
Tunggu apa ini?!
Dan tebak apa yang terjadi selanjutnya. Setelah cahaya menyilaukan itu lenyap. Aku sudah berdiri di dalam sebuah ruangan gelap. Bukan hanya gelap, ruangan ini digenangi air setinggi pergelangan kakiku. Lembab, gelap, suasana mencekam dan kesunyian abadi.
Hanya terdengar suara tetesan air setiap beberapa detik sekali. Aku menoleh ke segala arah untuk menemukan jalan keluar. Tapi sia sia saja, bahkan aku tak bisa melihat ujung ruangan ini. Kanan, kiri, depan, belakang, hanya terlihat warna hitam tanpa ujung. Jarak pandangku hanya sekitar radius dua meter saja, selebihnya hanya ada bayangan hitam yang mengelilingiku.
"Kenapa kamu ke sini?" Suara gadis tiba tiba menggema di sekitarku.
"Si-siapa?" Tanyaku berusaha tetap tenang.
"Bahkan kamu melupakanku ...," setelah ia mengucapkan kalimat keduanya itu. Aku baru sadar, ini adalah suara si tuli itu. Akhirnya aku bisa mendengar suaranya lagi. Aku hanya perlu mencari dimana dirinya sekarang.
"Ai!!? Itu kamu kan?!" Aku menggerakan kakiki untuk melangkah maju, tak peduli dengan air yang menggenang di lantai ini.
"Mau apa kamu ke sini?" Tanya Ai untuk yang kedua kalinya.
"Dimana kamu!!?" Teriakku terus berlari maju sembari melirik ke segala arah berusaha menemukan petunjuk.
"Tak perlu mencariku, diam disana!" Pekik Ai yang membuatku tersentak lalu menghentikan langkahku ini.
"Kenapa?!" Aku juga baru sadar ada dua tangan bayangan yang menahan pergelangan kakiku. Dan perlahan aku tertarik masuk ke dalam tanah, dan akhirnya tenggelam dalam genangan air yang tadi tingginya hanya se pergelangan kakiku saja.
"Aaaiii!!!"
Teriakanku itu sia sia, tangan kegelapan itu terus membuatku tenggelam semakin dalam.
Apa itu? Apa Ai membenciku?
Kenapa dia tak mau bertemu denganku?
Apa aku terlihat seperti iblis?
"Kaito!! Bangun!! Dasar payah!" Suara Munmei disertai tamparan kuat di pipi kananku. Aku pun tersadar dan mataku terbuka lebar. Aku melihat wajah cantik Munmei dan langit malam penuh dengan kelap kelip bintang.
"Apa yang terjadi padaku?" Aku terduduk sembari memegangi kepalaku sendiri.
"Setelah ledakan besar tadi kamu pingsan, tapi syukurlah setan itu lenyap." Ujar Fuyuka yang berdiri di belakang Munmei.
King tak mungkin kalah semudah ini ...
"Dia kabur, entah kenapa ...," aku bangkit berdiri dan melihat ke sekeliling.
"Iya juga, dia tak mungkin kalah semudah itu," Munmei juga ikut berdiri.
"Ya sudahlah, kita diminta kembali oleh pemimpin tertinggi." Lanjut Fuyuka seraya merapalkan mantra teleportasi untuk kembali ke dalam Bunker Natsu.
Kami bertiga langsung berpindah tempat tanpa mengeluarkan tenaga sedikit pun, dan tanpa memakan waktu yang lama. Dalam sekejap mata kami bertiga sudah berdiri di depan rumah lantai Alpha Bunker Natsu. Saat melihat kekanandan kekiri, aku masih bisa melihat beberapa anak anak bermain layaknya di hari biasa. Mereka berkumpul di jalan depan rumah dan bercanda ria denhan kawan kawannya.
Replika wilayah Chizu ini memang sangat sempurna, bahkan mereka tak sadar diluar sedang terjadi peperangan besar. Rumah rumah yang berjejer rapi, beberapa pohon yang menemani lampu penerang di pinggir jalan. Jalan beraspal dengan lebar sekitar tiga empat meter. Burung burung yang bertengger di atas kabel listrik, Bunker ini bahkan tidak terasa sebagai tempat berlindung.
__ADS_1
"Oi? Ngelamun aja?" Munmei melambaikan tangannya tepat di depan mukaku untuk membuatku tersadar.
"Ohh, maaf ...,"
"Oiya ... Munmei, aku pergi ke lantai Omega dulu, katanya bagian pertahaan mulai kerepotan." Ujar Fuyuka dengan seringai senyum sombongnya.
"Hohh, jangan sombong ... mereka juma pengen kamu ga ikut makan malam bareng kami." Kata Munmei mendekatkan wajah cemberutnya pada Fuyuka.
"Haaa?! Iya juga ... sialan ...," Fuyuka berjalan lemas meninggalkan kami berdua.
"Wahh, kalian berdua dateng ... Mana kak Fuyuka?" Hanabi membuka pintu dan menyambut kami dengan senyuman manisnya.
"Ha anu ... dia lagi ada urusan, kita masuk aja yah!" Munmei memegang pundak Hanabi lalu menuntunnya masuk ke dalam rumah.
Oh iya, gimana keadaan Saika ya?
Aku segera masuk dan menutup pintu depan rumah. Bukanya ke meja makan, aku memutuskan untuk menaiki tangga dan masuk ke ruang kamarku.
"Ano? Saika?"
Hal yang pertama aku lakukan setelah membuka pintu kamar adalah menekan saklar lampu di dinding samping pintu ini. Dan terlihat jelas Saika yang masih terbaring lemas di ranjangku. Tak lupa, aku juga menutup jendela beserta tirainya yang tadi masih terbuka.
