
Dingin, angin yang berhembus membawa butiran pasir putih itu kekesana kemari. Langit malam yang diselimuti kegelapan, tak ada secercah cahaya bintang di sana. Bulan pun tak lagi bersinar seperti biasa, cahaya merah yamg terpancar itu bukan memperindah, tapi malah memperburuk suasana malam ini. Aku berdiri di atas padang pasir tak berujung, tak ada satupun ranting tanaman yang ada di sini. Tak ada tanda tanda kehidupan selain kami berempat disini.
Tim hitam melawan tim merah, aku dan Saika yang asli memakai jubah dan zirah hitam. Sedangkan tiruan kami memakai pakaian versi merah dari yang kami kenakan ini. Ini adalah pertarungan pertamaku melawan dirilu sendiri. Aku harus berkembang dan lebih kuat, jikalau tidak, aku akan mati ditangannya.
"Kaito, kau tak layak hidup!"
"Kau membunuh Raku!" Dua kalimat dari tiruanku yang membuatku terbelalak.
"Saika, kamu tak layak hidup!"
"Kamu membuat kakakmu kecewa!" Ucapan Saika palsu itu juga membuat si mesum di sampingku ini terbelalak.
Cih, jadi ini cara mereka. Menghancurkan hati lawannya ... lalu memanfaatkan kerapuhan mereka.
"Saika, jangan dengerin kata kata mereka ya? Cukup dengerin aku aja." Aku menepuk pundak kanan adik kelasku itu sembari melayangkan senyuman tipis.
"Baik Senpai!" Ia mengangguk dan membuatku sedikit tenang.
"Hmm, kalianlah yang tak layak hidup!!! Kalian sudah melanggar hak cipta dengan meniru kami!" Ujarku penuh percaya diri lalu memasang kuda kuda dan menggenggam gagang Katana-ku dengan erat.
"Kalau begitu, akan kami buktikan siapa yang lebih layak untuk HIDUP!!!" Mereka berdua langsung berlari menyerang kami tanpa basa basi. Aku dan si mesum itu pun ikut berlari ke arah tiruan kami masing masing.
Trank!!!!
Di saat yang sama, kedua bilah pedang dan kedua perisai beradu bersamaan. Percikan api pun menyebar ke segala arah. Aku menahan serangan pedang tiruanku yang ada di depan mataku. Begitu juga dengan Saika, aku bisa melihat si kembar itu saling mendorong perisai mereka masing masing. Pertarungan melawan takdirku kembali dimulai.
"Jangan harap kau bisa menang payah!!!" Aku menghentakan kaki dan melompat tinggi ke udara.
"Mati!!!!" Aku kembali melesat kebawah dan melancarkan serangan cepatku kepada si Kaito palsu. Tentunya dia bisa menahan setiap ayunan pedang secepat kilat milikku. Serangan demi serangan kulancarkan, tangkisan demi tangkisan ia lakukan. Kaito palsu itu perlahan melangkah mundur karena ratusan serangan yang sudah kulemparkan padanya. Aku yang melihat sedikit celah langsung memanfaatkannya. Aku menendang pinggang Kaito palsu itu sampai ia terpental jauh ke samping kiriku.
"Saika, hati hati!!!" seruku lalu berlari menghampiri kembaranku yang masih berguling guling di atas pasir. Secepat kilat aku langsung berada di depan Kaito palsu itu, tanpa pikir panjang aku mengayunkan pedangku dari atas kebawah untuk membelah tubuhnya. Tapi ternyata usaha ku kembali digagalkan, ia bisa mengendalikan tubuhnya kembali dan menangkis Kensetsu milikku dengan pedang tiruan miliknya.
"Cih, dasar tak berguna, karenamu Mina berubah!!!" Karena kata katanya itu, tubuhku serasa membeku. Dan aku menyadari celah yang kubuat ini. Benar saja, kembaranku itu langsung menendang perutku sampai badanku terpental jauh kebelakang. Aku menancapkan ujung pedangku kedalam pasir untuk menjaga agar tubuhku tetap terkendali dan sekaligus untuk mengentikan tubuhku yang terus terseret ke belakang.
Hmm, jadi ... pertarungan ini ...
__ADS_1
"Oi!!! Dasar iblis rendahan, kau ingin mengujiku ha?!"
"Dasar payah! Kau ingin memastikan kami layak melawanmu?!"
"Raja setan ternyata sombong juga ya?!" Aku tersenyum tipis dan kembali bangkit berdiri.
"Kaito! Aku akan membunuhmu!" Aku mengarahkan ujung Kensetsu ku ke arahnya.
"Akan kupastikan bahwa aku lebih kuat!" Aku berlari dan menguatkan genggaman tanganku pada Kensetsu.
Tank!!!
Kedua bilah pedang kami saling beradu dan menghasilkan bunga api yang indah. Cepat seperti angin, tajam seperti air. Aku menyerangnya tanpa henti. Air mungkin lemah, tapi jika dia bersama dengan waktu, batu pun bisa hancur dibuatnya. Aku melancarkan serangan beruntunku dan membuatnya kualahan menangkisnya. Aku jauh lebih fokus dari sebelumnya. Berusaha untuk tak membuat celah sedikit pun. Aku tak akan memberinya kesempatan.
