
Suara bising percakapan banyak orang yang terdengar dalam satu waktu. Suara dentingan antara sendok dan piring. Aroma makanan dan minuman yang campur aduk. Para pelayan yang berjalan kesana kemari membawa nampan berisi pesanan pelanggan.
Kami berdua duduk di kursi yang mengapit meja bundar kayu yang di cat warna merah muda ini. Di atas meja kami tersaji dua piring cake dan dua gelas cokelat panas. Ya, seperti yang aku katakan, aku mengajak Ai ke kafe dan menceritakan semua yang dijelaskan oleh Arin, sang peramal itu.
"Umm, gitu, jadi sekarang adalah waktu yang tepat buatmu untuk mengakhiri semua ini kan?" Kata Ai dengan senyuman seindah pelangi yang ia lempar padaku.
"Hmm, gitulah ...," aku menyangga dagu dengan tangan kananku lalu melihat ke luar jendela yang ada di samping kananku.
Jika semua itu benar, aku tak punya banyak waktu lagi. Aku harus segera memperkuat diriku apa pun caranya. Shinjiro sudah jauh lebih kuat, sangat jauh. Dan jika aku masih berdiam diri di sini, itu tak akan mengubah apa pun.
Aku sebaiknya berjuang lebih keras, jauh lebih keras.
"Ai, apa aku boleh tanya?" Aku memusatkan perhatianku kembali padanya.
"Apa?"
"Hmm, kalo aku ga pulang buat sementara waktu ga apa kan?" Aku sudah memutuskannya, aku akan mengambil misi DH atau bahkan Enjeruhanta sebanyak mungkin.
"Jangan bilang?!" Ai memasang wajah khawatirnya yang itu berarti dia tahu apa yang ada di pikiranku.
"Setelah kita ke festival, aku akan langsung pergi ...," aku menghela nafas dan mengalihkan pandanganku ke luar jendela.
"Nee, jangan memaksakan diri!" Ucapnya menatapku dengan tatapan penuh keseriusan.
"Ai, Munmei, atau siapapun kamu, aku tak akan biarin kamu menderita terus seperti ini." Kami saling bertatap muka dan membicarakan hal yang sangat serius ini.
"Tapi, kalau kamu mati, sama aja kan!" Ujar Ai dengan nada yang sedikit tinggi.
"Hmm, kalau gitu, jangan sampai aku mati kan?" Aku melempar senyum tipisku padanya.
"Aku serius tau!" Ai menggelembungkan pipinya sama seperti yang sering Saika lakukan.
"Dengar, aku ... sudah tak punya pilihan lain selain melakukan itu." Aku menggenggam tangan kirinya yang ada di atas meja.
"Aku akan segera menyelesaikan semua ini, dan kita bisa hidup bahagia." Entah kenapa hatiku rasanya sedikit sakit menyadari cinta yang begitu besar ini. Berjuta-juta kali kami mati dan bertemu kembali. Dan selama itu kami tak pernah hidup tenang dan bahagia.
"Kaito ... maaf ini semua salahku!" Ai mulai mengalirkan air matanya keluar
"Sudah, kamu ga perlu nyalahin dirimu sendiri, aku yang seharusnya minta maaf untuk semua ini." Aku meletakan kehangatan tangannya di pipi kananku.
"Kaito, kamu udah janji buatin novel! Jangan lupa ya?" Ai melempar senyuman yang bisa membuat waktuku berhenti seketika.
__ADS_1
"Hmm, setelah semua ini selesai, aku bakal buatin novel istimewa buat kamu." Dan begitulah percakapan kami berakhir. Kami menghabiskan makanan kami tanpa percakapan sedikit pun. Hampir satu jam berlalu, kami berdua segera pulang ke rumah untuk bersiap-siap pergi ke festival musim panas.
Setelah memarkirkan mobil di jalan kecil yang ada di halaman kastil Ai. Kami segera masuk ke rumah untuk sedikit melepas penat dan bersiap untuk menjalani sisa hari ini. Canda tawa selalu mengiringi isi rumah ini. Ditambah Hanabi yang bahagia merawat Kai, bayi yang aku selamatkan beberapa waktu lalu. Tentu saja aku senang melihat Ai dan Hanabi tersenyum lebar seperti ini.
