
Crat!!!
Tanpa rasa berdosa sedikitpun, The Key berlanjut menusuk pundak kiriku dengan bilah pedangnya yang sangat tajam itu. Aku hanya bisa diam dan terpaku melihat mumi itu berdiri di hadapanku. Pikiranku mulai kacau, sangat kacau. Saat melihat darah merah mulai menggenang di sekitar tubuh Sora.
Apa ini mimpi?! Bukan!?
"Key!!!" Aku menggenggam bilah pedang yang menancap di pundak kiriku ini dengan tangan kiriku.
"Ada apa? Kau ingin marah?! Hahahaha!" Ujarnya disertai tawa jahat seperti iblis.
"Cih," pengelihatanku mulai memerah dan ini artinya kekuatan iblis mulai mengambil alih tubuhku. Tentu saja, kekuatan iblis ini selalu keluar saat aku melihat temanku terluka.
"Tak peduli seberapa kuat dirimu!" Aura kegelapan mulai menyelimuti tubuhku ini. Lengan kiriku mulai tumbuh retakan retakan aneh. Celah celah retakan itu memancarkan cahaya oranye sama seperti jantung Akame.
"Aku ... tak akan membiarkanmu hidup!" Seruku sembari meremas bilah pedang yang menancap ditubuhku ini sampai hancur lebur. Aku berlanjut menendang perut The Key sampai ia terpental jauh. Gerakannya terhenti saat punggungnya terantuk ke tiang beton besar itu. Tiang itu hampir remuk dibuatnya.
"Hahahha! Kaito, apa kau ingat ini?"
Prak!
Tepat saat ia menepukan kedua tangannya. Kami berdua tiba-tiba berpindah tempat. Aku menoleh ke segala arah untuk mengenali tempat ini. Tapi sia sia saja, aku tak mengenal tempat ini sama sekali. Langit malam yang dipenuhi awan tebal, cahaya sang rembulan terlihat lebih redup. Saat aku melihat ke sisi kiri, ada sebuah kastil besar yang sedang dilalap oleh api merah. Kami berdua sekarang ada di halaman kastil ini.
"Tentu kau tak ingat," The Key mencabut sebilah pedang yang menancap di tanah. Entah kenapa tiba tiba ada pedang yang muncul di sampingnya. Tentu, ini alam ilusinya, semua yang dia inginkan pasti jadi nyata. Dan untuk keluar dari sini, aku harus mengalahkannya.
"Ronde pertama dimulai!" Pekik The Key seraya berlari kencang ke arahku.
"Hmm," aku langsung mengubah pisau di tangan kananku ini menjadi pedang cahaya warna merah darah.
Pertarungan kami pun dimulai. Bilah pedang kami saling beradu satu sama lain. Keahlian berpedangku sedang diuji sekarang ini. Aku tak mungkin kalah darinya, walau aku lemah, tapi aku tak akan kalah. Aku menangkis semua serangannya yang sangat cepat itu. Beberapa detik berlalu, aku masih belum melihat celah yang bisa kumanfaatkan.
"Kaito!! Kau masih belum layak," The Key mengayunkan kakinya dan gerakannya itu sama sekali tak aku perkirakan. Serangannya itu berhasil menghantam pinggangku dan tubuhku pun terpental ke samping. Walau sempat berguling beberapa kali, aku berhasil menapakan kakiku di tanah dan kembali berdiri tegak.
"Haaaaaaa!!!"
Tanpa basa basi aku langsung berlari dan berusaha melukainya dengan tebasan pedangku ini. Dan dengan mudahnya ia menangkis semua seranganku. Pada akhirnya dia membalikan keadaan, sekarang aku yang kualahan menangkis semua ayunan pedangnya itu.
Trank!!!
Kedua bilah pedang kami saling beradu, percikan api menyebar ke segala arah. Aku berusaha menahan serangan The Key sekuat tenaga. Tapi sepertinya kekuatannya jauh melebihiku.
__ADS_1
"Apa cuma itu?" Ujarnya Santai.
Dengan mudahnya ia membongkar pertahananku dan menusukan ujung pedangnya tepat ke jantungku. Darah segar mulai mengalir keluar membasahi kemejaku. Tak sampai disitu saja, The Key mengarahkan telapak tangan kirinya kepadaku, dan tak lama kemudian sebuah bola api terbentuk di depan telapak tangannya itu.
"Game over, Kaito,"
Booom!!!
Ia menembakan bola apinya itu dan ledakan besar terjadi. Aku terpental mundur sejauh belasan meter dari pusat ledakan. Tubuhku terjatuh ke tanah dan hanya bisa tersungkur sekarang ini. Aku bisa melihat The Key melangkah keluar dari asap yang menyelimutinya itu. Dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat siapa yang keluar dari balik asap itu.
