Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 21 •Kehidupan yang Lalu 2


__ADS_3

Okino dan ketiga temannya berencana untuk melanjutkan perjalanan menuju ke kastil Bougenville. Satu satunya kastil besar yang dihuni para manusia yang bertahan dari Akame. Kastil itu memiliki benteng berupa tembok besar nan tinggi.


Para tentara juga ditugaskan untuk menjaga gerbang agar tak ada Akame yang mendekat. Mereka berempat baru saja ke sana seminggu yang lalu untuk mengisi ulang persediaan makanan dan persenjataan mereka.


Tapi sekarang nyawa mereka berempat ada di ujung tanduk. Persediaan air minum mereka hanya sekitar dua botol. Dan peluru senjata mereka juga sangat terbatas.


Mereka berempat berjalan menyusuri hutan yang penuh dengan pepohonan untuk bersembuyi dari para Akame yang berkeliaran untuk mencari makan. Kaito memimpin Ema, Erick, dan Vio untuk kembali ke kastil Bougenville dan segera beristirahat.


"Nee ... Okino-sama? ... apa kita bakal balik ke kastil besar itu?" Tanya Ema dengan wajah datarnya itu.


"Hmm ... iya," Okino mengangguk dan tetap memperhatikan keadaan sekitarnya sembari memegang senapan laras panjang yang ada di depan dadanya itu.


"Okino ... bukannya kalo kita balik kesana kita bakal ...," Vio menahan kalimatnya karena mengingat sesuatu.


"Hmm ... padang rumput." Guman Erick dengan wajah cemasnya.


Padang rumput adalah tempat yang paling di hindari oleh para manusia. Bukan tanpa alasan, padang rumput sama sekali tak memiliki tempat untuk berlindung. Ratusan bahkan ribuan Akame selalu ada di sana seolah sekelompok ikan yang menunggu makanan mereka datang.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di ujung hutan. Di depan mereka tak lagi ada pohon, melainkan hanya padang rumput yang dihuni oleh banyak Akame yang kelaparan.


"Ini saatnya ya?" Ucap Erick seraya menyandarkan punggungnya dibalik pohon agar tak terlihat oleh para Akame.


"Ya ... gitu lah," Okino mengintip dari balik pohon dan mengamati keadaan sekaligus berpikir untuk mengatur rencana mereka selanjutnya.

__ADS_1


"Ema ... apa kamu gak takut?" Tanya Vio memeluk Ema dengan erat.


"Selama ada Okino-sama ... aku gak akan takut." Jawab Ema dengan wajah datarnya.


"Ema ... kamu harus tetep berani walau gak ada aku loh," ucap Okino sembari mengusap kepala Ema perlahan.


Alasan Ema memanggil Okino dengan sebutan Okino-sama adalah karena umur Okino yang sudah menginjak angka dua puluh lima tahun. Sedangkan umur Ema baru saja menginjak angka lima belas tahun.


Karena Ema sangat menghormati orang yang dianggapnya sebagai penyelamat hidupnya itu, akhirnya ia memanggil Okino dengan sebutan itu.


Tinggi badan mereka juga terpaut sangat jauh. Tinggi badan Ema hanya sampai bagian dada Okino saja. Walau begitu, Ema sangatlah kuat, ia bisa mengalahkan beberapa Akame hanya dengan sebuah pisau saja.


"Okino ... jangan bilang," Erick memasang wajah cemasnya itu untuk yang kedua kalinya.


Okino memang berencana mengorbankan diri nya agar teman teman nya bisa sampai ke kastil dengan selamat.


"Udah ... sekarang apa kalian liat rumah kecil itu?" Okino menunjuk ke arah rumah kecil yang terbuat dari kayu itu.


Rumah itu masih berdiri kokoh di tengah padang rumput hijau yang sudah menjadi sarang Akame.


"Hmm," Vio mengangguk saat melihat apa yang ditunjuk Okino itu.


"Erick ... aku minta kamu tembak Akame yang jaraknya paling jauh ...," pinta Okino

__ADS_1


"Hmm ...," Erick mengangguk paham.


"Vio ... lempar bom asap jika Akame itu berkumpul di satu tempat ... dan saat itu lah kita harus berlari secepat mungkin untuk sampai ke rumah itu," Jelas Okino.


"Okay ... dimengerti!" Ujar Vio.


"Hmm ... sekarang bersiap di posisi!"


Okino mengacungkan senapannya kedepan untuk berjaga jaga. Ema juga menggenggam pistol di masing masing tangannya. Vio menggenggam granat asap seperti yang di minta Okino. Sedangkan Erick membidik Akame dengan jarak paling jauh seperti yang diminta Okino.


"Sekarang!!" Seru Okino.


Duar!!! swush!!


"Graaarrrhhkk!!!!"


Peluru yang keluar dari senapan Erick menembus lengan seorang Akame dan membuatnya mencucurkan banyak darah. Seperti yang di rencanakan, Akame lain yang ada di sekelilingnya pun mendekat ke mana arah darah itu jatuh.


Setelah Vio melempar sebuah granat asap ke arah para Akame itu. Mereka berempat bergegas untuk segera menuju ke rumah kecil yang ada di tengah padang rumput itu.


Bruak!!!


Okino mendobrak pintu rumah yang terkunci itu dan mempersilahkan teman teman nya masuk terlebih dahulu. Okino pun masuk dan kembali menutup pintu rumah itu rapat rapat.

__ADS_1


"Huh huh huh ... akhirnya." Okino duduk dan menyandarkan punggungnya di pintu depan rumah tua itu.


__ADS_2