Dan aku tak ingin pedang tajam takdir kembali merebut mereka dariku. Kali ini, di kehidupan ini, aku tak akan kalah dari Shinjiro. Tak akan kubiarkan dia merebut senyuman Ai, Hanabi, dan semua orang yang aku kenal. Aku pasti akan menyelesaikan semua ini, segera.
Beberapa jam berlalu dengan kebahagiaan sederhana yang aku rasakan ini. Tak disangka sang surya sudah hampir tenggelam. Aku pun segera memutuskan untuk membersihkan badanku di kamar mandi. Dan setelah semua urusanku selesai, aku mengganti pakaianku dengan kemeja dan celana panjang hitam yang ada di lemari pakaianku.
"Hmm, lebih baik aku telepon Fumio," gumamku lalu meraih ponsel yang ada di meja samping ranjangku.
"Ada apa Kaito?" Dalam hitungan detik si loli ganas itu mengangkat teleponku.
"Tolong jangan katakan ini pada siapa pun, aku minta daftar Tenshi atau Detroit yang bisa dibunuh, sebanyak mungkin!" Aku duduk di pinggiran ranjangku sembari menunggu jawaban Fumio.
"Apa? Jangan bilang kau akan memaksakan diri!?" Seperti yang kuduga, ia langsung panik begitu mendengar permintaanku.
"Fumio, tolong, berikan saja apa yang aku minta ... dan jangan katakan ini pada siapa pun." Ucapku sembari memegang kepalaku sendiri.
"Saika juga?"
"Iya, jangan sampai si mesum itu tau." Aku membaringkan badanku ini ke atas ranjang.
"Iya, terima kasih," aku langsung memutuskan sambungan teleponku.
Greek~
"Apa kamu selesai mandi?" Ai membuka pintu seraya melangkah mendekatiku.
"Hmm? Kenapa?" Aku memejamkan mataku sejenak untuk melepas beban pikiranku.
"Perasaanku ga enak, jadi aku buatin ini," Ai memberika sebuah buku catatan super kecil padaku.
"Apa ini?" Aku pun duduk dan menerima buku kecil dengan ukuran sekitar dua kali lima sentimeter saja. Tapi buku catatan ini memiliki banyak halaman yang membuatnya jadi sangat tebal.
"Umm, ga tau ...," ujarnya tanpa menatapku sama sekali.
'Mirai Ai'
'Aku mencintaimu!'
'Jangan lupakan aku!'
__ADS_1
'Aku ada di sisimu!'
'Okino Kaitolol!'
'Kau pasti bisa'
Satu halaman berisi satu kata yang entah berguna untuk apa ini. Tapi ya sudahlah, siapa tahu saja ini akan sangat berguna nantinya.
"Kaito, janji ya!" Senyuman super manis yang membuatku hampir diabetes itu kembali ia lemparkan padaku.
"Apa?"
"Selesaikan semua ini dan kita bakal pacaran!" Ai mengacungkan jari kelingking tangan kanannya.
Ha?! Apa dia baru saja bilang pacaran?!
"Ohh, hmm," aku hanya mengangguk dan mengaitkan jari kelingkingku pada jarinya.
"Kaito aku mencintaimu!" Ai kembali mengecup bibirku tanpa aba-aba sedikit pun.
"Aku siap siap dulu ya!" Ai berlari keluar dari kamarku begitu saja setelah menciumku.
"Apa itu tadi?" Aku hanya bisa duduk diam dan memandangi buku catatan kecil dengan nama Ai di halaman paling depan ini.
"Hmm, Ai sudah banyak berubah, dia bukan lagi si tuli yang aku kenal dulu." Gumamku tersenyum tipis lalu memasukan catatan kecil itu ke saku celanaku.
Hmm, aku akan berjuang dan segera menyelesaikan semua ini.
---------------------
Unmei Series
•Ai No Koe
>Umei To Shiawase
• Penjelajah Takdir
(Masih banyak yang belum rilis)
Jangan lupa like-nya ya!
__ADS_1