Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 210


__ADS_3

"Ya udah, aku turun bentar ya?" kataku bangkit berdiri dan mengambil piring kotor di atas meja belajarku itu.


Aku langsung keluar dari kamar membawa piring beserta sendok kotor ini menuruni tangga. Hanabi dan Munmei sedang manghabiskan waktu di ruang keluarga. Mereka duduk berdampingan di atas sofa sembari menyaksikan kartun di televisi.


Hanabi menoleh kepadaku seraya berkata. "Piringnya taruh di atas meja makan aja kak! Nanti aku beresin."


"Ohh, makasih, ngomong ngomong kemana Fuyuka?" Tanyaku sembari meletakan piring ini di atas meja makan seperti yang diperintahkan Hanabi.


"Di luar lagi ngomong sama kakak iparmu." Timpal Munmei tetap fokus ke layar televisi.


"Hikaru?" Aku berjalan ke arah pintu keluar rumahku yang terbuka lebar itu.


Sebelum aku keluar dari pintu itu, langkahku terhenti sejenak karena tak ingin mengganggu percakapan Hikaru dan Fuyuka.


"Jadi kamu sudah mengetahui Fate Stone itu?" Tanya Hikaru.


"Iya, si reingkarnasi penjelajah takdirlah yang menceritakannya padaku." Jawab Fuyuka.


Penjelajah takdir? Maksudnya Kazuma? Laki laki yang tiba tiba muncul di rumah sakit beberapa waktu lalu?


Aku sengaja berhenti beberapa meter di belakang pintu keluar menunggu mereka berdua menyelesaikan percakapan.


"Fate Stone itu, adalah jalan keluar yang kami butuhkan. Batu itu bisa membantu kami melenyapkan kutukan yang sudah membuat kami tak bisa merasakan hidup normal. Sejak dulu, takdir kami hanya hidup, bertarung., lalu mati. Itulah kutukan yang God berikan."


"Tapi entah kenapa, muncul secercah harapan, Kazuma datang ke Earth-ku dan bercerita panjang lebar tentang Fate Stone yang ia temukan."


"Langsung saja ke intinya, Fate Stone itu bisa mengubah takdir seluruh alam semesta. Batu itu bisa mengabulkan beberapa keinginan sekaligus, tapi jika kau ingin menyelamatkan nyawa satu orang saja. Itu berarti kau mengorbankan segalanya." Kata Fuyuka yang menjelaskan panjang lebar tentang pengetahuannya mengenai batu itu.


"Maksudmu, jika kita menggunakan batu itu untuk menghidupkan Saika. Dunia ini tidak bisa diperbaiki?" Hikaru menyimpulkan penjelasan Fuyuka.


"Ya ...," jawaban Fuyuka membuatku sangat terpukul.


Kenapa ... kenapa dunia ini sangat membenciku?


Itu artinya, jika aku ingin menyelamatkan nyawa Saika. Aku harus mengorbankan keadaan dunia ini. Ini sama saja aku diharuskan memilih satu atau miliaran orang. Karena hatiku yang kacau ini, aku mengurunkan niatku untuk pergi keluar. Aku membalikan badan dan berjalan ke arah tangga.


"Nee? Kakak kenapa?" Tanya Hanabi ketika melihatku berjalan melewati ruang keluarga.


"Ga ada apa apa," jawabku terus memandang ke lantai dan menaiki tangga untuk naik ke lantai dua.


Greeek!


Aku membuka pintu kamarku lalu masuk ke dalam. Setelah aku menutup kembali pintunya. Aku menyandarkan punggungku padanya, lalu perlahan terduduk di lantai dengan kepalaku yang terus menunduk.


Kenapa?

__ADS_1


Satu pertanyaan yang selalu keluar dari mulutku. Tapi sebenarnya itu bukan hanya satu arti.


Kenapa hidupku jadi seperti ini?


Kenapa takdir tak ingin dunia ini bahagia?


Kanapa aku harus jadi orang terpilih?


Kenapa Ai dan Saika harus jadi wadah Fate Stone?


Kenapa batu sialan itu harus ada di dunia ini?


Kenapa Ai malah menjadi tokoh antagonis di sini?


Kenapa Saika yang harus kukorbankan?


Kenapa aku selemah ini?!


Itu hanya sebagian kecil dari pertanyaan yang munculdi kepalaku saat ini. Aku benar benar tak tahu harus berbuat apa.


"Kenapa?!" Gumamku merapatkan gigiku dan memegang kepalaku. Jujur saja aku ingin menyudahi cerita ini, tak akan ada akhir yang bahagia. Dasar takdir, kenapa manusia harus terikat dengan kejamnya takdir?!


"Senpai?" Suara kecil Saika memanggilku.


"Ya?" Aku mengangkat kepalaku dan melihat Saika yang masih duduk di atas ranjangku.


"Engga ...," aku menggelengkan kepalaku.


Kenapa harus Saika?! ... Kenapa?!


Aku benar benar kacau, sangat kacau. Jadi takdir memang ingin melenyapkan salah satu dari mereka berdua. Seharusnya aku yang lenyap dari dunia ini. Semua ini terjadi karenaku, aku pantas untuk mati. Tapi tidak dengan Saika, atau pun Ai. Mereka seharusnya bisa hidup bahagia.


"Senpai ...," suara lembutnya itu kembali mengambil seluruh perhatianku.