Pria gagah dengan seragam milter. Rambut biru tua dan wajah keturunan eropa. Bola mata hijau yang sangat indah. Ia memiliki bekas luka goresan di pipi kirinya. Gillbert, dia adalah Gillbert yang pernah kulihat dalam mimpiku. Aku kacau, pikiranku mulai kacau sekarang ini.
Kenapa Gillbert ada di sini?! Bukannya dia adalah diriku sebelum Fate Restart yang pertama?!
Apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini?!
"Kaito, kau pasti bingung kan?"
"Ema, bunuh dia!" Aku lebih terkejut lagi sekarang.
Aku melihat Ema berdiri di sampingnya. Gadis rambut pirang poni tail dengan seragam militer. Bola mata biru seperti air laut yang memantulkan cahaya matahari. Ia menodongkan pistolnya kepadaku. Aku masih berusaha bangkit berdiri walau tubuhku sudah bersimbah darah dan rasa sakit yang menyelimutiku.
Dar!!!!
"Kaito!"
Kejutan, lagi lagi kejutan, gadis rambut putih yang terurai. Gaun putih yang indah. Ia berdiri di depanku menghalangi peluru itu dengan punggungnya. Aku bisa melihat senyuman manisnya itu. Mataku terbuka lebar, aku tak bisa memahami apa yang barusan terjadi. Yume mengorbankan dirinya untukku.
"Yu-Yume?!" Aku tak tahu harus berkata apa saat ia jatuh ke pelukanku. Aku bisa melihat darah merah mulai mengotori gaun putihnya yang cantik itu.
"Kaito, maaf, aku harus melakukan ini." Yume menyentuh pipiku dengan tangan kanannya.
"Apa apa?! Apa?! Kenapa?!" Air mataku mulai mengalir keluar menyadari akan ada hal buruk yang terjadi.
"Mulai besok, kau harus berjuang tanpaku ya?" Senyuman tipis disertai matanya yang mulai membendung kesedihannya.
"Apa maksudmu!?"
"Aku sudah menggunakan semua sisa kekuatanku, dan sekarang aku akan lenyap." Air mata Yume mengalir keluar disertai dengan tubuhnya yang mulai bercahaya.
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan itu?!'
"Hnm, apa ya? Aku ga tau," Ia malah masih sempat bercanda di saat seperti ini.
"Yume?!"
"Sebenernya masih banyak hal yang ingin aku katakan, tapi ya sudahlah." Tubuhnya itu semakin bersinar terang tanda ia akan segera lenyap dari dunia ini.
"Yume!"
"Kaito, aku mencintaimu ... sampai jumpa, tidak, selamat tinggal ... sayang." Di saat yang sama tubuhnya pecah menjadi butiran cahaya yang menyebar ke segala arah. Aku jatuh berlutut menyadari semua hal yang barusan terjadi.
Sora, Yume, mereka berdua kembali direnggut oleh takdir.
"Woiiiiii!!!!! Apa aku tidak boleh tenang sekali saja!???!!!"
"Apa aku harus menerima semua ini di setiap kehidupanku!!!!???"
"Kenapa selalu seperti ini!!!!!???"
"Kenapaaaaa!!!!!!!???"
"Apa kau sudah puas?"
"Hoii!!! Apa kau sudah puas?!"
"Apa kau dengar!!!??"
"Aku tak akan menyerah!!!"
Aku mengambil kembali pedangku yang tergeletak di tanah. Perlahan aku bangkit berdiri dan melangkah maju. Aku menyeret bilah pedangku dan menikmati setiap langkah yang aku buat.
"Ema!!" Gillbert meminta Ema untuk menembakiku dengan pistolnya.
Duar!!! Der!!! Dor!!!
Aku menerima semua peluru yang melesat ke arahku. Aku sudah tak mau menghindar lagi. Aku sudah tak bisa berpikit jernih lagi. Yang ada dalam kepalaku hanya bunuh, dan membunuh. Walau darah mulai bercucuran keluar melalui luka di tubuhku, aku sudah melupakan rasa sakit itu. Aku sudah melupakan segalanya.
"Matiiii!!!!"
__ADS_1
Aku menyerang Gillbert tanpa ampun. Aku mengayunkan pedangku ke segala arah dan membuat Gillbert kualahan menangkisnya. Dan usahaku akhirnya membuahkan hasil, pedangku berhasil menembus dada Gillbert. Gerakan kami berhenti dan keadaan menjadi hening sejenak.
"Ronde dua dimulai!"