
"Kenapa?!"
Aku tak bisa menggunakan Time Control ku. Waktu tetap terus berjalan maju. Saika tetap tak sadarkan diri di pelukanku.
"Menyerah saja!! Kami sudah mengepungmu!" Tiba tiba ada seorang pria mengenakan setelah jas serba hitam menodongkan pistolnya dari arah belakangku.
"Cih ... kalian ini siapa?!"
"Kami organisasi rahasia dari pemerintah! Kami diperintahkan untuk menangkap kalian!" seorang bocah laki laki yang membawa busur panah itu keluar dari kegelapan.
Pemerintah??
Mungkin mereka adalah orang baik. Bodoh! Mana mungkin orang baik seenaknya memanah seorang gadis. Aku sekarang sudah tak bisa bergerak lagi. Aku tidak tahu mengapa Time Control-ku tak bisa digunakan di saat saat darurat seperti ini.
"Kaito, jangan sampai kalian tertangkap. Kalau tidak kalian pasti tidak akan bisa menghirup udara segar lagi." Suara Yume yang tiba tiba terngiang di kepalaku.
Caranya?!
"Berubahlah ke Light Chaser dan teleportasi ke hutan Hagume!" pinta Yume.
Kenapa harus ke tengah hutan?
"Mereka bisa melacak posisi kalian, jika kau teleportasi ke rumah. Adikmu bisa dalam bahaya!" Jelas Yume.
Hmm ... akan aku lakukan ...
Sang cahaya dari surga, berikanlah aku kekuatan untuk melindungi teman temanku~
Light Chaser!
Tubuhku kembali berubah menjadi cahaya yang sangat terang. Dengan ini aku yakin mata mereka pasti tak akan bisa menahan terangnya tubuhku ini di malam hari. Tanpa basa basi aku langsung melakukan apa yang diperintahkan Yume padaku.
"Light Speed!!!"
Dalam sekejap mata aku sudah berpindah tempat ke dalam hutan Hagume bersama dengan Saika yang ada di dalam pelukanku. Kami berada di dalam sisi hutan yang masih banyak pepohonan besar yang mengelilingi kami. Hampir setengah hutan ini rata karena pertarungan ku dengan Takumi beberapa waktu lalu. Di saat yang sama tubuhku kembali seperti semula.
"Ukhuk! ... Senpai? Ini dimana?" Saika tersadar dengan tubuhnya yang masih lemas karena kehilangan banyak darah itu.
"Saika, biar aku cabut anak panah yang ada di punggungmu." Aku tak ingin Saika kehilangan lebih banyak darah lagi.
"Pelan pelan ya Senpai," pintanya dengan matanya yang masih terpejam.
"Hmm ... tahan!" Aku memeluk Saika dengan erat dan menggenggam anak panah yang menancap di punggungnya dengan tangan kananku.
__ADS_1
Srak!!
"Sakit!!!" Saika meringis kesakitan di pelukanku.
"Cih, maaf ... gara gara aku kamu jadi begini." Aku meminta Saika duduk dan bersandar ke batang pohon besar yang ada di sampingku.
"Senpai gak perlu minta maaf," Saika memejamkan matanya dan membuatku semakin cemas.
"Cih ... saat saat seperti ini."
Aku menarik ponsel dari saku celana dan segera menelepon Fumio. Aku harus meminta bantuannya, aku tak bisa menghentikan pendarahan Saika. Aku tidak tahu cara memberikan pertolongan pertama di saat darurat seperti ini.
"Kalian dimana?" Fumio langsung melempari ku pertanyaan setelah menerima teleponku.
"Hutan Hagume, kita berdua dikejar orang dari pemerintah. Saika terluka dan mengalami pendarahan!" Aku melaporkan semua kejadian yang terjadi pada sang ketua tim.
"Orang pemerintah?!"
"Kaito! segera matikan telepon ini, aku akan segera mengirim bantuan."
"Jangan jawab semua panggilan telepon!"
"Jangan percaya orang yang kalian temui di dalam hutan!"
"Cih ... sekarang aku hanya bisa diam?" Aku merasa kesal dan duduk di samping Saika.
"Senpai? sampai kapan kita di sini?" Tanya Saika sembari berusaha meraih tangan kiriku dengan matanya yang masih tertutup rapat.
"Maaf, aku gak tau." Aku membiarkan Saika menggenggam tangan kiriku.
Suara dedaunan yang tertiup angin di malam musim semi. Udara di sekitar kami mulai terasa dingin. Aku pun melepas jaketku dan menyelimutkannya kepada Saika. Suara serangga dan hewan hewan liar pun masih bisa terdengar. Aku terus memasang mata dan telinga ku dan tetap waspada. Kata Yume orang pemerintahan itu bisa melacak keberadaan kami sekarang.
Aku mengambil anak panah yang tadi kuletakan di samping ku ini. Aku berusaha menggali informasi lewat anak panah ini.
'G-Tech'
Tulisan kecil yang terukir di batang anak panah yang terbuat dari besi itu. Sepertinya aku mengenali nama itu, hanya saja aku lupa dimana dan kapan aku melihatnya.
"Senpai, apa kamu suka sama Ai-senpai?" Tanya Saika menatapku dengan wajahnya yang mulai memucat.
"Memangnya kenapa?" Aku mengernyit heran kenapa dia tiba tiba bertanya hal yang sudah ia tanyakan beberapa kali padaku.
"Kalo gitu, apa Senpai mau kencan denganku?"
__ADS_1
Hoi! Serius kah?!
"Saika ... jangan bercanda di saat seperti ini ...," ujarku memasang wajah datarku.
"Aku serius kok"
Aku nyesel nerima ajakannya keluar tadi ...
"Saika, maaf ... tapi aku gak suka sama kamu." Aku menolaknya mentah mentah.
"Memangnya aku butuh persetujuan dari Senpai?"
"Aku hanya ingin kencan ... bukan pacaran." Arah pembicaraan kami mulai menjalar ke mana mana.
"Saika, cuma bercanda kan?" Aku hanya memastikan kata katanya barusan.
"Aku serius," jawaban yang paling tak kuharapkan.
"Kenapa kamu pengen kencan?" Lanjutku bertanya.
"Nee, kemarin temen temen di kelas semua ngomongin tentang kencan ..."
"Dan mereka tanya sama aku ..."
"Aku bahkan gak tahu rasanya kencan ... dari kecil aku selalu pergi sama kakakku terus."
"Aku belum pernah keluar dengan laki laki lain selain kakak."
Jadi gadis mesum yang dingin di sampingku ini tak pernah punya pacar. Padahal aku yakin dia adalah gadis yang populer di kelas karena kecantikannya. Walau aku memang jomblo dari lahir, tapi aku sama sekali tak menginginkan yang namanya kencan. Hanya buang buang waktu saja.
"Apa gak ada cowok lain?" Aku berusaha untuk menghindar dari ajakannya lagi.
"Aku cuma pengen kencan sama Senpai!" Saika kembali menggelembungkan kedua pipinya itu.
"Kenapa harus aku seh?!" Aku mulai kesal.
"Karena Senpai mirip seperti kakak." Saika menyandarkan kepalanya di pundak kiriku.
Entah kenapa dunia ini dipenuhi gadis Brocon ...
Kenapa banyak adik perempuan yang suka sama kakak laki lakinya sendere seh?!
Apa dunia ini memang hampir kiamat?!
__ADS_1
Mati aja deh aku ...