
Dua minggu sudah berlalu. Aku bahkan tak pernah masuk ke ruang klub sastra sejak hari pertama sekolah itu. Ai terus saja mengajak ku untuk ikut klub tapi rasa malasku sudah mengambil alih diri ku lagi.
Aku hanya takut, aku takut bila aku gagal lagi seperti sebelumnya. Takdir selalu saja menggagalkan usahaku atau bahkan rencanaku. Aku sudah muak untuk mencoba lagi. Terserah saja masa depanku mau seperti apa.
{Kaito apa kamu mau masuk klub hari ini?}
{Kaito apa kamu sakit?}
{Aku tunggu ya Kaito}
{Kaito kenapa gak masuk lagi?}
Deretan chat dari Ai yang takku balas. Aku hanya membacanya dan tak tahu harus mengetik apa. Sekarang aku hanya pohon yang tumbuh di tengah Padang gurun. Tinggal menunggu saatnya saja, aku pasti akan mati.
Sesekali terbesit niatan untuk bunuh diri. Tapi aku masih terlalu takut untuk mati. Dan juga setiap kali melihat wajah Hanabi, aku selalu mengurunkan niatanku. Pagi ini rasa malas masih menggantung di hatiku. Aku ingin bolos saja hari ini.
Terserah mau seperti apa aku di masa depan nanti ...
"Kakak!!! ... bangun *****!!!",
Plak plak~
Hanabi berteriak dan menampar pipiku berkali kali. Pada akhirnya aku terpaksa membuka kedua kelopak mataku.
"Hmm ... iya iya ...," aku mengusap mata ku dan duduk di ranjang.
__ADS_1
"Kakak mau bolos ya? ... kalo hari ini kakak bolos aku juga bolos!" ancamnya dengan wajah kesal.
"Gak sempet juga berangkat ...," aku melihat jam di ponselku dan berusaha memberi alasan yang masuk akal.
"Sempet *****!! ... gak usah sarapan ... yang penting berangkat dulu cepet!!" Hanabi terus menarik tanganku dan memaksaku untuk sekolah hari ini.
"Cepet cepet cepet cepet!!" Hanabi mendorongku dan terus memaksaku untuk segera masuk ke kamar mandi.
Bruak!!
"Aku tungguin di depan pintu kamar mandi ... kalo kakak gak keluar keluar aku juga gak akan berangkat sekolah," ujarnya setelah aku masuk ke kamar mandi.
Pada akhirnya aku pun mandi dan mengenakan seragam sekolah dan tak ada alasan lagi bagiku untuk bolos hari ini. Karena hari ini tak terlalu dingin aku hanya menggunakan kemeja putih dan dasi ke sekolah.
"Nih ... aku buatin roti isi ... dimakan pas jalan ya!!" Ucap Hanabi seraya memberiku roti isi yang baru saja ia buat.
"Hati hati kak!!" Ujar Hanabi lalu berlari ke arah sekolahnya.
Aku langsung melahap roti isi buatan Hanabi dan melanjutkan langkahku untuk berangkat ke sekolah. Aku sedikit kesal karena tak bisa bolos hari ini. Bukan tanpa alasan, aku bolos sekolah untuk melanjutkan novel online yang ada di website pribadiku.
Ya udah lah ... mungkin besok aku bisa bolos ...
Beberapa saat kemudian aku sampai di depan gerbang sekolah. Ternyata aku belum terlambat walau aku berangkat sedikit lebih lama. Aku berusaha membuang jauh jauh rasa malasku dan melangkahkan kakiku untuk maju dan masuk ke gedung sekolah.
Saat aku baru saja melewati pintu masuk gedung sekolah. Aku melihat Ai yang berjalan beberapa langkah di depanku. Sebaiknya aku tak memanggilnya, karena dia pasti tak mendengarku.
__ADS_1
"Hua cewek tuli lewat tuh ..."
"Dasar cewe cacat ..."
"Percuma juga ... dia gak bakalan denger"
"Hahaha ... iya iya ... kan dia budek ..."
Percakapan sekelompok gadis kelas tiga yang berdiri di koridor sekolah. Ternyata mereka sudah tahu Ai itu tuli. Orang orang seperti Ai gak akan bisa hidup bebas di sekolah ini. Ai tak akan terbebas dari bullyan anak kelas tiga yang nakal.
Terserah ... yang penting bukan aku yang mereka ejek ..
Ai sama sekali tak merespon hinaan tadi. Jadi dia memang benar benar gadis tuli. Mana mungkin ada orang yang raut wajahnya sama sekali tak berubah bahkan masih tersenyum ketika mendengar dirinya di rendahkan.
Ai berhenti di depan pintu kelas dan menoleh ke arahku dengan senyumnya itu.
"Pagi Kaito!", sapanya ramah.
Lagi lagi aku terpaku pada senyumnya itu. Walau begitu aku tetap berusaha mengabaikannya dan hanya mengangguk menanggapi sapaannya. Lagi pula jika aku menjawabnya dia tak akan mendengarku.
Kami berdua pun masuk ke kelas bersama sama. Kondisi kelas sudah sangat ramai dan aku kembali mendengar kebisingan yang palingku benci ini.
"Pagi Kaito!! ... apa kalian berangkat barengan?" Tanya Raku dari bangkunya.
Aku mengabaikannya dan segera duduk di kursiku. Tanpa kata kata, Ai juga duduk di sampingku. Hari yang membosankan akan segera dimulai beberapa menit lagi.
__ADS_1
Aku masih bingung berpikir aku akan ikut klub hari ini atau tidak. Ya, biarkan hatiku saja yang menentukannya nanti.