
"Cantiknya!!"
Bulan purnama yang memancarkan sinarnya. Para bintang yang setia menemani sang rembulan. Udara dingin di malam hari ini. Angin musim semi yang hendak berakhir ini membawa kesan tersendiri saat mereka menyentuh kulitku. Pagar kayu yang menjaga kami agar tak terjatuh ke tebing yang sangat curam itu. Cahaya lampu yang sedikit redup, aku hanya bisa melihat pepohonan sejauh mata memandang.
Aku berdiri di samping si mesum itu untuk sekedar melihat pemandangan dari puncak Okiyama. Kami sudah memakai T-Phone di telinga kanan untuk menunggu perintah dari Fumio. Malam ini aku tak membawa Kensetsu ku, terpaksa aku harus menggunakan kekuatan kutukan dan anugerah dari dewa itu. Aku hanya berharap agar Batas itu tidak datang malam ini. Kalau iya, bisa sangat gawat, lumpuh dan buta. Aku saja sudah ingin mati dengan tubuh normalku sekarang, apa lagi aku harus tak bisa bergerak dan melihat.
Aku harap pertarungan malam ini tak memakan korban, walau si mesum itu selalu membuatku kesal. Tapi tetap saja aku tak akan membiarkanya terluka malam ini.
"Kaito, anak yang bernama Futo kerasukan iblis, dia ada di dekat kalian sekarang!" Suara Fumio yang kami dengar dari T-Phone kami.
Futo?! Bocah laki laki yang ada di kafe tadi siang?
"Dan, Kaito ... aku ingin kamu meminta persetujuan ku jika ingin menggunakan kekuatanmu." Lanjut Fumio.
"Ohh, oke ...," aku hanya mengangguk santai.
"Dan juga, kamu boleh membuka segel Saika." Kata kata Fumio yang tak kumengerti sama sekali.
"Segel?"
"Kamu akan tahu nanti!" Kalimat terakhirnya sebelum ia memutuskan sambungan komunikasi kami.
"Senpai, lihat!" Saika menarik lengan jaket ku dan menunjuk ke depan.
"Ha?!"
Aku melihat bocah laki laki dengan batu kristal merah di dadanya. Dia melayang di langit dengan tubuhnya yang diselimuti aura merah menyala. Itu adalah Futo, bocah rambut biru yang ku lihat di kafe tadi siang. Dia melayang di ketinggian ratusan meter dari hutan lebat yang ada di sekitaran gunung Okiyama ini.
"Fumio, aku akan membuka mode Fate Breaker." Aku meminta persetujuan Fumio dari T-Phone yang ada di telinga kanan ku ini.
__ADS_1
"Diterima!" Satu kata dari Fumio.
"Saika, apa kamu takut terbang?" Aku memajamkan mataku dan menggenggam Ten Kara No Ken di tangan kananku.
Cahaya dan kegelapan, bersatulah di dalam diri ku. Bersamaku kita akan melawan takdir dan mewujudkan impianku!!
"Fate Breaker!!!"
Jubah cahaya ku pun kembali muncul, bagian kanan tubuh ku adalah sisi cahaya yang sangat terang. Sisi kiriku adalah kegelapan dengan sinar merah darahnya. Aku memakai syal hitam yang ujungnya sedikit terkoyak. Mata kiriku berubah menjadi merah menyala, retakan retakan aneh mulai muncul di tubuh bagian kiriku. Aku menggenggam pedang cahaya yang bersinar seperti cahaya matahari di sore hari.
"Besi yang agung, lindungi semua yang aku miliki!" Tameng besi Saika itu kembali menempel di lengan kanan Saika.
"Saika, pegang bahuku!" Saika melakukan apa yang ku perintahkan dan kami pun melompat sangat tinggi ke udara. Dibawah hanya ada pepohonan dan pastinya sakit jika terjatuh dari ketinggian ratusan meter seperti ini.
"Senpai, buka segelku!" Lagi lagi hal yang tak ku mengerti.
