
Lagi lagi suasana yang ramai, suara piring dan sendok yang saling berbenturan. Aroma makanan yang menggoda selera. Keramaian yang menyelimuti ruangan ini. Canda dan tawa yang berasal dari orang yang ada di sekelilingku. Meja kecil warna hitam yang berbaris rapi dan dua kursi kayu yang mengapit masing masing meja itu. Pelayan yang lalu lalang membawa nampan yang berisi pesanan para pelanggan.
Aku masuk ke dalam kafe kecil yang ada di puncak Okiyama ini. Aku duduk di seberang Si mesum dingin itu. Di atas meja kami terdapat segelas jus jeruk dingin dan segelas cokelat hangat. Aku selalu memilih tempat duduk di samping jendela agar aku bisa melihat indahnya langit biru siang ini. Aku meneguk segelas jus jeruk dingin milikku ini untuk menghilangkan rasa haus dan lelahku.
"Ne, Senpai, Fumio bilang kita harus menginap di sini malam ini." Ucapan Saika yang hampir membuatku tersedak.
"Eh? kenapa?!" Aku mengangkat alisku tinggi tinggi.
"Dia bilang untuk tetap di sini dan tunggu perintah darinya." Saika menyeruput segelas cokelat hangatnya.
"Huff, ya sudahlah ...," aku meletakan siku kiriku di atas meja dan menyangga kepalaku dengan tangan kiriku.
Prak!!!
Suara gelas yang terjatuh dan pastinya pecah itu mengambil semua perhatian orang orang yang ada di dalam kafe ini. Suara itu berasal dari meja yang ada di sebelah kiriku. Seorang bocah umur sekitar lima tahun itu menjatuhkan gelas dari atas mejanya. Yang duduk di seberang bocah laki laki itu sepertinya adalah ayahnya. Pria botak dengan kumis hitam tebal, sepertinya dia orang yang galak. Dan benar saja, kata kata yang ia keluarkan sama sekali tak berperasaan.
"Futo!!! apa yang kamu lakukan?! cepet beresin!" Bentak pria botak itu pada bocah yang bernama Futo itu.
"Tapi, ayah ...,"
"Futo!!" sebelum anaknya menyelesaikan kalimatnya pria itu sudah membentaknya kembali.
Futo pun turun dari kursinya dan memungut pecahan kaca itu dengan tangannya. Hal yang tak terduga pun terjadi, Saika berdiri dari tempat duduknya dan membantu Futo untuk memungut pecahan kaca gelas yang pastinya tajam dan berbahaya bagi anak kecil.
"Nama mu Futo ya? ... udah biar kakak aja yang beresin." Saika mengusap kepala Futo dan memintanya untuk tidak menyentuh pecahan kaca itu.
"Ma-makasih kak ...," Futo menahan air matanya yang hendak keluar itu.
Melihat Saika membantu orang yang tak ia kenal tanpa pikir panjang, pandangan ku padanya mulai berubah. Ternyata si dingin mesum itu tidak seburuk yang aku duga. Tak lama kemudian seorang pelayan datang dan membantu Saika untuk membereskan kekacauan yang ada. Pelayan itu meletakan satu persatu kepingan kaca itu ke atas nampan, begitu juga dengan Saika.
"Ahh!" Jari tengah tangan kanan Saika tergores ujung pecahan kaca yang tajam dan membuatnya meneteskan darahnya ke lantai.
"Kamu gak apa apa kan?" Tanya pelayan wanita itu setelah melihat Saika terluka.
__ADS_1
"Ohh, gak perlu khawatir, aku bisa merawat luka ku sendiri." Saika kembali berdiri dan meminta pelayan tadi membawa pecahan kaca yang sudah dibereskan tadi.
Aku juga yang repot kan?!
Aku menarik selembar tisu dari tempatnya yang ada di tengah meja di depanku ini. Aku berdiri dan segera membersihkan luka Saika dengan cepat.
"Sakit gak?" Aku mengelap bekas darah di jarinya itu perlahan.
"Makasih senpai ...," ucap Saika sembari memejamkan matanya untuk menahan perih yang ia rasakan.
