
Fakta pertama, sebenarnya aku sudah tak bisa menggunakan Light Chaser. Itu dikarenakan Mirai Ai berambut pirang atau si bisu itu sudah lenyap karena menyembuhkanku beberapa waktu lalu. Luka tusukan Shinjiro seharusnya sudah membunuhku sewaktu di Korea. Tapi Si bisu itu mengorbankan hidupnya demi aku.
Dan karena lenyapnya si bisu itu, jantungku seharusnya sudah hancur ketika membangkitkan Light Chaser. Ya, sebelumnya Ai yang bisu itulah sang penjaga jantungku agar tetap utuh. Dengan kemampuan penyembuhan hebatnya, tanpa sadar ia sudah menyelamatkanku berkali kali. Kekuatan besarku ini pasti membutuhkan pengorbanan.
Jantungku hanya terancam bila menggunakan sihir cahayaku. Tapi tidak dengan sihir kegelapan. Kekuatannya sama sekali tak terikat dengan batasan. Tapi, aku bisa saja hilang kendali ketika menggunakannya.
Fakta ke dua, semua yang aku jalani selama ini hanyalah kebohongan. Semua diatur oleh peramal bernama Arin itu, semua yang terjadi sekarang ini hanyalah skenario buatannya. Jadi ibu kami meninggal dunia sebelum ayah. Dan hanya Tomoya yang mengetahuinya. Aku dan Hanabi sudah terjebak dalam kebohongan ini selama bertahun tahun. Ya, kalau soal itu aku tak peduli lagi. Yang penting aku punya kakak berjiwa pemimpin. Walau dia sangat dingin, bahkan melebihi aku. Dia pasti sudah berjuang sangat panjang sehingga bisa sampai di sini.
Tomoya memangkul seluruh beban keluarga ini sendiri. Bekerja keras di DH untuk melindungi kami. Tapi malah diriku yang payah ini terpilih sebagai pahlawan. Akulah yang menyebabkan semua ini terjadi. Kekacauan takdir, mulai dari kemunculan Kurai Munmei. Dan bahkan Okino Yuuta, reingkarnasiku dari cerita lain.
Fakta ke tiga, dunia sudah benar benar hancur. Para Akame sudah menjajah bumi. Menginjakan kaki kotor mereka di atas tanah dan menebar kepanikan dan teror. Tak sedikit tentara yang menjadi korban para Akame. Untungnya para warga sudah mengungsi ke Bunker yang ada di masing masing kota.
Fakta ke empat, Shinjiro bukanlah musuh utama saat ini. The Key cuma tipuan belaka, dia tak pernah mengincar Fate Stone dalam tubuh Ai dan Saika. Dan aku sedikit ragu Shinjiro bisa dipercaya, pasalnya dia pernah menusukku seenaknya dan membuat Ai rambut pirang itu mengorbankan dirinya.
Fakta ke lima, kekuatan curianku sudah diambil kembali oleh Tomoya. Bahkan ia mencuri kekuatan penyegelan ayah dan menyegel kemampuan Steal-ku. Sekarang aku tak lagi bisa mencuri atau menyegel kekuatan orang seenaknya. Dan itu kabar bagus, karena aku tak tahu kapan diriku ini hilang kendali.
Fakta yang terakhir, ada dua orang spesial yang duduk satu meja makan denganku ini. Oh iya, aku sudah turun ke lantai Alpha bunker ini. Tempat dimana para pengungsi hidup seperti biasa. Rumah-rumah di wilayah Chizu masih sama persis dengan aslinya. Hanya kota Natsu yang sedikit berbeda, sedikit lebih sempit dan padat. Tentu untuk menampung lebih banyak manusia di dalamnya. Wilayah Chizu mendapat perlakuan spesial. Rumah dan suasana di sini adalah replika dari dunia asli yang sudah hancur.
Aku kembali ke rumahku, duduk di kursi meja makan. Di sebelah kiriku ada Hikaru Saika. Gadis cantik rambut putih tak sampai sebahu. Kacamatanya itu membuat ia semakin imut. Sama sepertiku ia hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Di hadapan kami hadir dua orang yang belum aku kenal. Tidak, aku kenal perempuan di hadapanku ini. Dia adalah Munmei yang bersamaku di Eden. Seingatku ia sangat mirip. Bola mata hijau padam, rambut pirang yang tertata rapi. Ia mengenakan kemeja putih dan rok hitam se lutut. Sekilas dia mirip seperti Ema.
"Yo! Namaku Okino Fuyuka, salam kenal diriku yang lain!" Sapa laki laki yang duduk di samping Munmei itu.
Ternyata mereka reingkarnasi diriku dan Ai. Beberapa cerita yang digabungkan jadi satu. Takdirku memang terlalu kacau. Dan mereka berdualah yang sudah menjelaskan situasi sekarang ini padaku. Betapa rumitnya hidupku sekarang ini.