"Karenamu! Raku mati karenamu!" Teriakannya itu lagi lagi membekukan gerakanku. Kecepatan seranganku menurun drastis. Dengan mudah ia mengembalikan keadaan. Sekarang kembaranku itu yang berusaha melukaiku dengan tebasan pedangnya itu.
"Teknik angin: hembusan tak terlihat!!!" Seruan kembaranku itu membuatku tersentak. Tiba tiba dia menembus tubuhku dan langsung berdiri di belakangku. Jurus itu, ternyata dia juga bisa menggunakannya. Hangat, mengalir kebawah, aku bisa merasakan darah mengalir dari lengan menuju ke kepalan tangan kiriku. Jubah yang kukenakan pun ikut terkoyak. Aku terluka karena pedangku sendiri. Ini tak masuk akal, setiap kali dia berbicara, aku selalu membeku. Dia memanfaatkan masalahku sebagai senjatanya.
"Cih, dasar licik!" Umpatku seraya melepas jubahku yang sudah terkoyak itu. Ia berhasil melukaiku tepat di lengan kiriku. Untung saja serangannya tak terlalu fatal.
Prang!!! Swush!!!
Aku membuat Katananya terlempar jauh ke langit, dan saat ini adalah kesempatanku. Aku kembali mengayunkan Kensetsu ku tepat ke lehernya. Dan hal yang tak terpikirkan olehku terjadi. Kaito palsu itu menahan seranganku dengan Ten Kara No Ken. Tak kusangka ia juga bisa memanggil pedang dari surga itu juga. Sepertinya, dia benar benar diriku, kekuatan, kecepatan, ketangkasan, dan kegigihan yang ia miliki pasti sama dengan milikku saat ini. Satu satunya cara agar bisa mengalahkannya hanya satu, berkembang dan jadi lebih kuat.
"Kau juga pernah membuat Ema terluka!" Lagi lagi itu menghentikan gerakanku. Tapi, kali ini aku bisa menghindari ayunan pisaunya itu dan melompat mundur.
"Dark Beast!!" Kaito palsu itu berubah ke mode yang pertama kali aku gunakan di sungai Mabuta malam itu. Aku tak terlalu terkejut kalau dia bisa memakai kekuatan itu. Tubuh bagian kirinya berubah menjadi tubuh iblis, dan setengahnya masih berbentuk normal. Pisaunya juga sudah berubah menjadi pedang bercahaya merah darah.
"Kau ingin bertanding ha?!" Aku pun ikut berubah ke bentuk Dark Beast. Tangan kiriku menggenggam pedang cahaya, dan tangan kananku menggenggam Kensetsu. Aku akan menggunakan kedua pedangku sekaligus, kali ini aku berenana menghabisinya dengan cepat.
"Karenamu! Saika juga pernah terluka!!!" Teriaknya mengambil Kensetsu nya yang terjatuh dan berlari ke arahku secepat angin.
Trank!!! Tank!!!
Keempat bilah pedang kami saling beradu, aku menahan serangannya dengan membentuk huruf X menggunakan kedua bilah pedangku. Dua kekuatan yang sama saling bertarung, aku tak tahu apakah diriku bisa mengalahkannya. Tapi aku harus segera menyelesaikan pertarungan ini dan segera pulang. Ai dan Hanabi menungguku di rumah.
__ADS_1
------------------
Beberapa jam yang lalu
"Lah?! Mau kemana kak?" Tanya Hanabi yang melihatku menuruni tangga. Hanabi pasti tahu aku akan pergi, pasalnya aku memakai jaket dan celana panjangku.
"Emm, mau keluar sebentar." Jawabku santai.
"Owh, ada misi ya? Kakak kan sekarang detektif." Ujarnya tersenyum lebar seraya melangkah ke dapur.
"Kaito? Kamu mau pergi? Ada misi?" Ai yang sedang duduk di sofa ruang keluarga menoleh ke arahku.
"Engga kok, cuma mau rapat aja." Aku tak akan mengatakan hal yang sebenarnya pada Ai. Jika dia tahu aku pergi bersama Saika, bisa ribet urusannya nanti.
"Ohh, jangan lama lama ya pulangnya kak!" Kata Hanabi yang sibuk memasak di dapur.
"Iya iya," aku melangkah keluar dari pintu depan rumahku. Sebelum aku kembali menutup pintu, Ai berlari dan berhenti di hadapanku.
"Kaito, hari ini kita makan malem bareng ya?" Senyumnya itu selalu membuatku terpaku.
"Oh, iya ...," aku mengangguk perlahan walau aku tak tahu pasti bahwa aku bisa pulang tepat waktu.
"Janji ya?" Ai mengacungkan jari kelingking tangan kanannya sembari terus tersenyum lebar padaku.
"Hmm," aku mengaitkan jari kelingkingku padanya. Walau belum pasti, tapi aku akan berusa untuk menepati janjiku.
-------------------
"Ai!!! Tunggu aku!!!" Teriakku lalu mulai melancarkan seranganku kembali kepada barang tiruan yang ada di hadapanku.
***********
Mungkin telat, tapi ya sudahlah ...
__ADS_1
Shizuta Renai tunangan si Tenshi terkuat di dunia.