Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 130


__ADS_3

Lampu lampu yang bersinar terang di langit langit. Meja besi besar yang ada di tengah tengah. Meja meja komputer yang berbaris rapi di pinggiran ruangan. Logo Demon Hunter yang terpampang di dinding belakang tempat duduk Fumio. Aku, Takumi, Taki, dan juga pastinya Fumio. Kami duduk di atas kursi mengitari meja warna hitam ini. Yang tidak duduk di kursi hanyalah Saika, karena tak ada sisa kursi, dia berdiri di belakangku. Kakume dan Haru sedang sibuk menenangkan Mina yang sedang berada di ruangan atas, itulah alasan kenapa mereka berdua tak ada di sini.


Berkumpul di dalam markas rahasia lagi. Tapi, kali ini aku sedang dalam keadaan hancur. Hancur menyadari sahabat lamaku menghilang dari dunia ini. Aku berharap dia masih hidup, walau kemungkinannya kurang dari satu persen. Aku akan tetap mengandalkannya. Raku pasti belum mati, dia pasti masih bisa selamat.


"Pertama, biar aku yang memulai pembicaraan ini." Ucap Taki melonggarkan dasi seragam sekolah yang ia pakai.


"Hmm," Aku melipat tanganku di depan dada dan memenundukan kepalaku.


"Belakangan ini, aktifitas Shogun makin aneh ...,"


"Aku sama sekali tidak memahaminya ...,"


"Sejauh penyelidikanku ..."


Aku tidak menyangkanya, Taki sudah berhasil menemukan markas besar Shogun. Dan letaknya ada di Tokyo jepang. Kemampuan intelnya memang tak bisa diremehkan. Taki bahkan sudah pernah sekali menyusup ke dalam markas Shogun. Hanya saja penyamarannya hampir terbongkar karena dia tak memiliki kartu pengenal yang hanya dimiliki oleh anggota Shogun.


Taki berkata bahwa belakangan ini tak terlihat aktivitas Shogun yang seperti biasanya. Seharusnya, Shogun mengirimkan pasukannya untuk membunuh Tenshi, atau Detroit. Tapi beberapa minggu ini, mereka sangat jarang melakukan itu. Kegiatan mereka yang terakhir kali adalah mengejar aku dan Takumi beberapa waktu kemarin. Tidak, pengeboman rumah Raku itu adalah aktivitas terakhir mereka.


Shogun jadi lebih transparan dan berhati hati belakangan ini. Taki dan timnya nyaris tak bisa mendeteksi mereka sekarang ini. Karena kekuatan tim intel sekarang ini belum cukup kuat untuk menembus selimut yang menutupi semua perbuatan kotor mereka itu.


"Langsung saja, petinggi DH meminta mu untuk pindah divisi ...," Ujar Takumi dengan wajah bosannya sembari menatapku.


"Divisi?" Aku mengernyit karena tidak mengerti apa yang mereka katakan.


"Hmm, aku saja yang jelaskan ...," Fumio melepas kacamatanya dan meletakannya di atas meja.

__ADS_1


Sekarang giliran Fumio yang bicara panjang lebar menjelaskan sesuatu yang baru buatku. DH adalah organisasi yang besar, dan pastinya tidak hanya bergerak dalam satu bidang saja. Banyak Divisi atau pembagian tugas yang ada di dalam DH. Divisi Medis, Intel, Knight, Cyber, dan Detektif. Dan setiap Divisi itu menjalankan tugasnya masing masing.


Tim Medis pastinya menangani soal kesehatan para anggota DH. Tapi bukan hanya itu tugas mereka. Mereka juga bertugas melakukan misi penyelamatan dan membereskan mayat mayat bekas pertarungan. Tugas mereka cukup banyak, Fumio langsung beralih ke divisi intel yang sudah di jelaskan sebelumnya.


Intel bertugas untuk menyelidiki target yang dimaksud oleh atasan mereka. Dan Divisi Knight, sudah jelas dari namanya. Ini adalah Divisi dimana aku berada sekarang ini. Menyegel gerbang neraka, bertarung melawan Akame, dan menyelamatkan orang yang terkena kutukan iblis. Itulah tugas Divisi Knight. Selanjutnya adalah Divisi Cyber, tim ini tidak bertugas di atas lapangan. Tapi mereka cukup duduk di depan layar komputer. Tidak seperti cara mereka bekerja yang seakan tidak berbuat apa apa. Divisi Cyber sangat sangat membantu, mereka lah yang membuat setiap Divisi lain menerima informasi dengan cepat dan akurat.


