! Trank!!!
__ADS_1
Tentu aku masih memasang mata dan telingaku. Aku bisa merasakan ia bergerak menyerangku, dengan mudah aku menangkis tebasan pedangnya itu dengan tombak suciku ini. Percikan api menyebar ke segala arah ketika dua senjata kami saling beradu.
"Melawan diriku yang lain? Takdir ini memang sudah kacau!" Aku tersenyum tipis dan Yuuta pun sadar bahwa rantai surgaku sudah menjerat pergelangan kakinya.
"Yuuta, kau memilih pihak yang salah!" Aku mengayunkan tombakku sampai ujung gagangnya menghantam kepala Yuuta. Alhasil ia pun terpental jauh ke depan. Setelah berguling guling ia langsung bangkit berdiri tanpa ragu sedikit pun.
Deg!!!
"Apa ini?!" Jantungku tiba tiba terasa sangat sakit ditambah tubuhku membeku tak bisa bergerak. Dan pada akhirnya aku hanya bisa diam melihat Yuuta berlari ke arahku. Ya, aku berakhir di sini saja. Walau sihirku memanglah kuat, tapi tubuhku ini lemah. Aku menjatuhkan tombak suciku dan otomatis ia lenyap tak bersisa.
Dasar tak berguna!!
"Cukup sampai di sini!!!"
Duar!!!
Mei ikut terjun dari atas atap gedung membawa pedang kemuliaannya. Ia membuat Yuuta kembali melompat mundur karena terkejut. Mei berdiri membelakangiku untuk memberiku perlindungan.
"Mei, terima kasih!" Aku terjatuh dan berlutut karena kakiku tak kuat lagi menopang tubuh berat ini.
"Munmei?! Mau apa kau di sini?!" Yuuta tampak ketakutan saat melihat wajah Mei.
"Humm, bukannya aku juga harus tanya itu?" Ujar Mei santai sembari memangkul pedang di bahunya.
"Cih, kalau gitu sampai jumpa!" Yuuta lenyap dari bumi seperti abu yang tertiup angin.
"Huff, kau ini, bukan tipe petarung sendiri kan?" Pedang Mei ikut lenyap menjadi butiran cahaya. Ia berbalik dan mengulurkan tangannya padaku.
"Hmm, gitulah," aku menerima bantuannya dan bangkit berdiri.
"Lain kali ajak perisaimu itu," ucap Mei lalu berjalan ke arah Bunker Natsu.
"Tunggu, kenapa kamu tau?" Tanyaku penasaran. Karena di kisah ini, aku belum pernah bertarung bersama Saika. Dan juga ia muncul setelah aku dipanggil oleh Hanami Hika, sang patner dewa kematian itu.
"Aku mengawasi setiap kehidupan, aku tahu semua kisah kalian." Ia menoleh dan menatapku dengan senyuman tipis di wajah cantiknya itu.
__ADS_1
"Hmm, Heee?! Aku lupa kalau kau adalah dewi!" Ujarku menepuk keningku sendiri.
"Ha?! Apa apaan itu? Aku bukan dewi dasar payah!" Pipinya memancarkan sedikit rona merah.