
Jrak!!!
"Akame ..."
Bilah pisau tajamku menembus kepala seorang Akame. Malam ini aku tidak lagi menggunakan kekuatan spesialku. Aku hanya menggunakan Ten Kara No Ken alias pedang dari surga milikku tanpa memakai kekuatan malaikat ataupun iblis.
Malam demi malam, hari berganti hari. Aku terus saja membunuh para monster yang keluar dari neraka itu tanpa ampun. Aku mulai mahir menggunakan pisauku untuk membunuh Akame.
Apa itu hal bagus?
Atau malah ...
Akame itu mencair dan kembali menyatu dengan tanah. Malam ini aku berhasil membunuh tujuh Akame yang berkeliaran di sekitar pemukiman yang aku tempati. Cairan hitam yang berasal dari Akame itu menetes dari ujung pisau ku. Aku hanya bisa tertunduk dan tak tahu harus berbuat apa lagi.
"Aku ini apa?" Gumamku.
"Kamu itu manusia ... hanya saja punya darah iblis dan malaikat ...," suara orang yang tiba tiba berada di belakangku.
Aku menoleh dan melihat laki laki kulit putih berbadan tinggi. Rambut pirang dan mata coklat. Jubah anehnya itu membuat ku langsung mengenalinya.
"Kakume ..."
"Hmm ... aku kesini cuma mau bantu kamu ...," ucapnya menepuk pundakku dan menunjuk ke arah ujung jalan.
Gadis SMP dengan seragam yang sama dengan milik Hanabi. Tinggi badannya juga hampir sama dengan Hanabi. Rambut pendek berwarna hitam kemerahan. Rok pendek warna biru. Mata nya itu sudah berubah menjadi mata iblis. Bola mata merah yang bersinar di tengah kegelapan.
"Yang satu ini kelihatannya mudah ... tapi ... kau akan tau jika kau sudah bertarung dengannya," Kakume menarik sebilah pedang panjang yang ia sembunyikan di balik jubahnya itu.
Gadis itu hanya berdiri dan melihat kami dengan tatapan mata iblisnya itu yang penuh dengan hasrat membunuh. Jantung iblis belum terlihat di tengah dadanya, artinya kami harus melemahkan iblis itu dan membuat sang gadis kecil itu menemukan harapan hidupnya yang hilang.
__ADS_1
"Baiklah ... aku akan mencari tahu apa kekuatannya", Kakume menggenggam gagang pedangnya dengan kedua tangan dan berlari ke arah gadis itu.
"Dimana kakak ku!!!"
Wush!!! Bruak!!!
Setelah gadis itu berteriak, udara di sekitar gadis itu membentuk sebuah perisai angin yang mendorong Kakume kembali ke belakang. Alhasil Kakume berakhir tersungkur di sampingku.
"Hehe! ... sekarang kita tau kekuatannya," ujar Kakume terkekeh sembari mengacungkan ibu jarinya padaku dalam keadaannya yang sedang tersungkur itu.
"Oi ... dasar payah ... tapi rencanamu bagus juga ..."
"Apa kalian kenal kakakku?" Gadis itu membuka telapak tangan kanannya dan mengarahkannya pada kami berdua.
"Dia pasti bakal nyerang ...," gumamku sembari menutup mataku dan menarik nafas dalam dalam.
"Kenapa kamu bisa santai gitu?" Kakume kebingungan dan tetap memegang pedangnya dengan kuat.
"Time ... Slow ...," aku kembali membuka mataku dan waktu di sekitarku pun melambat.
Aku melihat bola angin berdiameter sekitar enam sampai tujuh meter hendak melesat ke arahku dan Kakume. Karena aku melambatkan waktu, bola angin besar itu bergerak begitu lambat. Time Control ku sangat berguna di saat saat seperti ini.
"Sekarang ... aku punya banyak waktu untuk berpikir"
Tunggu?! apa ini?
Bilah pisau yang ada di tanganku ini bersinar terang. Saat aku melihat ke bilah pisau yang bersinar terang itu, kilatan cahaya putih keluar dari bilah pisau itu dan menyilaukan mataku. Aku tak bisa melihat apa pun karena cahaya itu bersinar begitu terang.
"Apa ini?!"
__ADS_1
Aku melihat seorang laki laki yang tak ku kenal. Ia sedang berjalan melewati gelapnya malam. Seragam SMA dan tas ransel yang ia gendong di punggungnya. Dia pasti baru saja pulang dari sekolah.
Apa itu yang di tangannya?
Dia membawa kotak hadiah berwarna merah muda. Dan di atasnya ada semacam surat yang ditulis olehnya.
'Untuk adik perempuan ku tersayang. Selamat ulang tahun!
Semoga Sayouka bisa tumbuh menjadi gadis cantik!'
Ohh ...
Sepertinya laki laki itu adalah kakak dari gadis yang dirasuki iblis itu. Sang kakak itu terus melangkah dengan senyuman tipis di wajahnya setiap kali melihat kotak hadiah yang ia bawa di tangannya itu.
Malam itu sudah sepi dan sunyi. Ia hanya ditemani cahaya dari lampu jalan. Ia berjalan di trotoar menuju ke perempatan jalan yang ramai itu. Ia berhenti di belakang zebra cross dan menunggu jalanan aman baginya untuk menyeberang.
Ia tak berhenti menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada mobil yang akan lewat. Setelah yakin tak ada bahaya yang mengancam, ia mulai melangkah di atas zebra cross. Tapi ternyata perhitungannya salah.
Terlihat lampu truk yang sangat terang itu mendekat ke arahnya dengan cepat.
Woi!!! .... Awas!!!
Ternyata takdir sudah menentukan akhir hidupnya. Sang kakak itu tertabrak oleh sebuah truk yang melaju kencang. Aku yakin nyawanya sudah tak tertolong lagi. Sekarang aku hanya bisa melihat kotak hadiah yang hendak diberikan kepada adiknya itu.
Kotak itu terjatuh di atas aspal jalan dengan tutup yang sudah terbuka. Ternyata isi kotak hadiah itu adalah sebuah novel. Judulnya adalah ...
'Adik Manis yang Ku Sayang'
*************
__ADS_1
Jangan lupa like ya? ...
See you next chapter ...