Kita tinggal menelepon salah satu dari mereka dan informasi yang kita butuhkan akan langsung diberikan. Divisi Cyber juga berperan penting dalam misi para Intel dan Detektif atau penyidik. Yang terakhir adalah Detektif atau penyidik. Tugas mereka hampir sama dengan intel, tapi Divisi Detektif lebih bebas memilih kasus atau target yang akan mereka selidiki. Dengan otak mereka yang cerdik, mereka memecahkan berbagai kasus dan mencari tahu dalang di balik semua kasus itu. Entah itu ulah Enjeruhanta, atau Shogun. Merekalah yang membuat kami tahu aktivitas apa saja yang dilakukan kedua organisasi itu.


Lagi lagi, fakta fakta rumit memaksa masuk ke otak ku yang sempit ini. Penjelasan singkat Fumio itu cukup untuk membuat kepala ku pusing. Tapi, aku sekarang mengerti apa yang mereka maksud.


"Jadi, aku harus pindah ke Divisi mana?" Aku langsung bertanya tanpa pikir panjang.


"Intel, dan juga detektif ...," kata kata Taki yang membuat aku bingung bukan kepalang.


"Ya, karena kamu spesial, kami akan menberimu kewenangan spesial juga ...," ucap Fumio dengan tatapan tajamnya pada ku.


"Hmm, terserah saja lah ...," aku menyandarkan punggungku ke kursi.


"Tahun depan, kamu akan ikut palatihan setahun penuh di Osaka Jepang ...," ucapan Taki yang kembali mengejutkanku.


"Ha? Lalu, bagaimana dengan sekolah ku?" Tanyaku bingung yang menyadari aku masih kelas dua SMA.


"Apa kamu lebih ingin bersekolah dari pada menyelamatkan dunia?" Takumi mengangkat alisnya tinggi tinggi.


"Hmm, gak lah ...,"

__ADS_1


"Kaito, nikmati sisa tahun ini bersama teman temanmu." Ucap Fumio melipat tangannya di depan dada dan memejamkan matanya.


"Hmm, tahun depan akan jauh berbeda dengan tahun ini bagimu ...," Taki berdiri dari tempat duduknya.


"Benar kata Fumio, kamu harus memanfaatkan sisa tahun ini untuk menjalankan misi terakhirmu."


"Misi terakhir?" Aku bahkan tak tahu misi apa itu.


"Apa kau lupa? Playboy kelas kakap?" Ejek Takumi dengan seringai senyumnya yang menyebalkan itu. Dan saat inu juga aku ingat, aku harus membuat Ai dan Saika jatuh cinta sepenuhnya padaku.


"Senpai playboy?" Saika yang berdiri di belakang ku ini mendekatkan wajahnya padaku. Aku bahkan baru sadar Saika sedari tadi berdiri di belakang kursiku.


"Oh iya, janji kita sepertinya batal yah Kaito ... akhir musim panas ini aku ada urusan." Takumi berdiri dari tempat duduknya.


Benar juga, aku ingat Takumi mengajakku berduel di akhir musim panas ini. Untung saja dia membatalkanya kalau tidak, mungkin saja aku kalah darinya dengan kekuatanku yang sekarang ini.


"Tapi jangan harap kamu bebas dari lku, kita akan bertemu lagi nanti, dan saat itulah kita akan bertarung sampai mati ...," Takumi menepuk pundakku dan melangkah masuk ke dalam lift untuk pergi dari sini.


"Fumio ... Takumi akan kemana?" Taki menoleh ke arah Fumio.


"Dia ada misi membunuh Tenshi di Mesir, Rusia, Amerika, dan masih banyak lagi." Jawab sang ketua itu santai.


Sebanyak itu?


"Jadi dia juga akan lebih kuat ya?" Gumamku perlahan.

__ADS_1


__ADS_2