
Hari ini hari sabtu, adalah hari yang paling kutunggu, tapi tidak dengan sabtu ini. Aku harus pergi ke gunung Okiyama bersama si mesum dingin itu. Entah apa yang terjadi nanti, tapi aku sudah siap untuk semua kemungkinan kejutan yang akan menghantamku hari ini. Pagi ini aku mengenakan kaos putih dan celana panjang warna hitamku. Aku memakai sepatu olahraga warna merahku yang tak pernahku pakai.
Setelah sarapan aku segera memakai jaketku dan bersiap untuk melangkah keluar dari rumah.
"Kaito, apa kamu mau bawa bekal?" Tanya Ai yang sedang sibuk membereskan piring piring dan gelas di atas meja makan kami.
"Gak perlu, aku bawa uang. Hanabi, jaga kakak mu baik baik ya?" Aku mengusap kepala Hanabi yang sedang duduk di kursi meja makan.
"Siap! aku akan menjaga istri kakak laki laki tersayangku!" Hanabi meletakan tangan kanannya di pelipisnya dan memberi hormat padaku.
"*****!" Ucapku lalu membalik badan dan keluar dari rumah.
Saat aku menutup pintu rumah dan membalikkan badanku. Aku dikejutkan dengan si mesum dingin itu yang sudah berdiri di depanku. Dia memakai kemeja lengan panjang warna merah dan rok selutut yang berwarna hitam. Ia memakai kacamatanya dan membuatnya terlihat sedikit lebih imut. Dia membawa tas tangan warna hitam yang ia genggam di depan roknya itu. Entah kenapa aku malah memujinya.
"Selamat pagi Senpai." Sapa Saika tanpa ekspresi di wajahnya itu.
"Hmm, ayo buruan, aku gak pengen pulang malem malem." Aku langsung melangkahkan kakiku dan pergi meninggalkan teras rumahku.
"Senpai, apa hari ini kita beneran ke gunung Okiyama?" Saika menarik bagian belakang jaketku dan terus mengikuti langkahku.
"Kenapa kamu tanya lagi?" Aku tetap fokus pada langkahku dan tak meliriknya sama sekali.
"Emm, apa gak masalah? Apa Ai senpai gak marah?" Saika terus menarik lengan jaketku.
__ADS_1
"Huff, kita kan gak pacaran. Lagi pula Ai juga bukan pacarku." Aku mulai malas menanggapi pertanyaan pertanyaan yang ia lempar padaku.
"Owh, jadi ciuman itu bukan berarti pacaran ya?" Kata katanya itu membuat wajahku memerah.
"Cih, udahlah. Kamu cuma mau liat bunga matahari kan? Setelah itu kita langsung pulang." Aku tak ingin berlama lama bersama si mesum itu, bisa bisa aku stres nantinya.
Setelah sampai di stasiun seberang sekolah. Kami segera masuk dan menunggu kereta datang di peron stasiun. Aku sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun padanya. Aku hanya berdiri dan terdiam seribu bahasa. Saika juga sudah berhenti melontarkan pertanyaannya padaku. Sesekali aku melirik ke arahnya, Saika sedikit menunduk dan pipinya memancarkan rona merah yang samar samar.
Senpai~
Tunggu?! Suara siapa itu?!
Suara gadis yang tak kukenal tiba tiba terngiang di kepala ku. Aku mengingat sesuatu! Itu dia! Gadis SMP dengan rambut pirang keemasan sebahu yang berdiri di sampingku. Lagi lagi aku melihatnya dalam ingatanku ini. Mungkin dia juga adalah bagian dari masa laluku. Sepintas dia sangat mirip dengan Mirai, apa mereka adalah saudara?
"Ohh, ya udah," Kami pun masuk ke gerbong kereta dan segera memilih tempat duduk. Aku duduk di samping kiri jendela, Saika duduk di samping kiriku dengan sorot mata dinginnya itu.
Beberapa saat kemudian pintu gerbong kereta tertutup dan perlahan kereta pun melaju di jalurnya. Aku selalu memandang ke arah langit biru yang indah di pagi hari yang cerah ini. Kami melewati rumah rumah di pemukiman Chizu dengan sangat cepat. Setelah meninggalkan wilayah Chizu pemandangan yang disajikan mulai berubah. Hanya ada pepohonan yang lebat dan jarang terlihat bangunan di sepanjang perjalanan. Kami akan segera menuju ke stasiun yang ada di desa Okiyu dimana tempat gunung Okiyama itu ada.
Dan saat yang tak terduga, tidak, aku sudah menduganya datang juga. Kereta yang kami tumpangi ini tiba tiba mengurangi kecepatannya dan akhirnya berhenti di tengah pepohonan yang rimbun ini. Tak lama kemudian terdengar suara dari masinis yang mengatakan ada masalah dengan kereta yang berhenti di stasiun selanjutnya. Kita harus menunggu beberapa saat agar tak terjadi tabrakan yang tak diinginkan.
"Hufff ... cih, lagi lagi kejutan menghantamku." Gumamku sembari menempelkan pelipisku ke kaca jendela kereta.
"Ne, apa kita harus nunggu?" Saika menarik lengan jaketku dan menatapku dengan tatapan dinginya itu.
__ADS_1
"Hmm, kamu bisa denger sendiri kan?" Aku memejamkan mataku dan menyerah menghadapi keadaan yang selalu saja membuatku lelah.
"Owh," Saika mengeluarkan ponsel dari tasnya dan mulai memusatkan perhatiannya ke sana.
Beberapa menit pun berlalu, tak kunjung ada tanda tanda kereta akan kembali bergerak. Satu jam berlalu, aku mulai pegal karena terlalu lama duduk. Dan beberapa saat kemudian, aku merasakan kepala Saika yang bersandar di pundak kiriku. Aku membuka mataku dan menoleh ke arahnya. Saika ternyata ketiduran dengan ponsel yang masih menyala di genggaman tangannya. Aku iseng mengambil ponselnya dan melihat isi layar dari ponsel si mesum itu.
[Cara berkomunikasi dengan laki laki yang sedang berkencan denganmu]
Judul dari website yang ia buka itu membuat mataku langsung terbelalak. Aku tak menyangka apa yang kulihat ini. Si mesum ini benar benar tak tahu cara berkomunikasi dengan laki laki. Dan tunggu?! Jadi selama ini dia bersikap seperti itu berdasarkan web ini?!
Apa pertanyaan mesumnya itu juga berasal dari sini?!
Di saat yang sama kereta kembali melaju dan membuat Saika terbangun dari tidurnya. Aku segera mematikan layar ponselnya dan berpura pura tak terjadi apa apa. Saika melepas kacamatanya dan mengusap matanya sembari menguap.
"Senpai? apa keretanya udah jalan lagi?" Tanya Saika dengan mata yang masih sipit karena mengantuk itu.
"Ohh ... iya," aku memalingkan pandanganku dan memandang ke luar jendela.
"Eh? mana ponselku?" Saika menggeledah tasnya dan merogoh setiap saku yang ada di pakaiannya.
"Ini," aku mengembalikan ponsel merah mudanya itu dengan memasang wajah cuekku.
"He? Kenapa ada di tangan Senpai?" Saika menerima ponselnya dan memalingkan pandangannya dariku untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah itu.
__ADS_1
"Hmm, tadi kamu ketiduran. Kalo ponselmu jatuh dan ilang, aku nanti yang repot." Aku kembali memandang ke luar jendela menikmati pemandangan yang sangat indah itu.