"Hmm," aku hanya menyangga dagu dengan tangan kananku yang ada di atas meja.
"Jangan datar gitulah Kaito, kami di sini mau pamit kok!" Fuyuka merasa diriku tak menginginkan mereka.
"Bukan begitu, aku cuma sedikit pusing." Ucapku perlahan.
"Kalau gitu ... nikmati saat saat berdua kalian! Kami mau bertemu kakakmu dulu ya Kaito!" Ujar Munmei lalu menarik Fuyuka menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Sampai jumpa nanti Kaito!" Suara Fuyuka yang masih terdengar walau mereka sudah keluar dari rumah dan menutup pintu depan.
"Senpai? Mau aku ambilin minum?" Saika berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menuju dapur.
"Oh iya? Mereka berdua tinggal di sini?" Tanyaku seraya menyusulnya yang sedang berdiri di depan kulkas.
"Iya, Aku dan Munmei tidur di tempat Hanabi. Kau dan Fuyuka tidur di kamar atas." Jawab Saika seraya mengambil dua kaleng teh dingin dari kulkas.
Ohh, ruangan yang tadinya gudang berubah jadi kamar ...
"Ini Senpai!" Saika memberiku kaleng teh yang ada di tangan kanannya.
"Terima kasih." Aku nenerimanya dan langsung meneguk isi kaleng ini.
"Wah, kalian malah mesra mesraan di sana." Ejek Hanabi yang baru saja keluar dari kamarnya.
Bruak!
"Saika? Kenapa? Eh?!" Aku terkejut saat merasakan badannya yang panas itu saat kami bersentuhan.
"Kak Saika kenapa!?" Teriak Hanabi panik berlari ke arah kami.
"Ya udah, Hanabi aku bawa Saika ke kamarmu!" Aku membopong tubuh lemah Saika ini.
"Etto ... Kasurku baru aja ketumpahan minum ... Ehehe." Ujarnya terkekeh seolah tak berdosa sama sekali.
"Heee?! Ya udah, aku bawa dia ke kamarku!" Dan dengan terpaksa aku menggendong Saika menaiki tangga dan meletakan badannya ke atas ranjang kamarku.
"Maaf, aku ngerepotin ...," ucap Saika lirih dengan matanya yang sudah sipit.
"Hmm, ga apa apa ... kamu pasti kecapean." Aku menyentuh keningnya dengan punggung tanganku untuk memastikan suhu tubuhnya. Dan sudah bisa dipastikan dia demam sekarang ini.
__ADS_1
"Ano ... apa ada yang bisa aku bantu?" Hanabi menggaruk kepalanya.
"Beresin dulu kamarmu, biar Saika bisa istirahat." Jawabku dengan wajah datar.
"Si-siap Kak Kaitolol!" Sahut Hanabi memberiku hormat lalu berlari menuruni tangga untuk kembali ke kamarnya.
"Senpai, maaf ...," Ucap Saika tak berdaya.
"Kenapa lagi minta maaf?" Aku membuka tirai jendela kamar ini. Dan aku sadar sekarang sudah tak bisa melihat langit biru yang indah. Hanya ada lampu yang jadi benda penerang di langit langit. Cahayanya sudah sedikit redup menandakan sore sudah tiba di dunia luar.
"Apa mau aku kompres?" Tanyaku seraya melangkah ke depan pintu kamar mandi di ujung kamar ini.
"Hmm ...," Saika menutup matanya dan tak merespon pertanyaanku.
Dia pasti sudah berjuang keras, dan pikirannya pasti kacau. Kami berdua berada di situasi yang sama saat ini.
"Huff ... kenapa?" Gumamku saat membasahi handuk putihku ini di bawah aliran kran wastafel.
Setelah melipat handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat ini. Aku keluar dari kamar mandi lalu berjalan ke arah Saika yang terbaring lemas di atas kasurku.
"Ini ... maaf ...," aku meminta izin untuk meletakan handuk itu di atas keningnya.
"Senpai ...," Saika menahan lengan kananku ketika aku hendak pergi.
"Hmm?" Aku mengangkat alisku tinggi tinggi.
"Jangan pergi ...," Pintanya dengab suara lirih.
"Iya," Jawabku seraya duduk di pinggir ranjang dengan tetap menggenggam tangannya.
Perang takdir? Kenapa harus seperti ini akhirnya?!
__ADS_1
Salah satu dari mereka berdua harus mati demi menggunakan Fate Stone. Tunggu?! Apa aku bisa membangkitkan orang mati menggunakan Fate Stone? Dengan begitu Saika tetap hidup di dunia ini setelah semua ini selesai.