
Di bawah bulan purnama, awan tebal yang berenang kesana kemari membuat suasana malam ini lebih mencekam. Para warga di setiap negara sudah dievakuasi ke bunker yang ada di setiap kota. Jalanan tanpa tanda tanda kehidupan, kendaraan yang terparkir di tengah jalan. Lampu penerang jalanan terlihat lebih redup dari pada biasanya.
Para zombie atau Akame itu sudah menguasai dunia ini. Mereka melangkah keluar dari Jigoku Gate atau gerbang neraka satu per satu tanpa ada habisnya. Gerbang neraka terbuka hampir di setiap kota di dunia ini. Perang takdir ini sudah dimulai. Tapi dimana tokoh utama kita sekarang ini?
"Hahahahahaha!!!" Suara tawa jahat seorang laki laki yang terdengar sangat nyaring.
Tunggu, Kaito sekarang berada di kota Mesir. Dan lihat apa yang dilakukannya. Kaito berhasil meratakan kota itu dengan kekuatannya yang luar biasa. Sekarang tak ada sekecil apa pun bangunan yang berdiri di sini. Hanya reruntuhan dan api di sana sini.
"Apa hanya ini kemampuan kalian?!" Kaito berjalan di tengah lautan darah hitam para Akame yang baru saja ia bunuh. Tatapan kosong terpancar dari bola mata hijaunya itu. Jaket hitamnya sudah lusuh dan penuh dengan lubang.
Kaito menyeret Kensetsu-nya yang sudah basah karena cairan hitam. Sekarang ia dipenuhi amarah dan dendam, hatinya sudah berubah jadi iblis sepenuhnya. Kaito menghentikan langkahnya saat mendapati ada tiga orang yang berdiri di depannya.
"Siapa kalian?" Tanya Kaito sedikit memiringkan kepalanya.
"Apa kau Tenshi? Bahaya di luar sini! Ayo masuk ke bunker!" Ujar salah seorang dari mereka bertiga. Ternyata mereka adalah anggota Fate Protector atau tim gabungan dari DH dan Enjeruhanta.
"Hmm? Siapa kalian!? Beraninya memerintahku!" Tanpa rasa kemanusiaan Kaito menebas ketiga leher pria itu hanya dengan satu ayunan saja. Darah yang bercucuran kali ini berwarna merah kental, kepala mereka bertiga terpisah dari badannya. Kaito hanya tersenyum tipis menyadari tiga tubuh tanpa kepala itu tersungkur di hadapannya.
Prak!
Sebuah benda terjatuh di genangan darah hitam samping kanan Kaito. Ternyata itu adalah buku catatan kecil yang diberikan Ai untuknya. Dan halaman yang terbuka kali ini bertuliskan.
'Kaito! Hentikan!'
"Humm? Apa ini? Sampah!" Kaito menendang buku kecil itu sampai terpental jauh. Reingkarnasi dewa itu kembali melangkahkan kakinya entah kemana. Tatapan kosong dan seringai senyum menyeramkan itu selalu mengiringi langkahnya.
"He?! Apa ini?!" Kata Kaito setelah ia tersentak dan menghentikan langkah kakinya.
Ia menjatuhkan Katana-nya ke tanah dan memegang kepalanya sendiri. Kepalanya terasa sangat sakit sampai Kaito meringis menahannya. Di dalam alam bawah sadarnya ia sedang berdiri di ruangan putih tak berujung. Tempat yang sama saat Kaito sering bertemu dengan Yume dahulu.
"Kau siapa?" Tanya Kaito saat melihat seorang gadis yang tak ia kenali berdiri di depannya.
Gadis rambut pirang dengan bola mata hijau padam. Sekilas dia mirip dengan Ema, tapi ia sedikit lebih tinggi. Gadis itu mengenakan gaun sekaligus zirah warna biru putih. Tunggu, dia adalah Munmei yang bersama dengan Kaito saat dia masih menjadi dewa di Eden.
"Sadarlah! Kau seharusnya tak begini!" Pekik Munmei sembari melangkah mendekat pada Kaito.
"Apa?" Kaito hanya bisa berdiri dan terpaku karena tak memahami apa yang terjadi sekarang ini.
"Berhenti! Kaito! Aku di sini!" Suara teriakan tak asing yang masuk ke lubang telinga Kaito.
__ADS_1
"Ha?! Ai?!" Kaito berbalik dan melihat si bisu rambut hitam terurai dengan bola mata ungu yang berbinar.
"Kesini, aku akan memelukmu." Ai mengulurkan tangan kanannya disertai senyuman manis yang selalu ia pancarkan itu.
"Ai?" Tentu dengan pikiran Kaito yang kosong ini ia mudah percaya pada Ai di hadapannya itu. Kaito melangkah perlahan menjauh dari Munmei dan mendekat ke arah Ai.
"Kaito! Jangan! Dia bukan Ai yang kamu kenal!" Munmei menghentikan Kaito dan mengambil perhatiannya.
"Heee? Kaito ... apa kamu percaya sama orang yang bahkan kamu ga tau namanya?" Kata Ai terus berusaha menarik Kaito ke arahnya.
