
"Dasar dewa sok kuat!"
Aku berdiri bersama dua gadis yang sudah hidup bersamaku melwati kematian beruntun. Lantai putih bersih yang mengkilap, beberapa benda seperti lampu yang bersinar di langit langit. Hanya putih, aku tak bisa nelihat ujung dari tempat ini. Sisi kananku berdiri gadis rambut putih tak sampai sebahu, dia memakai benda seperti VR warna hitam di wajahnya. Saika memakai zirah hitam berteknologi tinggi demgan sayap yang ada di punggungnya. Dia juga masih memiliki perisai yang menempel di lengan kanannya.
"Kaito, apa aku boleh bertarung?" Ai menggenggam tangan kiriku dan tubuhnya mulai memancarkan sinar.
"Hmm, tidak ada pilihan lain sekarang ini!" Walau sebenarnya aku tak ingin hal itu terjadi, tapi, sekaramg sudah tak ada tempat untuk mundur. Di saat yang sama rambut Ai berubah jadi putih dan ia juga memakai gaun putih yang sangat indah. Dan tunggu, Bola mata ungunyabitu terlihat lebih berkilau dari biasanya.
"Kaito, aku pinjam tubuh Ai sebentar ya?" Suaranya berubah jadi suara Yume. Jadi, selama ini Yume yang meminjamkan kekuatanya kepada Ai.
"Hahaha, takdir tetaplah takdir!"
"Mau berapa kali kalian mencoba untuk mengalahkanku, aku tetap bisa membunuh kalian!" Kata Naga raksasa itu dengan tawa jahat yang selalu mengiringinya.
"Cih, aku tak mengerti dan tak ingat berapa kali aku mati."
"Tapi, kali ini, aku bukanlah diriku yang dulu!" Ujarku penuh kepercayaan diri. Aku tak boleh ceroboh, apa yang ada dalam ingatanku tadi. Yume dan Mayu terbunuh, itu karena aku sepertinya terlalu percaya diri dan malah membunuh temanku sendiri. Aku harus berpikir, pikirkan strategi yang tepat bukan hanya untuk mengalahkan musuh, tapi juga untuk melindungi teman temanku.
"Saika! Lindungi Ai ... bukan, Yume!" Perintahku lalu maju beberapa langkah ke depan.
"Siap Senpai!" Saika berdiri di belakangku dan bersiap dengan perisainya.
"Hahaha, kali ini kau lebih mementingkan temanmu?!"
"Dasar dewa terpayah di dunia!" Suara bergema dari naga itu lalu ia lenyap begitu saja. Tubuh sebesar itu bisa menghilang dalam sekejap tanpa suara dan jejak sama sekali. Aku terus melihat sekeliling dan tetap waspada.
"Senpai, didepan!" Ucap Saika. Aku segera memusatkan pandanganku kedepan dan melihat apa yang dimaksud Saika.
Aku melihat pria kekar memakai zirah emas. Rambut pirang dan matanya bersinar terang seperti lampu emas. Dia juga memiliki dua tanduk merah di dahinya. Dengan gagahnya dia melangkah maju medekat kepada kami.
"Cih, kalau begini ...," aku bersiap dan menggenggam kuat gagang pedang di masing masing tanganku ini.
"Crystal Shoot!!!" Suara Yume diiringi beberapa peluru kristal tajam yang lumayan besar melesat ke arah iblis itu.
"Serangan murahan!" King mengibaskan tangan kanannya dan secara otomatis peluru kristal Ai berubah haluan menuju ke tanah. Aku bingung mau memanggil Ai, dia adalah Ai tapi juga Yume di saat yang sama.
__ADS_1
Kalau serangan jarak jauh tak berguna, aku akan coba serangan jarak dekat. Aku segera berlari sembari bersiap menebasnya menggunakan kedua pedangku. Aku mengayunkan Kensetsu tepat ke arah lehernya, tapi King berhasil menahannya hanya menggunakan lengan kirinya saja. Saat benturan terjadi, amukan angin kencang terbentuk. Seranganku yang kuat ini bisa dia tahan hanya dengan satu tangannya. Dia benar benar bukan lawan yang mudah.
