
Aku adalah Akatenshi, sebutan itu kudapatkan karena kekuatanku. Aku memiliki kegelapan dan cahaya di dalam hatiku ini. Kekuatan iblis itu datang karena kebencianku terhadap takdir dan dunia ini. Sedangkan Cahaya yang ada di dalam hatiku adalah hasil dari keinginanku untuk melindungi adikku.
Dan juga hasil dari impianku. Aku ingin mengubah takdir dan membuat semua orang yang kukenal tersenyum. Kamampuanku adalah menyatukan Cahaya dam kegelapan dan memanfaatkannya untuk bertarung.
Aku punya banyak perubahan dengan nama namanya sendiri. Dark Breaker, saat dimana aku hanya menggunakan kekuatan kegelapanku saja. Aku pernah melakukannya di misi pertamakku bersama Kakume dan Haru.
Saat aku menggunakan Dark Breaker. Aku seperti menggunakan jubah bersinar warna merah darah dan syal hitam yang ujungnya sedikit terkoyak. Sekujur tubuhku akan muncul retakan dengan sinar yang keluar dari celahnya. Sinar itu sama seperti warna bara api.
Dan aku juga bisa membunuh Akame tanpa menyentuhnya. Aku hanya mengarahkan telapak tanganku ke arah mereka lalu mengepalkan tanganku dengan cepat. Bagiku, rasanya seperti meremukan bola kaca dengan genggaman tanganku.
Jika aku sudah mengepalkan tanganku, jantung Akame itu otomatis ikut remuk. Dan artinya hidup mereka berakhir di sana. Jurus itu bernama Heart Crusher. Dan bukan hanya itu, saat aku menggunakan mode Dark Breaker, tenagaku akan bertambah beratus ratus kali lipat dari tenaga manusia biasa. Aku juga tak membutuhkan pedang saat berada di mode Dark Breaker.
Dan satu lagi perubahan yang ku miliki. Namanya adalah Fate Breaker. Saat dimana aku mengeluarkan semua kekuatan yang kumiliki. Aku menyatukan cahaya dan kegelapan di dalam diriku. Tubuhku seperti memiliki batas antara cahaya dan kegelapan.
Cahaya ada di bagian tubuh sebelah kanan, dan kegelapan berada di sisi kirinya. Aku menggunakan Fate Breaker saat pertarunganku melawan sang iblis yang membunuh teman satu tim Fumio dan yang lainnya.
Cahaya dan kegelapan itu membentuk sebuah jubah yang bersinar. Bagian kiri jubah cahayaku berwarna merah darah. Sebaliknya, bagian kanan jubah cahaya ku bersinar putih terang. Aku juga mengenakan syal yang sama seperti saat aku berada di mode Dark Breaker.
Salah satu jurus yang bisa ku gunakan adalah Light Speed. Ya, kecepatan cahaya. Aku bisa bergerak dengan sangat cepat layaknya sedang teleportasi. Tak cuma itu, aku masih memiliki perubahan lain.
__ADS_1
Mode Dark Beast, perubahan ini adalah yang paling sering aku gunakan. Ini juga perubahan pertamaku, itu terjadi saat pertarungan pertama ku melawan bocah SMP yang kerasukan setan di pinggir sungai Mabuta.
Tubuh bagian kiriku muncul retakan retakan aneh yang celahnya bersinar. Sedangkan tubuh bagian kananku tidak mengalami perubahan sama sekali. Dark Beast, kekuatannya bukan berada di dalam diriku. Melainkan di dalam pedangku.
Ten Kara No Ken, atau senjata yang sebenarnya adalah pisau itu akan menyerap kekuatan cahaya dan kegelapan. Pisauku mengumpulkan cahaya dan kegelapan di bilahnya dan membuatnya bercahaya, lalu memanjang menjadi pedang.
Bilah pedang aku akan bersinar merah darah selama pertarungan. Tapi bilah itu akan berubah warna putih bercahaya ketika aku menusukannya ke jantung iblis di dada orang yang terkutuk oleh iblis.
Sebenarnya, aku masih memiliki satu perubahan lagi. Light Chaser namanya. Saat dimana aku hanya menggunakan kekuatan cahaya. Tapi sayangnya Fumio masih belum tau kekuatan ku itu. Aku saja belum pernah menggunakannya sampai sekarang. Semua itu kuketahui setelah mendengar ocehan Fumio.
"Huff ... Akatenshi ya?" Gumamku di tengah lamunanku.
Ai tertidur dan meletakan kepalanya di pinggiran ranjangku. Rambut hitam yang terurai, bibir merah merona yang tersenyum tipis. Kedua kelopak matanya yang tertutup rapat. Nafas lembut yang bisa kudengar.
"Tenshi ..."
Ai juga adalah Tenshi yang memiliki kekuatan luar biasa. Tapi aku belum melihat kekuatannya yang sebenarnya itu. Dan ku tidak akan mau melihatnya sampai kapanpun. Aku tak akan membiarkannya bertarung.
Aku juga akan selalu melindunginya seperti teman temanku yang lain. Aku tak akan membiarkan si tuli payah ini harus menanggung penderitaan lebih banyak.
__ADS_1
"Ha!! ... Kaito!! ... kamu dah sadar!"
Ai langsung terbangun dan duduk tegak. Kata katanya tadi sampai membuatku terperanjat.
"Jangan ngagetin gitu lah ...",
"Apa?" sepertinya dia tidak mendengar kata kataku barusan.
"Halo? ... denger aku gak?" aku mengetes alat bantu dengarnya itu.
"Ha? apa?"
Jangan bercanda ... alat bantu dengernya bener bener rusak?
"Yang lebih penting ... apa kamu butuh sesuatu? ... makan atau minum? ... apa ada yang sakit? ... apa kamu mau aku suapin?"
Ai melempariku dengan berbagai pertanyaan sembari menarik lengan kaosku. Bola mata ungunya yang berbinar itu terlihat sangat jelas. Entah kenapa aku malah terpaku melihat paras cantiknya itu.
*****!!! ... bodo amat sama cewek tuli ini!
__ADS_1