Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 110


__ADS_3

Hangat, ada sesuatu yang berat menimpaku. Aku merasakan tangan seseorang yang membelai pipiku dengan lembut. Aku bisa merasakan nafas orang itu di wajahku. Aku bisa mencium aroma parfum dan shampo yang tak asing bagiku. Aku membuka mataku perlahan, aku dibuat langsung terbelalak saat menyadari wajah Saika sangat dekat denganku. Si mesum itu menindih ku dan membuatku tak bisa bergerak, dia menjepit pinggangku dengan kedua lututnya.


"Saika?!"


"Apa, Senpai sudah pernah melakukan ini dengan Ai-senpai kan?" Sorot mata dingin tanpa ekspresinya itu membuat jantungku berdebar kencang.


"Melakukan apa maksudmu?" Aku tetap berusaha terlihat tenang walau sebenarnya aku sangat tertekan karena keadaan ini.


"Bohong, Senpai pernah tidur seranjang dengan Ai-senpai kan?" Pertanyaan yang membuat pipiku memerah.


"Bu-bukan gitu ...," aku memalingkan pandanganku darinya.


"Bohong, Senpai bohong." Saika memaksaku untuk menatapnya dengan kedua tangannya yang ada di kedua sisi pipiku ini.


"Ne, Senpai ...," kening kami saling bertemu dan perasaanku jadi campur aduk sekarang ini.


Tidak! Kalau begini terus aku bisa kehilangan kendali!


"Aku menyukai mu Senpai." Ucap Saika lirih dengan hembusan nafas yang mengiringinya.


Haaa!?!! ****** aku!!! Dasar mesum! Jangan tergoda dengannya bodoh!!


"Saika!? Hentikan!" Aku menelan saliva ku sendiri dan keringat dingin mulai keluar.


"Ne, Senpai, aku cemburu tau ...,"


Tunggu!?

__ADS_1


Di saat yang sama aku mengingat gadis rambut pirang keemasan sebahu itu lagi, dia berdiri memakai Yukata kuning dengan motif bunga yang tak asing bagi ku. Aku yakin itu adalah Saika di kehidupan masa lalunya, dia pasti juga memiliki hubungan denganku sampai dia bisa berbuat sesuatu seperti ini.


Ame! Dia adalah Ame!


Aku ingat sekarang, gadis itu bernama Ame. Dia adalah hujan yang tiba tiba muncul di musim panas waktu itu. Dia juga menghilang tepat saat musim panas hampir berakhir. Gadis SMP itu meninggal karena suatu penyakit. Aku ingat sekarang, Saika ternyata adalah adik dari Mirai Ai yang punya rambut pirang keemasan yang sama dengan milik Ame. Jadi selama ini si mesum ini adalah cinta pertamaku yang bersemi di musim panas waktu itu. Ame, dia ada di depan mataku sekarang, dia masih hidup dan menyentuhku dengan kehangatannya.


"Ame?! Kamu Ame kan?!"


"Siapa itu Ame?" Ternyata Saika belum mengingat dirinya yang dulu sepenuhnya.


"Aku tak peduli jika kamu tak mengingatnya, tapi, kamu masih hidup di sini." Aku memeluk Saika dengan erat.


"Senpai? apa Senpai mengigau?" Nada datar yang membuatku tak mengenali sang hujan semangatku yang dulu.


"Hmm, aku mengingatmu sekarang ...," aku melepas pelukanku dan memegang kedua sisi pipinya dengan tanganku.


"Saika, mungkin butuh waktu bagi mu untuk mengingat semuanya, tapi, bisa gak kamu turun dulu." Aku memintanya untuk berhenti menimpa badanku ini.


Kami berdua pun duduk berdampingan di pinggiran ranjang penginapan ini. Keadaan menjadi sunyi sejenak. Aku tak bisa berpikir jernih karena ingatanku yang tiba tiba kembali ini. Dan aku baru sadar Saika memakai jaket hitamku dan hanya mengenakan celana dalam merah mudanya itu. Si mesum itu tetaplah mesum. Tapi, dia juga adalah bagian dari masa laluku. Dia yang membuat ku bisa bertemu dengan Ai di kehidupan keduaku.


Srrtt!! Srrtt!!!


Tiba tiba terdengar suara segatan listrik yang keluar dari tangan kiri Saika. Saika menatap telapak tangan kirinya sendiri. Jari jari tangan kiri Saika bergerak sangat aneh, gerakannya patah patah seperti robot yang rusak. Aku mengangkat alisku tinggi tinggi saat melihat kejadian yang aneh ini. Datang lagi satu kejutan malam ini, entah apa lagi ini, tapi sepertinya ini lebih dari sekedar kejutan.


"Senpai, sepertinya ada yang salah dengan mesinku." Kata kata yang membuat berbagai pertanyaan muncul di kepalaku.


"Me-mesin?! apa maksudmu?!" Aku mulai bingung di buatnya.

__ADS_1


"Ceritanya panjang," di saat yang sama perasaanku jadi tak enak. Aku merasakan sebuah ancaman yang akan segera datang.


"Saika, sst!" Aku meletakan jari telunjuk ku di depan mulutku untuk memberi tanda pada Saika dan mengambil Kensetsu-ku yang bersandar di dinding samping pintu keluar.


Ponsel di saku celanaku berdering tanda pesan masuk dan menambah keteganganku ini.


{Lari!!!}


{Tempat itu akan meledak!!}


"Ha?! Sial!!!" Aku mengembalikan ponsel ke dalam saku celanaku dan segera berlari ke arah Saika.


"Saika kita harus ...,"


Duar!!!


Tepat saat aku menggenggam tangan Saika, penginapan ini sudah meledak terlebih dahulu. Aku terpental entah kemana dan tetap berusaha menahan genggaman tanganku padanya. Ledakan itu cukup besar untuk membuatku kehilangan kesadaranku. Rasa sakit mulai menyelimuti sekujur tubuhku lagi. Panas, bau asap, aku kembali tersungkur di tanah. Aku kehilangan Saika, aku tak bisa menjaga genggaman tangan ku. Tunggu, ada sesuatu yang dingin di pipi kiri ku. Ini adalah besi, aku membuka kembali kedua mata ku dan melihat Saika yang kembali berubah ke mode Cyber Shield. Dia memakai zirah besi hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.


Kami kembali berada di dalam hutan di sekitaran gunung Okiyama. Saika membaringkan ku di tanah, dia ikut duduk di sampingku dan menyandarkan punggungnya di batang pohon besar.


"Saika!? kamu gak apa apa kan?" Aku terduduk dan panik melihatnya memegang tangan kirinya yang terus mengeluarkan aliran listrik.


"Neko ...," Saika mengalirkan air mata di pipinya saat melihat puncak gunung Okiyama yang mengeluarkan kepulan asap hitam.


Neko? apa dia menangis hanya karena kucing hitam tadi?!


Dan yang lebih penting dari itu, siapa pelaku dibalik ledakan besar yang pastinya menewaskan banyak orang itu?!

__ADS_1


__ADS_2