Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 204


__ADS_3

"Apa ini?!"


Aku hanya bisa bingung menoleh ke kanan dan ke kiri. Dua orang laki laki mengepungku layaknya seorang musuh yang layak dibunuh. Aku sudah menerima secercah penjelasan dari laki laki bernama Mirai Hikaru yang ternyata adalah kakak Ai dan Saika. Hatiku sangat hancur saat mengetahui mereka berdua ternyata adalah kakak beradik.


Dua perempuan yang mencintaiku ternyata mempunyai ikatan darah. Dan kakak mereka berdua sedang berada di hadapanku. Hendak menghajarku, padahal aku baru saja sadar dari mimpi buruk. Tapi aku malah mendapat perlakuan seperti ini. Otak kecil nan bodohku ini tak sanggup lagi menahan semua kenyataan di dunia ini.


"Nee, jika kalian ingin membunuhku silahkan ...," Ujarku lemas dengan kepala tertunduk.


"Tak peduli kau adikku atau bukan, akan kuturuti permintaanmu!" Tomoya melesat maju dan menusukan pisau ke perutku, berlanjut ke Hikaru yang menghempaskan badanku ini ke dinding seperti bola tenis menggunakan perisainya itu.


"Senpai!!!" Teriakan Saika yang terdengar malalui speaker ruangan ini. Aku masih bisa melihat wajah adik kelasku itu, yang sedang berdiri melihatku bertarung dari balik kaca besar di dinding ruangan ini.


"Aku mohon! Jangan diam saja! Aku mohon! Tolong!!" Saika menempelkan keningnya ke kaca seraya mengalirkan air matanya keluar.


Apa tujuanku? Kenapa aku sampai disini? Kenapa aku bisa sampai di titik ini?!


"Aku ... bertarung untuk melindungi senyuman mereka!" Aku mencabut pisau di perutku lalu bangkit berdiri.


"Sekali lagi aku tanya! Ai atau Saika?!" Teriak Hikaru penuh emosi.


"Kenapa?! Kenapa kalian baru muncul sekarang haaa?!" Tanpa pikir panjang aku menyerang Hikaru tanpa ampun. Aku membuatnya terus melangkah mundur karena menahan semua tebasan pedangku menggunakan perisainya.


"Kaito!"


Bruak!!


Tomoya melancarkan tendangannya ke arah kepalaku dan membuat aku terhempas lagi karena serangannya. Setelah berguling beberapa kali di lantai, aku kembali bangkit berdiri tanpa rasa gentar sedikit pun.


"Kenapa?"


"Jawablah pilihanmu!" Tomoya kembali berusaha menyerangku. Kali ini ia maju dengan tangan kosongnya.


"Kenapa?"


Aku terus menghindari setiap pukulan kakak kandungku itu. Kanan, kiri, kepala, perut, tendangan kaki kanan. Semua aku hindari satu per satu. Kecepatan serangannya bisa dibilang sangat luar biasa. Aku terus melangkah mundur sedikit demi sedikit saat menghindari serangannya itu. Beberapa kali aku tak sempat menghindari tinjuan itu, tapi aku tetap bisa menangkisnya.

__ADS_1


Sekarang!


Saat aku melihat sedikit celah, aku memanfaatkannya dengan baik. Setelah menangkis pukulan tangan kanannya, aku menebaskan pedang di tangan kananku untuk membuatnya mundur. Tapi mereka memang berencana untuk tak memberiku kesempatan untuk bernapas lega. Hikaru langsung maju untuk menghantamku dengan tameng besi yang sangat menyerupai milik Saika.


Deg!!


Saat aku hendak melompat untuk menghindari serangan Hikaru. Jantungku rasanya ditusuk pedang, rasa sakit yang teramat sangat. Aku tak bisa menjelaskannya dengan kata kata. Alhasil aku tak sempat menghindari hantaman perisai Hikaru. Aku terpental kebelakang sampai punggungku terantuk ke dinding.


"Kenapa? Kalian memintaku memilih?" Aku bangkit berdiri sembari mengusap darah yang keluar dari mulutku.


"Kami hanya ingin tahu jawabanmu!" Kata Hikaru seraya melangkah maju mendekatiku perlahan.


"Kenapa? Kenapaaa?!" Teriakku seraya melesat maju menyerang Hikaru.


Ayunan pedang iblisku ini bahkan tak bisa menggores perisai Hikaru. Walau begitu aku tetap melancarkan seranganku tanpa ampun. Serang dia sekuat tenaga, ayunkan pedangmu, dari atas ke bawah, kanan ke kiri. Lompat, menghindar dari serangannya. Serang lagi, menghindar, tendang, lompat, tebas, aku sudah melakukan segala cara untuk menembus pertahanannya.