"Senpai!" Saika memegang daguku dengan tangan kirinya dan memaksaku menoleh ke arahnya. Hal yang tak terduga kembali terjadi, Saika menempelkan bibirnya ke bibirku tanpa basa basi. Tapi aku tahu pasti ada alasan dibalik semua ini.
Dan benar saja, bola mata ungunya itu bersinar sesaat setelah ia melepas ciumanya itu.
"Cyber Shield open!!!" Seru Saika dengan tubuhnya yang mulai bersinar terang. Sesaat setelah cahaya itu menghilang, Saika sudah memakai baju zirah besi hitam dengan lampu yang ada di dadanya. Dan tak sampai di situ saja, Saika memiliki sayap robot warna silver yang mengkilap, sayapnya itu seperti puluhan pedang yang disusun membentuk sebuah sayap.
"Apa apaan itu?!"
"Kak Saika!" Futo tersenyum lebar dan sinar merah darah mulai berkumpul di depan telapak tangannya.
"Futo!!! sadarlah!!!" Saika berada di depan ku dan bersiap menahan serangan Futo dengan tameng besi yang mustahil untuk ditembus itu.
Futo melancarkan serangan pertamanya. Ia menembakan sinarnya dan membuat ledakan yang sangat besar ketika sinar itu menambrak perisai Saika. Suara dentuman yang sangat keras terdengar. Mungkin pertarungan malam ini akan di lihat banyak orang yang ada di gunung Okiyama. Kami bertiga melayang di udara tanpa ada tempat untuk bersembunyi dari sorot kamera yang bisa saja menangkap gerakan kami.
__ADS_1
Berpikirlah! Bagaimana caranya untuk menghindari itu!!!
Jika saja aku bisa menjatuhkan anak itu ke dalam hutan yang ada di bawah, mungkin saja ...
"Aku akan mencobanya!!!" Aku terbang dengan kecepatan super tinggi menuju Futo.
"Futo!!! Maaf!!!" Aku mengayunkan pedang cahayaku dari atas ke bawah dan berharap itu tak melukai bocah yang ada di depanku ini.
Duar!!!
Futo menahan seranganku hanya dengan lengan kirinya yang mungil itu. Aku terkejut karena bocah sekecil dia bisa menahan seranganku yang sangat kuat ini. Angin sampai mengamuk saat mata pedangku berbenturan dengan lengan kirinya itu. Dan yang membuatku kagum selanjutnya adalah, Futo sama sekali tak bergerak karena seranganku itu.
"Senpai minggir!!!" Teriakan Saika yang mengambil alih perhatianku.
Perisainya terlepas dari lengan kanan Saika dan melayang di depan tubuhnya. Di tengah lingkaran perisai Saika itu muncul cahaya terang yang seakan memberi tanda akan ada sesuatu yang akan ia tembakan.
"The Great Blast!!!" Seru Saika lalu laser biru terang di tembakan oleh perisainya itu. Dengan cepat aku terbang ke atas untuk mengindari serangan Saika itu. Tapi tidak dengan Futo, ia sama sekali tam bergerak dan hanya diam di tempat dengan matanya yang terpejam itu.
Boom!!!
Laser itu menghantam Futo dan ledakannya sampai membuatku mundur beberapa meter karena anginnya yang sangat kuat itu. Aku menyilangkan kedua tangan di depan dan menahan hembusan angin yang membuatku terus bergerak mundur ini. Mataku terbelalak ketika melihat Futo masih sehat dan sama sekali tak tergores karena serangan Saika itu.
"Kak Saika bodoh!!" Teriak Futo lalu melesat ke arah Saika dalam sekejap mata.
"Apa itu?!" Saika bersiap menahan serangan Futo dengan perisai bajanya itu.
"Kak Saika harus mati!!!" Futo memukul perisai Saika dengan tangan kosongnya. Tapi lagi lagi kekuatannya itu membuat ku terkejut, Futo terus menggiring Saika mundur dengan hantaman kepalan tangannya yang sangat kuat itu.
"Itu dia! aku punya ide!"
__ADS_1