Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 83


__ADS_3

"Terima kasih Saika!!!"


Aku menggunakan ujung perisai Saika sebagai tumpuan untuk melompat. Aku melesat cepat menuju Detroit itu dan bersiap mengayunkan pedang iblis ku ini. Tapi aku dikejutkan dengan Air yang tiba tiba bisa menjulang tinggi dan seolah olah ingin memukul ku.


"Cih ..."


Aku terpaksa mengayunkan pedang ku ke bawah dan membelah air sungai yang menjulang tinggi itu. Sebelum aku sempat bernafas, peluru air yang diluncurkan Detroit itu menghantam ku dan aku pun terpental mundur kembali ke tempat awal ku. Tak ku sangka ada lawan yang kuat selain iblis yang keluar dari gerbang neraka.


"Woi!! ... Kaito, apa kau punya rencana?!", teriak Kakume yang masih berlindung di balik pohon itu.


"Haa ... aku sedang berpikir." Aku kembali bangkit berdiri dan menggenggam gagang pedang ku dengan kuat.


"Senpai awas!!"


Buash!!!


Saika kembali melindungi ku dari serangan Detroit itu. Dan di saat yang sama Detroit itu menodongkan senjata yang menggantikan lengan kirinya itu.


"Machine gun! Active!!", ujar Detroit itu dengan matanya yang makin bercahaya.


Detroit itu menembakan jutaan peluru air dari lengan kirinya itu dan menghujani perisai Saika. Perlahan tapi pasti kaki Saika terseret mundur karena serangan tanpa henti itu. Itu memberi ku sebuah ide. Aku mendekat ke arah Saika dan menggenggam perisai miliknya bersama sama.


"Saika, dalam hitungan ke tiga, dorong sekuat tenaga ya?" Aku juga bersiap dengan pedang yang ada di tangan kanan ku.


"Satu ... Dua ... Tiga!!!"


Kami berdua mendorong tameng besi itu tanpa mempedulikan serangan dari sang Detroit itu.


"Jangan remehkan kekuatan ku!!!" Teriak Saika mengeluarkan semua tenaga yang ia miliki.


Kami berdua melangkah maju membelah jutaan peluru air yang menghantam perisai Saika. Air itu pecah dan menyebar ke segala arah layaknya hujan. Saat aku ras jarak antara kami dan Detroit itu cukup dekat, aku melompat sangat tinggi dan mengayunkan pedang iblis ku.

__ADS_1


Zrat!!!


Aku berhasil memotong lengan kirinya, dan sekarang aku akan terjatuh ke aliran sungai yang deras ini. Tapi sebelum itu terjadi, Kakume melompat dari seberang sungai dan menangkap ku agar kami bisa kembali ke pinggiran sungai lagi.


"Lain kali libatkan aku ke dalam rencanamu dasar payah!" Ujar Kakume kesal.


"Sudah jelas kau terlibat." Aku kembali berdiri tegak dan bersiap menghadapi serangan selanjutnya.


Swus!! Duar!!!


Sebelum aku bisa bernafas lega, air dari aliran sungai itu membentuk sebuah kepalan tangan yang sangat besar dan melesat ke arah ku dan Kakume. Aku mendorong Kakume ke sisi lain dan melompat mundur supaya terhindar dari hantaman tangan raksasa itu.


Semua serangan Detroit itu adalah serangan jarak jauh. Aku bisa kerepotan bila hanya menggunakan sebilah pedang. Aku memutuskan untuk menggunakan mode Dark Breaker. Aku memejamkan mata ku dan merasakan kekuatan kegelapan yang mulai mengalir di tubuh ku. Pedang di tangan kanan ku lenyap.


Sang kegelapan, bantu aku melenyapkan semua yang ada di depan ku~


"Dark Breaker!!!"


Aku mengangkat tangan kanan ku ke atas daan memanggil sebuah tombak kegelapan. Tombak itu terbentuk karena energi kegelapan yang aku keluarkan. Gagang tombak ku berwarna hitam pekat dan mata tombaknya merah bersinar.


"Shadow Spear!!!"


Aku melemparkan tombak ku itu ke arah Detroit. Sebelum mata tombak ku mendekat ke padanya, Detroit itu sudah membuat dinding air yang akan melindunginya. Tapi sia sia saja, tombak ku dengan mudah memecah tembok air miliknya itu. Tak sampai di situ saja, tombak ku menembus dadanya yang terbuat dari besi itu.


"The Great Impact!!!" Teriak Saika melempar perisainya ke arah Detroit itu.


Trank!!!


Perisai Saika ternyata juga bisa digunakan sebagai senjata yang sangat mematikan. Saika melempar perisainya lanyaknya sebuah shuriken. Perisai itu memutuskan leher Detroit itu sebelum akhirnya lenyap menjadi butiran cahaya. Kepala Detroit itu jatuh ke dataran yang ada di seberang sungai.


Walau pun begitu, ternyata tubuh Detroit itu bisa bergerak tanpa kepala. Detroit itu mengarahkan tangannya ke Saika. Dan di saat yang sama aliran sungai itu terangkat dan membentuk sebuah ombak besar yang siap menghantamnya.

__ADS_1


Sial!!


"Saika!!!" Aku berlari ke Saika tepat sebelum ombak besar itu menghantam nya.


Bwush!!!


Aku berhasil mendekap Saika sebelum ombak besar itu menghantam kami berdua. Ombak itu menenggelamkan dan mendorong kami kebelakang sampai kami terantuk batang pohon besar yang ada di pinggir sungai. Beberapa saat kemudian ombak yang menenggelamkan kami itu surut.


Akhirnya aku bisa menarik nafas dengan bebas. Aku melepas pelukan ku dari Saika dan menoleh ke arah Detroit tadi. Ternyata tadi adalah serangan terakhirnya, tubuh Detroit itu sudah mengambang di aliran sungai dengan asap dari kabel kabelnya yang dialiri listrik itu.


"Senpai gak apa apa kan?" Tanya Saika.


"Kamu sendiri?" Aku membantunya untuk kembali bangkit berdiri.


Seragam kami pun basah kuyup. Ini adalah pertarungan paling mengesalkan. Aku harus langsung pulang karena seluruh pakaian ku basah. Aku membersihkan debu yang menempel di celana ku.


"Hoi Kaito ... lihat tuh." Kakume tiba tiba berada di samping ku dan berbisik perlahan.


"Apaan?" Aku langsung menoleh ke Saika.


Astaga ... Mati aku!!


Aku langsung memalingkan wajah ku ketika melihat apa yang dimaksud Kakume. Karena seragam Saika basah seluruhnya, itu menjadikan seragamnya tembus pandang. Dan semua orang sekarang bisa melihat pakaian dalamnya yang berwarna merah itu.


Aku bisa melihat Kakume yang terus menatap dada Saika dengan pikiran kotornya itu.


"Woi tolol, bisa gak sekali aja gak usah bahas gituan?"


"Senpai? Si mesum itu ngomong apa?" Tanya Saika dengan tatapan dinginnya itu.


"Mati aja deh aku ..."

__ADS_1


__ADS_2