
"Okino-sama?!"
Suara itu, Ema ... kenapa dia ada di sini?
Aku membalik badanku dan menoleh ke arah sumber suara. Aku melihat gadis dengan mata birunya yang indah dan rambut pirang poni tail-nya itu. Kemeja putih lengan panjang dan rok hitam yang hampir menyentuh tanah.
Entah kenapa tubuhku terasa sangat lemas. Pandanganku mulai kabur. Aku melangkah perlahan mendekat ke arah Ema yang berdiri tak jauh dariku.
"Okino-sama? ... apa kamu masih di situ?" Tanya Ema dengan kedua tangannya yang berusaha meraihku.
"Ema ..."
Aku berhasil meraih tangannya dan aku terjatuh di pelukannya karena kakiku tak kuat lagi menahan beban tubuhku ini.
"Okino-sama? ..."
Sial, kesadaranku semakin menghilang. Pandanganku semakin kabur. Aku tak lagi bisa merasakan tubuhku. Aku hanya bisa merasakan kehangatan tubuh Ema.
"Okino-sama ... terima kasih."
Kata kata terakhir yang kudengar darinya sebelum kesadaranku menghilang sepenuhnya. Aku, aku tak tahu apa yang terjadi.
Hanya kegelapan tak berujung yang kulihat. Tidak, ada sinar yang muncul tak jauh di depanku. Bukan, itu adalah api, kobaran api yang sangat besar. Dan itu mendekat ke arahku perlahan.
"Gilbert!!!"
He? siapa itu?
Suara seorang laki laki memanggilku seiring mendekatnya api itu ke arahku. Mendekat, semakin dekat, panas. Bau asap kebakaran, perasaan marah. Kecewa, bukan, ini, penyesalan.
"Gilbert!!!" Suara laki laki yang memanggilku itu terdengar semakin jelas.
"Okino!!!" Sekarang suara perempuan memanggil nama depanku.
__ADS_1
Kobaran api itu sekarang berada tepat di depanku. Bukan di depanku lagi, api itu membakarku sekarang.
"Okino-sama!!!"
Suara Ema yang tiba tiba terdengar di gendang telingaku. Telingaku berdengung keras. Aku melihat seorang pria yang mengenakan seragam militer berdiri di tengah kobaran api yang mengelilinginya. Aku hanya bisa melihat punggungnya.
Rambut biru tua dan pisau di tangan kirinya. Dia sepertinya terluka parah dilihat dari robekan seragam militernya itu dan darah yang ada di tangannya.
"Gilbert!!"
Lagi lagi nama itu, apa namanya Gilbert?
Siapa dia, dan apa hubungannya denganku?
Tunggu, pria itu berbalik, sebentar lagi aku akan melihat wajahnya. Setelah dia membalik badannya sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Pria itu ternyata memang terluka parah.
Ia memejamkan mata kanannya yang mengeluarkan darah. Terdapat luka goresan di pipi kirinya. Aku bisa melihat bola mata hijaunya yang bersinar terang dari mata sebelah kirinya yang sepertinya masih berfungsi itu.
Bola mata hijaunya itu memudar dan berubah menjadi merah. Pinggiran bola matanya juga sudah berubah menjadi warna hitam.
Tunggu?! ... jangan!!
Jangan berakhir di situ!
"Okino-sama!!!"
Teriakan Ema itu membuat mataku langsung terbelalak. Aku tersadar dan sedang berbaring di sofa ruang keluarga ku ditemani Ema dan Hanabi yang ada di sampingku.
"Hmm ... kenapa aku ada di sini?" Tanyaku sembari memegang kepalaku yang sedikit terasa pusing ini.
"Kakak pingsan di luar ... untung ada kakak bule ini yang nolongin," ujar Hanabi dengan senyumannya itu.
"Ohh ... makasih Ema ...," ucapku sembari duduk di sofa.
__ADS_1
"Apa pun untuk Okino-sama ...," kata Ema dengan tatapan kosong dan wajah datarnya itu sungguh membuatku tak nyaman.
"Hee? ... Okino-sama itu artinya tuan Okino kan? ... sejak kapan kakak punya pelayan ha?" Hanabi menarik telingaku dengan kasar.
"Oi oi ... tenang dulu ...," aku berusaha menyingkirkan tangannya yang menarik telingaku ini.
"Ema? apa kamu kenal Gilbert?" Tanyaku karena mimpiku barusan.
"Apa yang Okino-sama bilang? ... itu kan namamu," ucapnya dengan nada datarnya.
"Maaf ... tapi namaku Okino Kaito ...," aku bersiap akan segala kemungkinan reaksinya.
"He? ... tapi tangan ini ...," Ema menggenggam tanganku dan meraba telapak tanganku.
"Ema?"
"Aku gak percaya ... kamu pasti Okino Gilbert yang aku kenal," ia mengeraskan hatinya dan tetap berfikir aku adalah Gilbert yang ia kenal.
"Huff ... udah lah ... terserah kamu ... tapi kamu mau pulang? ayo aku anter ...," lagi pula aku juga ingin tahu dimana rumahnya.
"Aku tidur bareng Okino-sama aja," jawaban Ema yang membuat aku dan Hanabi terbelalak.
"Heee?? ... ternyata ini alesan kakak sering keluar malem ya?" Kata Hanabi dengan senyuman jahatnya itu sembari menjewer telinga kananku.
"*****!!!, jangan salah paham dulu payah ...," aku berusaha keras melepas tangan Hanabi dari telingaku.
"Kenapa? ... bukannya dulu kita sering tidur bareng?" Ujar Ema dengan wajah datarnya itu.
Mati aku!!!
"Kakak!!! ... ternyata kakak udah begituan ya!!!" Hanabi menghujaniku dengan pukulan tangannya itu.
Agghh ... Hanabi jauh lebih menyeramkan dari pada ribuan Akame!!!
__ADS_1