Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 186 Tomoya Memories


__ADS_3

"Kak, apa ayah pulang malem ini?" Tanya Kaito yang sedang duduk dengan Hanabi di pangkuannya.


Suara bising yang keluar dari speaker televisi kami. Beberapa bungkus makanan ringan tergeletak di meja depan sofa yang kami duduki ini. Jam dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Kami bertiga sedang berada di ruang keluarga dan menyaksikan kartun kesukaan kami yang tayang di televisi.


Kaito masih berumur lima tahun dan Hanabi genap tiga tahun. Kedua adikku ini masih polos dan belum mengetahui apa-apa yang terjadi di luar sana. Selain ayah, aku juga akan melindungi mereka dengan semua kemampuan yang aku miliki. Ya, walau usiaku masih tujuh tahun. Aku adalah Tenshi terkuat nomor tiga. Bibi Arin berkata Kaito akan menempati posisi ke dua, dan aku belum tahu siapa yang akan menempati posisi satu di daftar Tenshi terkuat itu.


"Aku ga tau, lebih baik kamu temenin Hanabi tidur sana." Ucapku karena melihat Hanabi yang sepertinya sudah mengantuk.


"Aku belum ngantuk loh ...," ujar Hanabi seraya mengusap matanya. Tentu saja dia sudah mengantuk, dia masih balita dan biasanya sudah tidur satu jam lalu.


Ibu kami meninggal beberapa bulan lalu. Dan pastinya itu meninggalkan luka yang sangat dalam di hati kami. Ayah bahkan sempat mengurung diri di kamar seharian untuk menangisi kepergian ibu. Mulai saat itu kami sudah tak bisa lagi merasakan kasih sayang ibu. Hanya ayah satu-satunya orang tua yang bisa diharapkan untuk segera pulang.


"Oi, jangan boong sama aku, kak Tomoya ga bisa diboongin loh!" Aku mencubit pipi adik perempuanku itu perlahan.


"Sakit tau kak! Kak Tomoya jahat!" Pekik Hanabi mulai menahan air matanya yang hendak mengalir keluar itu.


"Oi oi! Ya udah, ayo tidur Hanabi," Kaito menggendong Hanabi dan berdiri dari sofa.


"Kakak ga ikut tidur?" Tanya Kaito yang hendak naik tangga menuju ke kamarnya.


"Ohh, aku nanti aja, kalian duluan!" Jawabku karena masih ingin menyaksikan kartun kesukaanku di televisi.


Beberapa jam berlalu dan mataku mulai berat. Saat aku melihat ke arah jam dinding, ternyata ini hampir tengah malam. Aku pun segera mematikan televisi menggunakan remote yang tergeletak di atas meja depanku ini. Tak lupa aku juga membereskan sampah makanan ringan yang berserakan di meja ruang keluargaku ini. Setelah semua beres, aku segera melangkah menuju tangga.


Tapi langkahku terhenti sebelum aku sempat menaiki anak tangga pertama. Telepon rumah yang ada di ruang tamu berdering dan aku pun terpaksa berbalik untuk menuju ke sumber suara.


"Halo?"


"To-Tomoya, ini paman Kazuki, paman benar benar minta maaf!" Suara paman Kazuki yang sepertinya sedang menangis.


"Kenapa paman? Ada masalah apa?!" Sontak aku pun panik karena mendengar suara paman Kazuki seperti itu.


"Maaf ...," sambungan telepon kamu terputus begiti saja.


Tok tok tok ...


Dan di saat yang sama ada orang yang mengetuk pintu rumahku. Aku melangkah ke pintu depan dan tetap waspada karena perasaanku mulai tak enak.


"Tomoya,"


Ternyata yang ada di depan pintu rumahku adalah gadis kecil sekitar umur enam tahun. Rambut kuning dan kacamata yang ia pakai di wajahnya. Ia mengenakan kaos kuning dan rok pendek warna merah. Dia adalah Fumio, tentu aku bingung kenapa dia bisa kesini di jam selarut ini.


"Aku diminta untuk mengantarmu ke rumah sakit Zei sekarang juga." Wajah dinginya itu selalu mengambil perhatianku.

__ADS_1


"Sekarang? Memangnya ada apa?" Aku keluar seraya menutup pintu depan rumahku ini.


"Mana aku tau, Bibi Arin yang memintaku ke sini." Kata Fumio dengan tatapan dinginnya seperti biasa.


Kamu berdua pun berjalan berdampingan di tengah sunyinya jalanan malam ini. Gemerlap para bintang itu memperindah suasana malam ini. Selain diriku, Fumio juga sering diteliti oleh tim DH. Bahkan kami sering ditempatkan dalam satu ruangan saat di laboratorium. Dari sanalah kami saling mengenal satu sama lain.


Kedua orang tua Fumio membuang dirinya ke suatu panti asuhan. Dan saat umurnya tiga tahun, Bibi Arin mengadopsi dan merawat Fumio seperti anak sendiri.


"Fumio, apa kamu ga ngantuk malem malem gini?" Tanyaku di tengah langkah kami.


