Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 5


__ADS_3

"Kaito!! tunggu!!"


Suara Ai yang menghentikan langkah kakiku yang hendak keluar dari gerbang sekolah. Saat aku menoleh, Ai berlari ke arah ku dengan senyumnya itu. Rambut hitam yang tertiup angin, dan bola mata ungunya yang berbinar itu.


Cih ... mau ngapain lagi nih?!


"Ano ... gak jadi deh ...," ucapnya membatalkan niatnya untuk mengatakan sesuatu padaku.


"Serius kah? ... ya udah ...," aku kembali melanjutkan langkah ku untuk pulang kerumah.


"Tu-tunggu!" Ai menarik tanganku dan menahan ku agar tak pergi darinya sekarang.


"Hmm", aku kembali berbalik dan berhadapan dengannya lagi.


"Itu ... aku cuma mau bilang ... makasih udah jadi temenku", katanya dengan rona merah yang memancar di pipinya.


Lagi lagi aku terpaku saat melihat wajahnya itu. Entah kenapa aku merasa pernah melihat nya atau bahkan pernah mengalami hal seperti ini. Sebenarnya aku ini memang reingkarnasi atau apa?


"Terserah kamu aja," jawabku dengan nada datar seraya menghela nafasku.


"Makasih banyak!" Ai membungkukan badannya tanda ia sangat berterima kasih padaku.


Satu satunya pertanyaanku adalah, sebenarnya dia itu tuli atau cuma pura pura sih?


"Ano ... kamu bisa denger apa yang aku omongin?" Tanyaku menunjuk ke arah wajahju sendiri dengan jari telunjuk.


"Maaf ... aku gak denger kamu ngomong apa ...," kata katanya yang semakin membuaku tak percaya dia benar benar tak bisa mendengarku.


Gak denger tapi kok nyambung ...

__ADS_1


"Hoii!!! ... kalian ngapain?" tanya Raku yang baru melangkah keluar dari gedung sekolah bersama dengan Mina yang ada di sampingnya.


Dasar Raku, tadi bilang dia mau pulang. Pada akhirnya dia nemenin Mina juga. Mereka berdua sebenarnya memiliki perasaan satu sama lain. Tapi mereka hanya malu untuk mengungkapkannya.


"Ternyata saran ku tadi pagi guna kan? ... kamu akhirnya cari pacar juga", ujar Mina dengan tawa ejekannya itu.


"Hoi ... mau ku pukul kalian berdua", ancam ku dengan wajah datar.


"Hoi ... santai santai ...", Raku menepuk pundak ku dan berusaha menenangkanku.


"Hoo ... namamu siapa? ... ternyata ini tipe nya Kaito ...," lagi lagi Mina menunjukan senyuman ejekannya itu pada ku.


"Salam kenal aku Mirai Ai", katanya dengan senyumannya itu.


"Whoa ... namanya bagus juga", puji Raku dengan senyuman ejekan yang ia tujukan padaku.


"Mina, Raku ... Ai itu tuli ... dia mungkin gak bisa denger kalian ngomong apa ... jadi kalo kalian tanya dia diem aja bukan karena dia cuek," jelasku.


"Baru kali ini Kaito peduli sama cewek nih ... pertanda apa nih ya?", Raku menyenggol ku dengan sikunya berkali kali.


"Terserah kalian ...", aku langsung membalikan badan dan melangkah keluar dari gerbang sekolah untuk segera pulang ke rumah.


Sore yang dingin ini, membuatku semakin ingin cepat sampai ke rumah.


-------


"Met sore kak!" sapa Hanabi yang sedang menonton televisi di ruang keluarga saat ia melihat ku masuk ke rumah.


"Hmm ...," aku langsung menaiki tangga dan masuk ke sarangku.

__ADS_1


Aku langsung melepas jaket dan segera menjatuhkan diri ku di atas kasurku yang lembut ini. Rasanya sangat nyaman sampai aku tak ingin kembali berdiri untuk selamanya.


Ting tung~~


Notifikasi ponsel yang aku letakan di samping kepalaku.


{Dunia akan kembali berwarna saat kau menemukannya}


{Semoga quotes aku membantu}


{*****!!}, chat dari Mina yang tak ku mengerti untuk apa dia mengirimkan kata kata yang pastinya gak berguna bagi ku.


Aku pun memejamkan mata ku karena kelelahan.


"Kamu gak bakal bisa jadi penulis"


"Apa ini?! jalan cerita nya kacau?"


"Penokohan nya buruk!"


"Payah!"


Kata kata yang ku dapat kan dari juri juri setiap lomba yang aku ikuti sejak SD dulu kembali terngiang di kepalaku.


"Cih ... apa apaan itu ...", gumam ku kesal sembari melempar bantal ku ke sembarang arah.


Dan di sat yang sama senyuman Ai muncul di kepala ku dan membuat mataku langsung terbuka.


"Mirai Ai ...",

__ADS_1


"Heh heh heh ... sadar ... ngapain coba mikirin tuh cewek, ngerepotin aja ...", gumamku sembari menggelengkan kepalaku.


__ADS_2