"Saika, lain kali hati hati, jangan ceroboh dalam hal kecil seperti ini." Aku melepas tangan ku darinya dan mengingatkannya untuk tidak mengulangi kecerobohannya ini. Jika dia saja ceroboh dalam hal kecil, bisa gawat kalau dia ceroboh dalam pertarungan besar nanti.
"Ano, kak Saika makasih banyak ya." Ucap Futo sembari menarik ujung lengan panjang kemeja Saika.
"Hmm, lain kali jangan ceroboh ya?" Saika sedikit membungkuk dan kembali mengusap kepala Futo dengan lembut.
Jadi, dia juga punya sisi yang baik ya?
Aku kembali duduk di kursiku semula dan keadaan mulai kembali seperti sebelumnya. Aku lega karena tak lagi jadi pusat perhatian dari semua orang yang ada di sini. Saika juga kembali duduk di depanku dengan tatapan dinginnya yang sama sekali tak berubah sejak awal.
"Hmm," Saika hanya mengangguk.
"Oh, ya udah, sekarang ... mending kita pesen kamar buat malam ini deh, takutnya kita kehabisan kamar di penginapan itu." Aku punya perasaan tak enak tentang malam ini. Semoga saja masih tersisa dua kamar kosong.
"Apa senpai gak sabar buat tidur bareng aku?" Saika sedikit memiringkan kepalanya.
"Jangan bercanda lah, kita gak akan tidur satu kamar." Aku langsung berdiri dan melangkah ke kasir untuk membayar pesanan kami tadi.
Kami berdua pun segera masuk ke penginapan tradisional yang ada di seberang kafe tadi. Lantainya yang masih terbuat dari kayu ini memberi kesan tersendiri saat masuk ke dalam. Kami pun menuju ke meja penerima tamu yang ada di depan pintu masuk penginapan ini.
"Selamat datang kak! mau pesen kamar?" Gadis yang memakai Yukata itu menyambut kami dengan sangat ramah.
"Ohh, iya ... apa ada dua kamar kosong?" Tanyaku.
__ADS_1
"Sebentar ya kak ...," gadis itu mengecek daftar kamar yang ada di buku catatannya itu.
"Eh, maaf nih kak, cuma satu kamar yang kosong. Gimana jadi pesen atau?"
"Ini uangnya, kami ambil kamar itu." Saika langsung membayar biaya penginapan ini dengan uangnya tanpa meminta persetujuanku.
"Saika?!"
"Apa? sudah terlanjur kan?" Ujarnya sembari memegang kunci kamar yang sudah diberikan padanya.
Hadeh! Mati aja deh aku ...
"Selamat menikmati malam yang indah kak!" kata kata penerima tamu itu malah membuat pikiranku menjalar kemana mana.
"Ayo, senpai!" Saika menarik tangan lku dan membawa ku entah kemana.
"Oi oi oi! aku mau pulang aja lah!" Kata ku saat kami berdua berhenti di depan pintu kamar yang ada di ujung koridor penginapan ini.
"Perintah ketua harus dipatuhi tau ...," Saika membuka pintu kamar penginapan dan menarikku masuk kedalam.
Ahhh sial ... ya sudahlah, aku sudah pernah tidur dengan beberapa gadis yang berbeda.
Apa sulitnya melewati malam dengannya ...
Semoga iman kukuat menghadapi gadis mesum yang satu ini ...
Ranjang besar yang ada di tengah ruangan. Dinding dan lantai yang masih terbuat dari kayu. Sofa hitam panjang yang ada di sisi kanan ruangan. Jendela yang terbuka lebar dan membuat tirainya tertiup angin musim semi yang masuk ke dalam. Meja antik dengan vas bunga yang ada di sisi ranjang. Sepertinya aku mengingat sesuatu, tapi lagi lagi aku tak bisa menjelaskannya dengan kata kata. Karena aku sendiri tak tahu apa yang sebenarnya aku ingat ini.
"Apa nanti malam Senpai tidur seranjang dengan ku?" Saika duduk di pinggiran ranjang dan meletakan tas tangannya itu di atas meja bundar yang ada di sisi ranjang.
"Jangan berharap!" Aku langsung membaringkan tubuhku yang lelah ini di sofa panjang di sisi ruangan ini.
"Nee, apa senpai yakin?"
__ADS_1
"Aku pulang loh!"