"Jangan pikir aku hanya bisa bertahan!" Ucap Hikaru lalu tameng yang menempel di lengannya itu lenyap jadi butiran cahaya.


Ia membuka pertahanannya. Tapi ia sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk menyerang. Hikaru melancarkan beberapa tinjuannya ke arah kepala, perut, dan bahkan berusaha menjegalku. Walau aku berhasil menghindari pukulan ke arah kepalaku, ia berhasil mengenai perut dan membuatku terjatuh ke lantai karena kakinya yang menjegalku.


"Kenapa?" Aku kembali menapakan kakiku ke tanah untuk menopang tubuh lemahku ini.


"Ai atau Saika? Buat pilihanmu sekarang!" Hikaru kembali melesatkan beberapa pukulannya padaku.


"Kenapa?" Aku menjatuhkan pedangku dan menangkis beberapa pukulannya. Tapi pertahananku masih belum cukup, beberapa kali pukulannya berhasil mendarat di wajahku. Berkali kali ia berhasil meninju perutku. Cairan merah kental kembali keluar dari dalam mulutku.


"Kaito! Apa cuma ini kemampuanmu!?" Hikaru terus melayangkan pukulan dan tendangan padaku tanpa henti.


"Kenapa? Kenapa? Kenapa?" Pikiranku mulai kacau, bukan, sudah hancur. Semua sudah hancur, lebih baik aku menyerah dan mati. Aku berhenti menangkis serangan Hikaru dan hanya diam menerima semua tinjuan dan sepakannya.


"Jangan bercanda!!" Pekik Hikaru seraya menendang perutku dengan sangat keras. Punggungku kembali terantuk dinding, walau aku masih berdiri. Tapi aku tak lagi bisa berbuat apa pun.


"Kaito!!" Hikaru melesatkan tinjuan tangan kanannya yang dipenuhi emosi.


Bruak!!!

__ADS_1


Aku memejamkan mataku untuk bersiap menerima rasa sakit. Tapi hal itu sama sekali tak terjadi. Saat aku membuka mata, Hikaru hanya membuat lubang di dinding tepat di samping kiri kepalaku. Ia sengaja membuat tinjuannya meleset beberapa sentimeter dari kepalaku.


"Kau bukanlah pahlawan!" Ujar Hikaru dengan raut wajah penuh amarahnya itu.


"Tomoya, kita lanjutkan besok saja! Hari ini aku bisa membunuhnya dengan mudah!" Hikaru melangkah ke pintu keluar ruangan ini.


"Kenapa? Kalian minta aku memilih?" Pikiranku sudah dipenuhi dengan rasa penyesalan dan amarah. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Dengan tubuh tak berdaya ini aku kembali berdiri tegak, melakukan beberapa langkah kecil ke depan untuk menjauhi dinding.


"Kenapa kenapa kenapa!?! Kalian melempariku dengan pertanyaan yang mustahil aku jawab!!!" Teriakku sembari memegang kepalaku sendiri.


"Sialan!!! Dasar manusia tak berguna!!!" Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat.


Light Chaser!


Seketika tubuhku berubah jadi cahaya putih terang. Rambutku berubah jadi putih. Hanya wajahku saja yang masih berwujud manusia. Seluruh tubuhku sudah berubah jadi cahaya berbentuk manusia. Walau jantungku serasa mau pecah, tapi aku tak lagi mempedulikannya.


"Aku akan mengalahkanmu!!" Teriakku yang dalam sekejap mata sudah ada di belakang punggung Hikaru.


Buuk!! Duar!!!


Aku menendangnya dan menggunakan tubuh Hikaru untuk menjebol pintu keluar yang tadinya tertutup rapat. Tak berhenti di sini saja, aku kembali melakukan teleportasi ke hadapan kakak kandungku.


"Maaf ...," Tomoya menghentikan pukulanku hanya dengan satu tangan. Walau lantai di sekitar kami sudah remuk, dia masih bisa berdiri tegak.


"Aku hanya ingin membuktikan pada Hanabi, bahwa kau bukanlah iblis." Kata kata Kakak yang membuatku terbelalak.


"Pertarungan ini selesai, kamu adalah cahaya harapan kami." Lanjut Tomoya lalu melangkah pergi meninggalkanku.


Tunggu?! Apa aku terlihat seperti setan?


Aku terduduk di lantai lalu memandangi kedua telapak tanganku yang perlahan kembali berubah jadi seperti semula. Setelah cahaya di tubuhku ini lenyap, Saika dan Hanabi keluar dari pintu kecil di sisi kanan ruangan ini.


"Senpai! Apa kamu ga apa apa?" Saika membungkuk sembari mengulurkan tangannya.


"He?" Setelah melihat senyuman manisnya itu, hatiku yang hancur ini serasa perlahan dibangun kembali dari awal.

__ADS_1


"Kak Kaito berhasil!"


__ADS_2