Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 183 Forgotten Brother


__ADS_3

------------------


Di malam yang sunyi, hanya ada suara deru aliran sungai tenang di malam hari. Dua orang laki-laki tak dikenal sedang berdiri di pinggir aliran sungai Mabuta ini.


"Hikaru, apa kau yakin ini sudah saatnya?" Kata seorang laki-laki rambut pirang berkacamata yang memejamkan matanya itu. Ia memakai jubah hitam dan wajahnya sama sekali tak berekspresi.


"Hmm, adik-adik kita pasti nunggu kan Tomoya?" Ujar Laki-laki bernama Hikaru yang berdiri di samping Tomoya itu. Anehnya ia memakai Zirah besi hitam yang sangat mirip seperti milik Saika. Dan bukan hanya itu, rambut putih dengan poni yang menutup mata kirinya. Dia sedikit mirip dengan Saika, hanya yang membedakannya adalah Hikaru punya bola mata berwarna emas.


"Hmm, mereka pasti tak akan mengenal kita, apa lebih baik kita tidak muncul?" Tomoya membuka kedua matanya dan terlihatlah manik mata dengan warna yang tak biasa. Kedua bola matanya itu terdiri dari warna hijau, biru, dan merah yang bercampur aduk jadi satu.


"Oi, kacamata peang, apa kamu ga kangen sama dua adikmu?" Lanjut Hikaru menepuk pundak Tomoya untuk meyakinkannya.


"Hmm, tentu, aku hanya takut mereka tak bisa menerimaku." Tomoya tetap memasang wajah datarnya itu.


"Heh! Mana ada adik yang ga nerima kakaknya, kau terlalu cerdas sampai meperhitungkan segala hal ya?" Hikaru terus berusaha meyakinkan hati temannya itu.


"Hmm, tunggu, ada yang datang." Tomoya melangkah maju beberapa kali.


"Graaaarrrhhkk!!!" Seekor, seorang, atau apalah itu. Akame raksasa muncul di hadapan mereka. Cara monster itu keluar dari tanah sangat mirip dengan Akame biasa. Tubuh kekar berotot dengan urat-urat yang bersinar terang. Bola kristal merah yang menancap di dahinya.


"Haa? Si gendut itu lagi?" Ujar Hikaru dengan wajah malas disertai sebuah perisai langsung melekat di lengan kanannya. Dari bentuk dan ukuran perisainya, bisa dipastikan Hikaru memiliki kekuatan yang sama seperti milik Saika.


"Graaahhkkk!!!"


Bwush!!!


Saat monster besar itu hendak meninju Tomoya, dengan sigap Hikaru langsung berdiri didepannya untuk menahan serangan monster itu dengan perisai baja yang super kuat itu.


"Cih, Dragon Blast!" Tomoya mengumpulkan energi sihir di telapak tangannya selama beberapa detik. Dan tepat saat Hikaru melompat tinggi ke udara, Tomoya menembakan cahayanya yang super terang itu. Setelah kilatan cahaya tadi menghilang, terlihatlah Akame raksasa itu tersungkur tanpa kepala. Tentu iblis itu langsung mencair jadi cairan hitam menjijikan.


"Selesai?" Hikaru kembali mendarat dengan perisainya yang sudah menghilang jadi butiran cahaya.


"Aku akan menelepon Fumio," kata Tomoya lalu menempelkan ponsel ke telinga kanannya.


"Aku sedang sibuk! Jangan ganggu!" Suara Fumio yang keluar melalui speaker ponsel Tomoya.

__ADS_1


"Ha?" Akhirnya Tomoya menunjukan ekspresi di wajahnya itu. Ia nampak sangat terkejut sampai mulut dan matanya terbuka lebar.


"Hoi hoi? Kenapa? Kaya habis ditolak aja?" Tanya Hikaru bingung.


"Tak apa, kita langsung saja teleportasi ke sana," Tomoya mengembalikan ekspresi dinginnya itu.


"Heee? Haduh, siap siap pusing nih!" Hikaru meletakan tangan kirinya di pundak Tomoya.


Swush!


Dalam sekejap mata mereka menghilang lalu muncul kembali di dalam Bunker markas tim Fumio. Ruangan putih dengan lampu yang berjejer di langit langit. Meja komputer yang berbaris rapi di sisi ruangan. Meja besi besar yang ada di tengah-tengah ruangan. Dan logo Demon Hunter yang terpajang di dinding belakang tempat duduk Fumio. Di dalam sini hanya ada Fumio dan Saika yang duduk berdampingan. Saika hanya melihat Fumio sibuk dengan laptopnya.


"Fumio?"


"Siapa kalian?!" Fumio langsung berdiri dari tempat duduknya dan menodongkan senapan laras panjang pada mereka berdua.