"Enggak," satu katanya tanpa melirikku sama sekali.


Setelah itu sama sekali tak ada percakapan di antara kami. Hanya suara langkah kaki dan suara serangga yang berbunyi di malam hari. Entah kenapa perasaanku sedikit tak enak malam ini. Karena rumah sakit Zei tak begitu jauh dari rumah kami. Setelah berjalan kaki beberapa menit, kami akhirnya sampai di depan gerbang rumah sakit itu.


Perhatianku langsung tertuju pada paman Kazuki yang sedang berbincang-bincang dengan Bibi Arin di depan pintu masuk rumah sakit. Aku dan Fumio pun melangkah menghampiri mereka.


"Tomoya, Fumio, kalian sudah datang." Bibi Arin menoleh kepada kami.


"Tomoya!! Maafkan paman!" Paman Kazuki langsung memelukku seakan merasakan penyesalan yang amat sangat dalam.


"Sebenarnya ada apa ini paman?" Tanyaku bingung.


"Ayahmu! Dia ...," Paman Kazuki tak sanggup melanjutkan kalimatnya yang berarti ada hal buruk menimpa ayahku.


"Maafkan aku Tomoya," Paman Kazuki melepas pelukannya dan terus menunduk.


"Jangan bercanda!!" Aku berlari masuk ke rumah sakit dan melihat pintu UGD yang terbuka lebar. Entah kenapa insting menuntunku untuk berlari masuk ke sana.


"Ayaahh!!!" Teriakku saat melihat ayahku terbaring lemas dengan pakaiannya yang sudah basah karena darah.


"Tomoya?" Ia menengok ke arahku dengan tubuh tak berdayanya itu.


"Aya-ayah kenapa?!" Aku mendekat ke ranjangnya dan tak tahu harus berbuat apa.


"Tomoya, ayah minta maaf," ujarnya lirih.


"Tu-tunggu!? Kemana Tenshi yang bisa menyembuhkan luka Ayah!!?"


"Atau?! Aku perlu mencari orang yang punya kekuatan seperti itu dan mencurinya?!" Aku sudah tak bisa berpikir jernih lagi setelah melihat kondisi ayahku.


"Dengar Tomoya, ayah tak perlu itu!" Tangan ayah mengusap kepalaku.


"Lebih baik ayah menyusul ibu, aku minta maaf tak bisa menjaga kalian lebih lama." Kata kata tak masuk akal yang keluar dari mulut ayahku.

__ADS_1


"Omong kosong! Setelah ibu meninggal, sekarang ayah malah seperti ini!?" Aku berbicara dengan suara keras karena sudah kehilangan kendali.


"Dengar, ayahmu ini memang lemah, tanpa ibumu, aku tak bisa berbuat apa pun."


"Jadi, kamu harus kuat menerima kenyataan ini Tomoya!"


"Jangan jadi seperti ayah!"


"Mulai sekarang kamu adalah tulang punggung keluarga Okino."


"Dan ayah punya satu permintaan,"


"Ambilah kemampuan ayah, dan berikanlah kepada adikmu Kaito."


"Aku tak mau!! Ayah harus tetap hidup!!" Baru kali ini aku membantah perintah orang tuaku.


"Tomoya, ini adalah bagian dari rencana."


"Rencana untuk menyelamatkan dunia ini."


"Jika kamu tidak melakukannya, itu sama saja kamu yang membuat dunia ini hancur." Tentu saja ucapanya itu membuatku tak bisa berkata kata lagi.


"Cih, kalau begitu ...," di saat yang sama mataku bercahaya dan begitu pula dengan badan ayah. Tak lama kemudian cahaya itu menghilang dan tandanya aku berhasil mengambil kekuatan ayahku.


"Tomoya," Fumio mengintip di pintu masuk karena tak ingin mengganggu percakapan kami.


"Fumio, tolong jaga Tomoya ya?".


"Selamat tinggal anakku." Ucapan terakhir ayahku lalu kedua kelopak matanya tertutup rapat. Tangannya yang tadi ia letakan di atas kepalaku sudah berubah jadi dingin.


"Selamat tinggal ayah, pengorbanan ayah tak akan sia sia!" Aku meletakan tangan ayah ke atas ranjang perlahan-lahan.


"Huff, jadi begini akhirnya ...," aku menghela nafasku lalu melangkah keluar dari ruangan ini.


"To-Tomoya?" Fumio nampak kebingungan harus berkata apa.


"Apa aku kelihatan sedih? Aku sudah berjanji untuk tidak menangis kan?" Aku mengingat janjiku pada Fumio waktu ibuku meninggal.


"Dasar ga punya otak!!" Fumio memberikan pelukan hangatnya padaku.


"Maaf!! Maaf!! Aku harus melanggar janjiku kali ini saja!" Aku membalas pelukannya dengan air mata yang mengalir keluar.


"Dasar sok pintar! Cengeng! Ga punya otak!!"

__ADS_1


"Tak apa kau melanggar janjimu di depanku ...," suara lembut Fumio yang belum pernah kudengar sebelumnya.


__ADS_2