
Kaito
"Ano ... Kaito? Apa kamu sehat?"
"Senpai? Apa kamu terluka?"
Dua suara dari dua orang yang berbeda masuk ke dalam telingaku. Ai dan Saika, lagi lagi dua gadis terpilih itu ada di sisiku. Aku tersadar dan kembali membuka mataku. Langit langit itu, bau obat obatan dan suara bising di luar ruangan. Aku berbaring di ranjang rumah sakit. Kepalaku sedikit sakit, mungkin aku kelelahan, aku sampai tak ingan sama sekali sisa kejadian malam tadi.
Gadis cantik dengan rambut putih tak sampai sebahu. Poni rambut yang menutupi mata kanannya. Ia juga memakai kacamatanya, entah kenapa aku selalu merasa dia lebih cantik dari pada Ai. Dia memakai jaket hijau muda dan rok pendek warna hitamnya. Saika, dia berdiri di sisi kiriku. Dan gadis rambut hitam yang terurai sampai ke punggung. Bola mata ungu berbinar yang sama dengan milik Saika. Dagu lancip dan wajah imutnya. Si tuli itu berdiri di sisi kananku.
"Kenapa kalian di sini?" Tanyaku lirih sembari mengumpulkan kesadaranku.
"Hmm? Senpai kemarin malem tiba tiba pingsan ...," jelas Saika dengan wajah datarnya itu.
"Iya, Saika yang bawa kamu ke sini." Tambah Ai.
"Ohh, makasih Saika ...," ucapku perlahan.
"Lalu Takumi?" Lanjutku bertanya.
"Dia sudah kembali menjalankan misi pagi ini, ya walau kemarin malam dia pingsan setelah ancurin gedung." Saika meletakan jari telunjuk di dagunya dan melirik ke atas.
"Hmm ... gitu ya ...," aku langsung bangkit dan duduk di ranjang.
"Etto, tunggu?! Hari ini festival musim panas kan?" Aku terkejut melihat cahaya sang surya menerobos masuk dari jendela ruangan rumah sakit ini.
"Kaito ... malam ini lebih baik kau pergi dengan Saika ... aku ada sedikit urusan dengan Sora." Kata Ai menarik lengan kemejaku berkali kali.
"Eh? Mau ngapain?"
"Mau beliin pakaian baru buat Kai." Entah kenapa dia sudah seperti ibunya Kai.
"Woah ... Ai-senpai perhatian sama anak ...," Kata Saika dengan kedua bola matanya yant berbinar.
"Hoi ... dia bukan anakku ...," sangkalku dengan wajah datar.
"Aku tau kok, Ai-senpai sudah cerita semuanya ...," Tatapan dinginnya itu membuatku bosan.
"Hmm, apa gak apa apa Ai?" Aku memastikannya sekali lagi.
"He? Te-tentu! Kenapa harus tanya lagi?!" Pipinya memerah dan ia pasti menyembuyikan perasaannya yang sebenarnya.
"Ai-senpai cemburu?" Tanya Saika dengan wajah datarnya.
"Aku gak cemburu loh ... ya udah aku pulang dulu!" Ai langsung berbalik dan keluar dari ruanganku.
Eh? Dia bisa denger Saika?
Seketika sunyi menerpa ruangan ini. Entah kenapa keadaan menjadi canggung. Saika hanya diam dan berdiri di samping kiriku. Dan tatapan dinginnya itu malah membuatku semakin gugup. Mungkin aku harus melempar satu pertanyaan untuk melenyapkan suasana ini.
__ADS_1
"Etto ... Saika, kenapa aku pingsan tadi malam? Aku gak inget apa apa soalnya hehe ...," Aku terkekeh sembari menggaruk kepalaku.
"Umm ... setelah Senpai menyegel Takumi-sensei ... Senpai pingsan bersamanya ...," jawab Saika.
"Ohh ... gitu kah? Oh iya ... nanti malam apa kita akan pergi ke festival?" Aku berpura pura bermain ponsel karena terlalu gugup.
"Te-tentu ... aku akan pakai Yukata yang kita beli malam itu." Ucap Saika lirih dengan rona merah di kedua pipinya itu.
"Hmm ...," di saat yang sama Fumio meneleponku.
"Kaito? Apa kamu sudah baikan?" Dia langsung saja melempar pertanyaan setelah aku mengangkat teleponnya.
"Hmm, sudah ... ada misi lagi?" Aku menapakan kakiku ke lantai sembari memakai sepatuku.
"Di atap rumah sakit, ada gadis yang terkena kutukan, bisa tolong bantu?" Lagi lagi ada masalah yang datang. Tapi ya sudahlah apa boleh buat.
"Baiklah, aku dalam perjalanan." Aku langsung memutus sambungan telepon kami dan berdiri tegak.