"Cih, dasar ular licik!" Gumam Munmei dengan tangan kanannya yang mengepal kuat menahan emosinya. Mendadak suasana menjadi sangat sunyi, perlahan tapi pasti Kaito mendekat dan meraih tangan Ai.
"Mirai Munmei! Jangan harap kau bisa melawanku dengan Kaito yang berada di pihakku!" Kata Ai dengan senyuman lebarnya itu.
"Kurai Munmei, diriku yang jatuh dalam kegelapan. Cih, aku akan segera mengalahkanmu!" Perlahan namun pasti, Munmei memudar lalu menghilang sepenuhnya dari pikiran Kaito.
Sementara itu kita beralih ke Bunker Natsu. Saika dan Fuyuka menyusuri koridor lantai Omega. Berbeda dengan lantai Alpha, lantai ini terlihat jauh lebih futuristik dan banyak lampu di segala penjuru. Detroit yang membimbing langkah mereka berdua berhenti di depan sebuah ruangan.
"Ano, apa ini ruangannya?" Tanya Fuyuka sedikit bingung karena Detroit itu tak punya nama.
"Iya," jawab Detroit itu singkat seraya menekan tombol di samping pintu.
"Kalau gitu aku pamit," Detroit membungkukan badannya lalu melangkah pergi meninggalkan Saika dan Fuyuka.
"Oi? Terima kasih!" Seru Fuyuka sembari melambaikan tangannya.
"Hmm, sama sama!" Detroit itu tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya.
"Ano, Fuyuka ...,"
"Panggil aja Senpai oke?" Fuyuka melangkah masuk ke ruangan itu supaya Saika mengikutinya.
Setelah beberapa menit menunggu di depan meja bundar itu tanpa sepatah kata pun. Tomoya dan Hikaru akhirnya masuk ke ruangan ini. Fuyuka sedikit lega karena ia bisa lepas dari situasi canggungnya itu.
"Yo! Fuyuka!" Sapa Hikaru seraya menghampiri mereka berdua bersama Tomoya di sampingnya.
"Ekhem, Arin sudah cerita semuanya, terima kasih sudah menemani adikku!" Hikaru menepuk pundak Fuyuka lalu merangkulnya dengan lengan kiri.
__ADS_1
"Huff ... jadi kau adalah reingkarnasi Kaito? Kenapa perang takdir ini lebih rumit dari yang kuduga." Tomoya duduk di atas meja dan memegangi kepalanya sendiri. Dia pasti banyak pikiran dan lelah, tentu karena ia adalah pimpinan tertinggi saat ini.
"Tomoya, tenangkan pikiranmu!" Hikaru mencoba menenangkan sahabatnya itu dengan duduk di sampingnya lalu menepuk punggung Tomoya.
"Ini adalah ruang perencanaan, kalian akan kuundang ke sini kalau ada sesuatu. Hikaru, aku ada urusan lain, kau urusi mereka." Tomoya pergi keluar dari ruangan ini membawa beban berat di pikirannya.
"Woo! Maaf maaf, aku lupa mengenalkan diri! Namaku Mirai Hikaru!" Ucapnya memperkenalkan diri pada Fuyuka.
"Ohh, salam kenal," Fuyuka hanya bisa tersenyum dan menggaruk kepalanya.
"Jadi ... atas perintah Arin, kau diminta memanggil roh Mirai Munmei. Dewi perang yang bisa membantu kita." Jelas Hikaru memegang dagunya sendiri.
"Hmm, akan kulakukan sekarang, tapi aku tak menjamin keberhasilannya." Fuyuka menjauh dari meja dan berdiri di tempat kosong.
"Humm? Bisa gagal?" Hikaru mengernyit heran.
"Aku pernah berusaha memanggilnya, tapi dia menolak." Fuyuka mulai memejamkan matanya.
Satu lingkaran sihir besar muncul di bawah kaki Fuyuka. Sekarang ia berdiri di tengah sinar mantra sihir sama seperti yang dilakukan Nami yang dulu dipanggil Hika.
"Takdir adalah takdir!"
"Di dalamnya terdapat sebuah kisah! Kisah dimana Dewi Perang dibunuh oleh cintanya sendiri!"
"Aku! Okino Fuyuka! Salah satu dari reingkarnasi dewa keabadian! Dengan ini aku memanggilmu!"
"Mirai Munmei, sang dewi perang! Angkat pedangmu dan bantu aku memperbaiki kisah ini!" Di saat yang sama sebuah butiran cahaya mulai berkumpul di depan Fuyuka.
"Hmm, terima kasih telah memanggilku Fuyuka!" Suara seorang gadis yang berasal dari butiran cahaya yang masih berusaha membentuk tubuh manusia itu.
"Woah?!" Hikaru kembali berdiri karena terkagum kagum dengan kemampuan Fuyuka.
Setelah menunggu beberapa detik lagi, sekarang terlihatlah gadis keturunan eropa bermata hijau. Rambut pirang yang tertata rapi. Gaun sekaligus zirah yang ia pakai. Dia benar benar Mirai Munmei yang bersama Kaito di Eden.
-----------------
Mirai Munmei
__ADS_1