"He?"


Aku tersentak saat melihatnya berusaha bangkit dari ranjangku. Tubuhnya masih sangat lemah untuk melakukan kegiatan seperti biasanya. Sontak aku pun berdiri lalu berlari ke arahnya.


"Oi? Mau kemana?!" Tanyaku panik sembari memegang kedua bahunya untuk membantu dia berdiri.


"Toilet ...," jawab Saika tersipu malu.


"Ohh ...," aku pun menuntunnya sampai ke depan pintu toilet di dalam kamarku ini.


Aku membuka kan pintu untuknya seraya berkata. "Ya udah sana masuk."

__ADS_1


"Apa Senpai ga ikut masuk?" Tanya Saika dengan wajah datarnya.


"Buang aja pikiran mesummu itu sana ...," aku mengusap kepala Saika perlahan dan membiarkannya masuk ke dalam kamar mandi. Setelah pintu kamar mandi itu tertutup rapat, aku menuju ke kasurku untuk duduk di atasnya. Aku duduk dan menyandarkan punggungku ke dinding.


Sekujur tubuhku dipenuhi rasa lelah dan pegal. Otot kaki dan lenganku kaku. Aku butuh sedikit istirahat. Mataku juga sudah terasa berat, perlahan tapi pasti, kesadaranku ditelan oleh kesunyian kamarku ini.


"Senpai? Apa udah ngantuk?"


Suara Saika itu membuat mataku kembali terbuka lebar. Ia menyempatkan waktunya untuk mematikan lampu kamarku ini. Dan tentu hal ini malah membuatku semakin gugup. Aku baru sadar kalau dia akan tidur di sini. Lebih baik aku segera keluar.


"Hooh ... ya sudah, kamu istirahat saja di sini, aku ...,"


Deg!!!


Rasa sakit di jantungku ini kembali menyerang. Aku yang hendak berdiri dan pergi dari kamar ini pun terpaksa menghentikan gerakanku. Saika yang belum menyadari rasa sakitku kambuh itu hanya duduk di samping kiriku dalam diam. Aku berusaha menyembunyikan rasa sakit ini sebisa mungkin. Tentu aku tak ingin membuat Saika khawatir.


"Ya udah, Senpai tiduran sini ...," Saika merapikan bantal dan membaringkan tubuhku di atas kasurku ini.


Sial, aku tak bisa menolaknya ...


Rasanya setiap kali jantungku berdenyut. Ada sebuah benda tajam yang menusuknya. Dan jantungku tentu tak bisa berhenti selama aku masih hidup. Artinya aku akan terus merasakan rasa sakit ini selama aku masih bernapas. Aku pun terpaksa untuk tidur di samping kiri Saika. Adik kelasku itu dengan polosnya membaringkan dirinya di sisiku.


"Nee? Apa masih sakit?" Saika meletakan tangan kanannya di tengah dadaku.


"Hmm ...," aku tak menjawabnya, hanya diam dan menatap ke langit langit kamarku.


"Nee, Senpai ... lihat aku!" Saika menggunakan tangan kanannya untuk menarik bahu kiriku. Aku yang tadinya terlentang, sekarang berbaring menghadap ke arah Saika di sisi kananku ini. Dengan jarak sedekat ini kami saling berhadapan satu sama lain.


"Lupakan rasa sakitmu, aku disini untukmu Senpai." Kata Saika dengan suara lirihnya sembari mendekatkan kepalanya padaku. Dan beberapa saat kemudian kening kami saling bersentuhan. Hangat, karena dia sedang demam, keningnya terasa hangat.


Hangat ... aku merasa sangat nyaman berada di sini. Aku, aku tak bisa menjelaskannya dengan kata kata. Rasa sakit di jantungku ini kembali lenyap hanya karena sentuhan kecil Saika. Tatapan mata kami bertemu, bola mata ungu yang memantulkan sedikut cahaya itu terlihat sangat indah. Hembusan nafasnya itu juga dapat aku rasakan. Aroma parfum dan shamponya membuatku semakin tenang.


"Seandainya ... aku lebih dulu bertemu denganmu saat itu." Ujarnya dengan suara selembut angin musim semi.


"Ha? Maksudmu?" Tanyaku mengerutkan dahiku.


"Asal Senpai tau ... kita satu SMP loh ...," senyuman indahnya itu ia tunjukan di saat yang sama saat air matanya keluar.


Apa?! Tunggu?!


"Saika ... umur berapa kamu kehilangan tangan dan kakimu?" Lanjutku melempar pertanyaan padanya.


"Umm, kelas 2 SMP ... saat kenaikan kelas ...," sahutnya.


Jadi ... dia juga satu SMP denganku ... tapi aku masih belum mengingat dirinya sama sekali.

__ADS_1


"Nee, lupakan ... Senpai yang kutahui saat itu, punya satu impian. Saat Senpai bilang ingin jadi penulis terkenal, aku sangat senang. Karena aku adalah orang pertama yang menerima novel langsung dari tanganmu. Jadi aku pikir, saat kau terkenal nanti, punya banyak penggemar. Aku akan selalu jadi penggemar pertamamu." Ceritanya panjang lebar seakan ia pernah bertemu denganku.


"Kamu bilang lupakan, tapi kamu tetep ceritain panjang lebar ...," aku mengusap kepalanya dan membuat poni rambutnya berantakan.


__ADS_2