"Payah!" King melayangkan pukulan ke daguku dan membuatku terpental jauh ke belakang. Untung saja aku masih bisa mengendalikan tubuhku dan bisa mendarat dengan kedua kakiku, sekarang aku kembali kepl posisi awal aku berdiri.
Serangan dan pertahanannya sangat kuat, serangan jarak dekat dan jauh masih belum melukainya sama sekali.
"Kaito, takdir akan segera terulang, kalian bertiga akan mati di tanganku!" King menunjukan kepalan tangannya disertai senyuman jahatnya itu.
"Mati? Aku sudah tak peduli lagi!" Aku berusaha memberinya tekanan lagi, aku melesat dan mengayunkan kedua pedangku kesana kemari dan membuatnya melangkah mundur untuk menghindarinya.
"Yume!!!" Teriakku memberi tanda bahwa sekarang aku membutuhkan bantuan serangan jarak jauh miliknya.
"Freeze!!!!" Di saat yang sama kristal keluar dari tanah dan memerangkap kedua telapak kaki King. Dan si raja itu tidak bisa bergerak karena kakinya sudah terperangkap di dalam kristal ungu yang berkilauan itu.
"Senpai!!!" Saika memperingatkanku karena ia ingin menembakan sinar laser dari perisainya. Aku segera melompat ke udara untuk memberi ruang serang kepada Saika.
"The Great Blast!!!" Laser biru terang menyambar tubuh King dan ledakan besar terjadi. Aku yakin dia tak akan tumbang semudah itu.
"Heavenly Slash!!!" Aku mengayunkan Kensetsu dan membuat cahaya berbentuk bulan sabit meluncur ke arah King yang diselimuti asap tebal. Ledakan kembali terjadi, aku masih yakin dia baik baik saja di dalam sana. Aku meluncur ke bawah sembari mengayunkan pedangku dari atas ke bawah.
Trank!!! Bwush!!!
"Sekarang giliranku!" King kembali memukulku dan membuatku melayang jauh ke atas sebelum aku bisa menarik nafas lega karena serangan sebelumnya. Dia terus melancarkan pukulan beruntun padaku, aku menyilangkan kedua pedangku di depan untuk menghalau serangannya. Perlahan tapi pasti aku terus menjauh dari tanah karena King mendorongku ke atas dengan beribu ribu pukulannya itu.
"Kaito! Kau membuat pilihan yang salah!"
"Kau adalah raja iblis terpayah!" Pekik King terus melempar serangannya padaku. Kata katanya itu semakin membuatku bingung. Tadi Dewa, sekarang iblis, pikiranku semakin kacau. Tapi aku tau, bukan saatnya berpikir yang lain, aku bisa meminta penjelasan kepada Yume lain kali.
"Aku tak peduli!!!" Aku menghilang dan berada di belakang punggungnya dalam hitungan milidetik. Aku langsung mengayunkan kakiku dari atas kebawah dan mengembalikan badan King jatuh ke atas tanah.
"Yume!!!" Teriakku karena tahu Yume bisa melakukan sesuatu.
"Crystal Thorn!!!" Yume mengeluarkan duri duri kristal yang sangat besar tepat di bawah King dan siap untuk menyambut kedatangannya.
Boom!!!
__ADS_1
King menghantam lantai dan duri kristal raksasa itu hancur menjadi kepingan kecil yang menyebar ke segala arah. King ternyata lebih tangguh dari yang kupikirkan, dia ternyata bisa mendarat dengan kedua kakinya. Dengan gagahnya dia kembali bangkit berdiri seperti tak terjadi apa pun. Tergores pun tidak, sungguh orang, bukan, iblis yang sangat hebat.