"Saika?" Aku mengambil handuk di atas keningnya yang sudah kering itu.
"Senpai?" Ia membuka matanya sedikit dan melirik ke arahku.
"Apa masih ga enak badan?" Perlahan aku menyentuh keningnya untuk memeriksa suhu tubuh Saika.
"Ssstt ... aku ga mau denger itu lagi ya." Aku duduk di ranjang sisi kanan Saika yang berbaring itu untuk beristirahat sejenak.
"Aku tadi mimpi buruk ...," dengan suara kecilnya itu Saika berusaha menceritakan mimpinya.
"Apa?" Tanyaku pemasaran.
"Senpai berubah jadi iblis ...," kata katanya itu membuatku terbelalak.
Apa aku ...?!
Di saat yang sama aku merasakan rasa sakit luar biasa di dadaku. Rasanya seperti ditusuk pedang berkali kali, bahkan jantungku serasa hampir pecah dan berhenti berdetak. Kali ini aku memutuskan untuk mengangkat kaosku sejenak sehingga aku bisa melihat dadaku dengan jelas.
Dan alangkah terkejutnya aku melihat ada urat urat bersinar merah terang yang berpusat ke jantungku. Aku bahkan bisa melihat jantungku bersinar merah darah dari luar. Aku sama seperti Akame, jantungku tinggal keluar dari kulit, dan aku benar benar berubah jadi setan.
"Aaa ... aku ...,"
Bruak!!!
Karena tak kuasa menahan rasa sakit di dadaku ini. Aku jatuh tersungkur ke lantai. Mengerikan, aku benar benar berubah jadi iblis rendahan. Kenapa seperti ini?! Kenapa aku harus mengorbankan hidupku?
"Senpai! Senpai!!" Saika yang tak berdaya itu berusaha bangkit dari tidurnya untuk menolongku. Tapi dia malah terjatuh di sampingku.
__ADS_1
"Saika, kenapa kamu malah bangun?" Tanyaku meringis menahan rasa sakitku ini.
"Sudah jelas untuk menolongmu! Dasar payah!" Ia duduk dan meletakan kepalaku di pangkuannya.
"Kenapa?" Tanyaku lemas sembari memandangi wajah cantiknya dari bawah sini. Aku terlentang di lantai kamarku sendiri, dan kepalaku berada di pangkuan paha seorang gadis mesum yang sedang demam.
"Nee, Senpai berjuang terlalu keras ...," Saika mengusap kepalaku perlahan.
"Dari dulu, aku selalu berpikir, bagaimana caranya untuk membalas semua usahamu ... walau aku tahu Senpai berjuang bukan untukku." Ia menatapku dengan bola mata ungunya yang membendung air mata itu.
"Karena itu, aku tak akan merebutmu dari kak Ai, kakak sudah kehilangan semuanya karenaku." Ucap Saika seraya membelai pipiku. Aku terpaku pada paras cantiknya dan rasa sakitku mulai kulupakan.
"Setelah kita semua menyelamatkan Kak Ai, aku akan mengorbankan diri supaya kalian bisa hidup bahagia ...," Saika mulai mengalirkan air matanya.
"Saika, aku ga akan membiarkan itu terjadi," timpalku memegang tangan kanannya yang ada di pipiku.
"Caranya?"
"Selain memperbaiki takdir dunia, aku juga akan membuatmu tetap hidup di sini!" Ucapku dengan senyum tipis.
"Terima kasih!" Saika tersenyum walau meneteskan air matanya ke wajahku.
"Sekarang ... ayo kita makan malam ... ahh!?" Saat aku mencoba untuk berdiri, rasa sakit di jantungku ternyata masih ada.
"Senpai ... bertahanlah ...," Saika meletakan tangan kanannya di dadaku. Tangaku juga masih menggenggam pergelangan tangan si mesum itu.
"Hmm ... pastinya, jangan beri tahu siapa pun ya?" Aku menarik kaosku dan memperlihatkan kondisi jantung iblisku yang hampir muncul keluar ini.
"Iya, ini rahasia kita berdua ...," ia menutupi kembali menurunkan kaosku agar dasa dan perutku tertutupi.
"Hmm, terima kasih," ucapku lirih.
"Aku minta satu syarat ...," sahut Saika sembari mendekatkan wajahnya padaku.
"Apa?" Aku malah gugup sendiri saat melihat kepalanya semakin turun. Ia membungkuk sampai bibir kami bersentuhan. Saika kembali mengecupku tanpa basa basi. Kehangatan dan kelembutan bibirnya itu membuatku melupakan rasa sakit di dadaku ini.
"Eeeee ....?"
Suara itu membuat kami berdua tersentak dan melihat ke arah pintu kamarku.
"Ha-ha-hanabi?!" Wajah Saika langsung memerah saat melihat Hanabi mengintip kami dari pintu yang terbuka.
"Maaf mengganggu ... Hehe!" Ujarnya terkekeh sembari menutup pintu kamarku perlahan.
"Saika ...,"
"Eh?! Oh?! Iya?! Apa?!" Si mesum itu malah salah tingkah setelah mendengarku memanggilnya.
"Bwahahaha ... kenapa jadi salah tingkah? Padahal kamu yang mulai, ahahaha!" Aku tak bisa menahan tawaku karena melihat tingkah lucunya itu.
__ADS_1
"Se-senpai ... jangan ketawa ...," ia memalingkan wajah merahnya dariku.
Seandainya kamu lebih dulu bertemu denganku, mungkin saja aku akan memilihmu dasar payah.