Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 109


__ADS_3

"Senpai? apa kamu gak apa apa?" Suara Saika yang membuatku kembali tersadar.


Aku membuka mataku perlahan dan melirik ke segala arah. Aku sedang berbaring di atas ranjang penginapan. Aku melihat Saika berdiri di sampingku dengan Fumio yang ada bersamanya. Aku harap si loli ganas itu bisa menjelaskan semua yang terjadi malam ini, tentang segel Saika atau tentang kekuatanku yang tiba tiba melemah ini. Aku baru sadar kepalaku dibalut dengan perban untuk menutupi mata kiriku yang tadi mengeluarkan darah.


"Fumio ...," aku bangkit dan duduk di ranjang dengan rasa pegal yang masih ada di sekujur tubuhku.


"Ya aku tau, kamu pasti minta penjelasan tentang kekuatan Saika kan?" Fumio melipat tangannya di depan dada dengan tatapan tajamnya seperti biasa.


Malam ini, satu kejutan kembali menghantamku. Saika sebenarnya bergabung dengan tim ini bukan karena aku yang mirip dengan kakaknya. Tapi kekuatan Saika hanya bisa digunakan ketika berada di dekatku saja. Petinggi Demon Hunter sudah tahu kekuatan besar yang tersegel di dalam diri Saika. Selain Ai, Saika juga memiliki kekuatan besar yang tersembunyi.


Mereka berdua adalah Tenshi yang kekuatanya di segel oleh sang dewa. Segel mereka hanya bisa di buka oleh orang terpilih, yaitu aku. Jika kami bertiga bertarung bersama, tak ada yang bisa mengalahkan kami. Ai memiliki kekuatan yang di sebut sebagai Dewi Kristal. Sedangkan Saika memiliki kemampuan bernama Cyber Shield. Mereka berdua tak masuk jajaran Tenshi terkuat, tapi kekuatan mereka setara denganku dan juga Takumi. Kekuatan luar biasa yang disembunyikan oleh dua gadis terpilih.


"Tunggu! Jika Saika adalah gadis terpilih?!" Aku menyela kalimat Fumio.


"Hmm, ramalan itu ...," Sang ketua tim ini hanya mengangguk dengan matanya yang terpejam.


Jika Ai dan Saika benar benar adalah gadis terpilih itu. Maka kemungkinan besar mereka berdua bisa saja meninggalkan dunia ini seperti ramalan petinggi Demon Hunter itu. Gadis terpilih itu ternyata adalah dua orang, tak kusangka si mesum itu juga sang gadis terpilih itu.


Malam ini kemampuanku melemah ternyata karena aku membuka segel kekuatan Saika. Sekarang aku sudah terkena lock sepenuhnya, aku tak lagi bisa menggunakan kemampuanku selama satu sampai tiga hari kedepan. Tapi walau begitu aku masih bisa bertarung menggunakan Kensetsu-ku itu. Dan kejutan yang datang malam ini tidak sampai di sini saja.

__ADS_1


Fumio juga menjelaskan tentang apa itu Fate Stone. Batu permata yang bisa mengubah takdir seluruh alam semesta. Kemampuan batu itu sama seperti Fate Restart milik para malaikat, tapi skala kekuatan Fate Stone jauh lebih besar. Batu itu bisa saja membuat bumi ini tak sama seperti sekarang. Mungkin bumi bisa berubah jadi dunia fantasi di novel novel yang ada. Tapi walau begitu keberadaan Fate Stone itu masih belum diketahui oleh seorang pun di dunia ini. Dan yang lebih mengejutkan adalah The Key juga mencari keberadaan batu ini.


Tapi, Fate Stone itu tak bisa digunakan oleh sembarang orang. Seseorang yang berusaha menyentuh batu itu saja bisa lenyap menjadi butiran cahaya. Sampai sekarang masih belum ada yang tahu siapa yang bisa menggunakan Fate Stone itu, bahkan mungkin saja aku tak bisa menggunakannya.


Jika saja, aku bisa mengaktifkan kekuatan Fate Stone. Mungkin saja aku bisa memperbaiki semua kesalahan yang aku buat hingga aku berakhir di sini. Dan juga berarti ini bukan kesempatan terakhirku untuk hidup dan bertemu dengan Ai. Tapi, takdir pasti tak akan membiarkan ku melakukanya, dia pasti akan langsung melenyapkanku.


"Hmm, gitu ...,"


"Dan juga, siapa yang membawa Kensetsu ku?" Tanyaku menyadari ada yang ganjil dalam pertarungan malam ini.


"Si pirang mesum yang selalu bersembunyi di balik bayangan." Jawab Fumio santai dan Kakume tiba tiba muncul di belakangnya.


"Apa kalian berdua akan menginap di sini?" Tanyaku menaikan alis ku tinggi tinggi.


"Woah!!! Tawaran yang bagus Kaito!" Ujar Kakume dengan senyum lebarnya.


"Dasar si mesum, otak kosong!" Fumio menarik daun telinga Kakume dengan kasar.


"Aduh aduh!!! Hoi Mio-chan!!" Kakume berusaha melepas tangan Fumio dari telinganya.

__ADS_1


"Aku dan Kakume tetap pulang ke markas malam ini, kalian nikmati saja malam pertama kalian ini." Fumio terus menarik telinga Kakume dan menyeretnya keluar dari kamar penginapan.


"Woaa!!! Kaito!! Kamu dapet yang ena ena lagi malem ini ya!!" Suara Kakume yang masih terdengar saat mereka berdua sudah keluar dari kamar kami.


Kaeadaan kamar pun kembali menjadi sepi. Saika hanya berdiri dan terdiam di depan ku dengan sorot mata dinginnya itu. Dan juga yang membuatku terganggu adalah kemeja yang ia pakai itu masih basah karena air hujan yang turun malam ini.


"Saika, ganti baju sana, entar kamu demam." Ucapku dengan wajah malas.


"Aku kan gak bawa baju ganti Senpai." Saika memiringkan kepalanya.


"Huff ..., ini pakai aja jaketku." Aku melepas jaket hitam ku yang kupakai ini.


"Ohh, ya udah, Senpai tidur aja lagi." Saika menerima jaketku dan segera melangkah ke pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar penginapan ini.


"Hmm," Aku kembali berbaring di atas ranjang empuk ini untuk melepas lelah yang menempel di sekujur tubuhku ini.


Aku memejamkan mataku dan mengistirahatkan pikiran dan badanku ini. Lagi lagi kejutan datang menghantamku malam ini. Ternyata Saika juga sang gadis terpilih, mungkin saja Saika terlibat dengan kehidupanku yang sebelumnya.


Apa mungkin gadis yang mirip Mirai itu adalah Saika?

__ADS_1


__ADS_2