"He?! Cuma begini saja?" King melesat ke arah Saika. King melencarkan satu pukulan kuat ke perisai yang melindungi Saika itu. Dan yang mengejutkan adalah Saika terpental ke samping karena tak bisa menahan kuatnya pukulan raja setan itu. Tidak, kalau begini, Ai dalam bahaya. Dan benar saja, King juga hendak melukai Ai dengan tinjuannya.
"Aaaaaghhhh!!!" Aku mengerahkan semua kekuatanku dan bergerak secepat cahaya unuk melindungi gadis yang ku cintai itu. Aku berhasil, aku menahan pukulan King dengan kedua bilah pedangku lagi. Mulai sekarang aku tak akan ceroboh lagi.
"Hmm, jadi begitu ... hatimu sudah sepenuhnya berubah jadi malaikat ... tapi, dirimu tetaplah iblis." Kata King tersenyum tipis padaku.
"Hmm, aku memang iblis!" Aku menggunakan Ten Kara No Ken di tangan kiriku untuk menebas zirah yang King kenakan. Aku berhasil mengenainya, percikan api keluar saat pedangku bergesekan dengan zirah emas King. Si raja setan itu melompat mundur untuk menghindari seranganku selanjutnya.
"Mati kalian!!!" King menembakan bola api yang cukup besar. Tapi sebelum bola itu menghantamku, Saika berhasil menghalau serangan itu dengan perisai bajanya itu.
Kelemahannya ... cari itu!
"Ai ... eh, maksudku Yume, apa kamu punya serangan jarak jauh yang sangat kuat?" Tanyaku sembari terus memikirkan cara untuk keluar dari situasi ini.
"Panggil saja Ai, tentu aku punya ... tapi setelah itu aku tak akan bisa berkomunikasi lagi dengan kalian untuk sementara."
"Aku sekarang hanya sebatas roh, dan jika aku memaksakan kekuatanku, aku bisa lenyap." Jelas Ai, tentu saja, serangan yang hanya bisa dipakai sekali. Tapi mungkin itu akan bermanfaat.
"Saika, apa kau bisa gunakan jurus yang tadi?" Lanjutku bertanya kepada si mesum yang ada di depanku.
"Masih Cooldown Senpai, aku sekarang hanya bisa memakai jurus pertahanan." Jawab Saika dengan nada datarnya itu.
Sekarang aku punya dua kartu, satu untuk menyerang, dan satu untuk bertahan. Dan anggap saja masing masing kartu itu hanya bisa digunakan sekali. Berpikir, aku harus berpikir, kakuatan kami terpaut jauh dengan si raja iblis itu. Dan aku belum tahu kelemahan musuh, aku harus mencari tahu itu dulu.
"Saika, lindungi Ai apapun yang terjadi!"
"Ai, bantu aku sebisamu!" Perintahku lalu kembali bergerak maju berusaha menyerang si raja setan itu. Kali ini aku terus menekan King untuk mengetahui titik lemahnya. Aku hanya bisa berharap menemukannya sebelum kekuatanku mencapai batas dan akhirnya Lock.
"Lamban!!!" King menendangku lalu ia melompat mundur. Untung saja kali ini aku berhasil menangkis tendangannya.
Kenapa dia tiba tiba mundur?
Tunggu, aku melihatnya, tangannya yang tadi biasa saja. Sekarang ditumbuhi beberapa sisik merah menyala. Sekarang aku mulai mengerti, dia juga memiliki batasan waktu jika berubah ke wujud manusia. Mungkin sekarang aku akan mengulur waktu dan berharap aku tidak Lock terlebih dulu.
__ADS_1
"Ai!!!" Teriakku lalu kaki King kembali terperangkap kristal milik Ai. Aku memanfaatkan keadaan ini untuk melancarkan seranganku.
"Teknik Kegelapan: amukan api hitam!" Aku mengacungkan ujung Ten Kara No Ken di tangan kiriku kepada King. Tak lama kemudian api hitam melahap tubuhnya. Sekarang aku hanya bisa menunggu dan berdoa agar semua ini cepat berakhir.