"Kakak!!!" Saika yang duduk di samping Fumio segera berlari ke arah Hikaru dan memeluknya dengan erat.


"Eh eh?! Saika? Tenang dulu," Hikaru menerima pelukan hangat adik perempuannya itu sembari mengusap kepalanya lembut.


"Tu-tunggu?! To-to-tomoya?!" Fumio tampak sangat gugup saat melihat si kacamata pirang itu.


"Biarin sih! Masih co-cocok juga kan?" Pipi Fumio memerah dan sikapnya itu jauh berbeda dari biasanya.


"Hmm, kenapa tadi kamu panik waktu aku telepon?" Tomoya mengangkat alisnya.


"Adikmu itu ceroboh tau! Dia ngambil misi Hunter sendirian!" Pekik Fumio panik.


"Biarkan Kaito, dia pasti sudah menemukan kekuatannya yang sebenarnya." Sahut Tomoya santai seakan tau pasti Kaito adiknya itu akan baik-baik saja.


"Apa temen kakak ini kakaknya Kaito?" Tanya Saika setelah melepas pelukannya dari kakak tercintanya itu.


"Ayo duduk dan kakak bakal ceritain semuanya!" Pinta Hikaru dengan senyuman ramahnya.


Mereka berempat pun duduk mengelilingi meja besar yang ada di tengah ruangan ini. Dan akhirnya Tomoya menceritakan semua hal yang membuat mereka berdua tak bisa menemui adiknya sendiri. Dimulai dari Okino Tomoya, kakak tertua dari tiga bersaudara di keluarga Okino. Saat umur Kaito sekitar lima tahun, Ibunya meninggal dan membuat keadaan keluarga Okino makin rumit.

__ADS_1


Dan sisitulah peran penting Tomoya, ia mempunyai kemampuan yang sangat unik. Tomoya bisa memindahkan kemampuan satu Tenshi ke Tenshi yang lainnya. Sejak bayi Tomoya sudah jadi objek penelitian oleh DH. Tomoya adalah Tenshi yang paling diawasi karena kemampuannya yang berbahaya itu.


Dan pada saat umur Tomoya tujuh tahun. Ia tak sengaja mengambil kekuatan teman sekelasnya yang bisa memanipulasi ingatan orang lain. Dan DH pun memberikan solusi terbaik bagi Yamato dan keluarganya. Arin memberi perintah pada Tomoya supaya menghapus semua ingatan adiknya dan menberikannya ingatan palsu. Dan mulai saat itulah Kaito dan Hanabi hidup dalam kepalsuan. Ibu yang mereka ingat dan sering mengirimkan uang bulanan itu sebenarnya tidak pernah ada.


Begitulah kebenaran keluarga Okino yang sangat rumit. Walau sebenarnya ceritanya masih panjang. Tapi Hikaru dan Tomoya tak punya banyak waktu lagi.


"Dan yang kedua, ini kenapa aku ninggalin kamu Saika," Hikaru berlanjut ke kisah dirinya sendiri.


Mirai Hikaru juga adalah kakak tertua dari tiga bersaudara. Ai, Saika, dan Hikaru, mereka lahir dari ibu yang sama. Tapi bahkan Hikaru pun tak tahu seperti apa rupa ibunya sendiri. Kazuki selalu merahasiakan identitas istrinya yang telah meninggal itu. Dan setelah kecelakaan yang merenggut tangan dan kaki Saika, Hikaru menyesal dan memutuskan untuk pergi mengambil misi Hunter bersama Tomoya.


"Selain perintah dari Arin, aku juga ingin lebih kuat untuk melindungi kalian bertiga." Lanjut Hikaru menghela nafasnya.


"Saika, apa Kaito tau kamu adiknya Ai?" Tanya Tomoya dengan wajah dinginnya itu.


"Belum, aku yakin Senpai pasti kacau setelah mengetahui semua itu." Sahut Saika.


"Humm ... baguslah, Hikaru ayo pergi! Masih ada satu urusan lagi kan?" Tomoya berdiri dari tempat duduknya.


"Hmm, kami pergi ke tempat Ai dulu ya?" Ujar Hikaru dengan senyuman tipis sembari meletakan tangannya di atas bahu Tomoya.


"Tomoya-senpai! Apa kau langsung pergi setelah ini?" Pekik Fumio dengan wajahnya yang memerah itu.


"Kenapa? Ohh, kita ketemu di tempat biasa besok pagi ya?" Tomoya menoleh ke Fumio dan melempar senyuman tipisnya.


Bwush!!


Mereka kembali menghilang tanpa jejak. Dan begitulah akhir dari percakapan mereka.


-----------------


.



Okino Tomoya

__ADS_1



Mirai Hikaru


__ADS_2