"Saika, ayo ke atap, ada gadis yang butuh bantuan." Aku langsung melangkah keluar dari ruanganku disertai Saika yang mengikutiku seperti ekor. Setelah menaiki puluhan anak tangga, kami akhirnya sampai ke atap runah sakit. Hampir sama seperti atap gedung sekolah, hanya saja di sini terdapat taman bunga di setiap ujung dan di tengah tengah. Aku melihat gadis dengan seragam SMA Asakura sedang berdiri dan menghadap keluar pagar besi yang membatasi pinggiran atap gedung ini.
Tunggu ... aku mengenalnya ... dia yang sering berasama Shou di perpustakaan sekolah.
"Ano ... Sakura-senpai? apa itu kau?" Aku memanggilnya dan berusaha mendekat ke arahnya.
"Eh? Kamu siapa?" Dia berbalik dan bingung melihatku dan Saika.
"Shou ... ohh ...," raut wajahnya berubah seketika setelah mendengar nama Shou.
"Siapa namamu? Dan pacar cantikmu itu?" Pertanyaan Sakura membuat pipiku dan Saika memerah seketika.
"Ano ... Aku Okino Kaito, dia Hikaru Saika ... dan kami belum pacaran." Jelasku.
"Ohh ... jadi kamu Kaito ...," Sakura kembali berbalik dan memandang keluar pagar.
Jrak!!
Hal yang tak terduga kembali menghantamku pagi ini. Sakura tiba tiba menusuk pundak kiriku dengan pisau yang entah datang dari mana. Aku hanya bisa terbelalak dan menahan rasa sakit ini. Kutukan itu pasti mulai membuat Sakura kehilangan kendali. Aku tinggal menunggu jantung iblis itu keluar dan menyegelnya dengan kekuatanku.
"Senpai?!" Saika sudah siap dengan perisai bajanya yang menempel di lengan kanannya.
"Urusi saja Akame di belakang ... hati hati ya Saika?" Aku melempar senyum tipis supaya ia tak khawatir padaku. Entah kenapa beberapa Akame bermunculan di atap rumah sakit ini. Sekitar sepuluh Akame muncul dan bersiap menerkam kami dari belakang. Untung saja ada si mesum itu di sisiku.
"Baik Senpai!!" Saika segera melakukan tugasnya dengan bertarung membasmi para pengganggu itu.
"Senpai ... apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyaku sembari menahan rasa sakit.
"Ma-maaf Kaito, aku ... aku aku gak bisa ngendaliin tanganku!" Sakura mulai panik karena melihat darahku menucur keluar.
"Hmm, Senpai ... apa kamu sedih karena tau akan kehilangan Shou-senpai?" Aku mulai mencoba mengeluarkan iblis dari dalam diri Sakura.
__ADS_1
"Berisik! Kau tau apa soal diriku ha?!" Suaranya berubah jadi seperti nenek nenek tua dan matanya memerah.
"Aku tak tau, tapi aku cuma ingin memberi taumu ...,"
"Kau tau gadis yang bertarung di belakangku?"
"Kemungkinan besar dia juga akan meninggalkan dunia ini tak lama lagi."
"Aku tahu perasaanmu ... aku tahu seperti apa rasa sakitnya."
"Aku tahu seperti apa perihnya."
"Apalagi kau punya kenangan indah bersamanya ...,"
"Mungkin lebih baik mati kan?"
"Takdir tidak akan membiarkan senyuman dan kebahagiaan bertahan lama."
"Takdir akan selalu mencoba untuk melenyapkan kebahagaiaan."
"Meskipun begitu ... jangan menyerah, lawan takdir itu semampumu ... walau kau tau mustahil untuk berhasil."
"Sakura-senpai, Shou-senpai ... biarkan takdir melihat senyuman di wajah kalian."
"Jangan pikirkan takdir itu, biarkan dia menyesal sudah berbuat seperti ini."
"Berjuanglah sampai akhir, pikirkanlah Shou-senpai dan keluargamu."
"Buat mereka tersenyum dan melupakan apa yang akan terjadi padamu."
"Dengan melihat senyuman mereka, kau pasti akan tenang."
"Aku yakin itu, Shou-senpai pasti menunggumu."
"Jangan biarkan iblis itu membunuhmu!" Aku menggenggam lengan kanan Sakura yang menancapkan pisau di bahu kiriku.
"A-aku ... aku akan berjuang!" Tangan kirinya mulai berusaha menarik tangan kanannya yang dikendalikan oleh iblis.
"Shou ... aku mencintaimu!" Di saat yang sama benda seperti kristal merah bersinar tumbuh di tengah dada Sakura.
"Hmm ... Senpai, berjuanglah."
"Seal!" Aku langsung menggunakan jurus penyegelanku dan menghancurkan jantung iblis itu tanpa menyentuhnya.
Bruak!!
Aku langsung tersungkur karena kehilangan banyak darah. Lagi lagi aku ceroboh. Setelah ini aku pasti kembali bangun di atas ranjang. Begitu lemahnya diriku ini, tapi, aku lega bisa menyelamatkan nyawa seseorang lagi. Walau aku hanya memperpanjang hidupnya sedikit. Tapi, kenangan sedetik saja itu sangat berharga.
Saika, jangan sampai terluka *****!
__ADS_1