Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 102


__ADS_3

Greek~


"Kaito? apa itu Kamu?"


Saat aku masuk ke dalam rumah, Ai sudah menungguku di ruang keluarga. Aku melepas jubahku ini dan menyandarkan Kensetsu-ku di dinding samping pintu rumahku yang tertutup rapat itu.


"Kenapa kamu pakai jubah, dan ..., pedang siapa itu?" Ai menghampiriku dengan wajah bingungnya.


"Ai ...," kakiku terasa sangat berat. Pandangan ku mulai kabur. Rasa lelah sudah mengambil alih tubuh lemahku ini.


"Ka-kaito?" Ai menangkapku saat aku jatuh ke pelukannya.


"Aku sepertinya kelelahan malam ini, bisa tolong bawa aku ke kamar?" Pinta ku dengan tubuhku yang sudah tak berdaya ini.


"Ohh, kalo gitu ayo!" Ai menggandengku dan menuntun ku untuk menaiki tangga.


"Maaf ya, aku malah ngerepotin kamu ...," ucapku saat kami berdua menaiki anak tangga.


"Harusnya aku yang minta maaf sama kamu, ini semua karena aku kan?" Ai membukakan pintu kamarku lalu menuntunku masuk ke dalam perlahan.


"Ai ... kenapa belum tidur?" Tanyaku saat aku sudah duduk di pinggir ranjangku.


"Aku nungguin kamu ... masa aku enak enakan tidur waktu kakakku bertarung di luar sana?" Senyumnya itu membuat hatiku senang, aku juga menjadi lebih tenang.


"Ohh, makasih banyak loh." kataku tersenyum tipis padanya.


"Oh iya bentar!" Ai berlari keluar dari kamarku dan entah mau kemana dia.


Sesaat kemudian Ai kembali masuk ke kamarku sembari membawa segelas cokelat panas.


"Ini, aku buatin cokelat panas ...," Ai memberikan gelas berisi cokelat panas itu padaku.


"Hmm, makasih banyak." Aku menerimanya dengan senang hati lalu menyeruput sedikit cokelat panas buatanya itu.


"Kaito, gimana enak gak?" Ai duduk di samping kananku dengan senyumannya yang indah itu.


"Enak kok," jawabku sembari terus memandang ke arah asap yang keluar dari segelas cokelat panas ditanganku ini.


"Ne, apa kamu yakin gak mau aku bantu?" Lagi lagi pertanyaan yang tak kusuka itu keluar dari mulutnya.


" ... " Aku hanya diam dan menghabiskan cokelat panasku ini perlahan. Hampir beberapa menit tak ada suara sama sekali di kamarku. Hanya terdengar suara detakan jam dinding yang terpajang di kamarku ini. Ai tak lagi mengatakan sepatah kata pun setelah pertanyaanya tadi. Dia pasti menunggu jawaban dariku. Berapa kali aku harus menolaknya, dia masih belum mengerti juga.


Cahaya lampu yang bersinar terang di langit langit kamarku. Jendela yang tirainya sudah tertutup rapat. Buku buku yang berserakan di atas meja belajarku. Tempat sampah yang terbalik dan aku terlalu malas untuk mengembalikannya ke posisi semula. Setelah gelas di tangan ku kosong, aku meletakanya di kolong ranjang ku. Aku menundukan kepala ku dan menyangganya menggunakan kedua tanganku.

__ADS_1


"Ai, jangan pernah sekali lagi kamu tanya hal itu lagi ya?"


"Loh kenapa?" Tanya Ai bingung.


"Kenapa?" Aku mendorong Ai dan membuatnya terbaring di ranjangku. Aku menahan kedua lengannya dengan tanganku. Aku mendekatkan wajah ku padanya dan sekarang dia tak akan bisa berbuat apa apa selain mendengarkan ku. Aku harap dengan cara ini dia dapat mengerti alasannya.


"Ka-Kaito?!" Pipinya mulai memerah dan Ai ketakutan karena aku membuatnya tak bisa bergerak sama sekali.


"Aku melakukan semua ini untukmu ...,"


"Aku mohon jangan pernah berpikir untuk membantuku bertarung."


"Kehilanganmu, aku tak ingin kehilanganmu lagi!"


"Ku mohon mengertilah, aku mohon."


"Jika kau tanya kenapa, jawabanya cuma satu ...,"


"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu!"


"Aku tak sanggup hidup tanpamu."


"Aku tak akan bisa bernafas dengan bebas tanpa melihat senyumanmu itu."


"Aku, aku terlanjur mencintaimu!"


"Aku tak ingin takdir merebutmu dariku lagi."


"Ini adalah kesempatan terakhir kita ...,"


"Aku mohon! Aku mohon!"


"Mengertilah Ai, aku sangat mencintaimu." Perlahan tapi pasti, aku mendekatkan wajahku padanya. Beberapa saat kemudian bibir kami saling bersentuhan. Aku kembali mengecup bibirnya lagi, hanya saja kali ini aku melakukanya dengan sengaja. Beberapa saat kemudian aku tersentak dan menyadari perbuatanku yang kurang ajar ini.


"Maaf, aku sudah tak bisa berpikir jernih lagi." Aku melepas tanganku dari lengannya dan berbaring di sampingnya.


"Kaito? apa malam ini aku boleh tidur di sini?" Pertanyaan yang sama sekali tak terduga keluar dari mulut Ai.


"Hmm, terserah ...," aku memejamkan mataku karena tak bisa menahan rasa lelah ini.


"Maaf ya, lagi lagi aku membuatmu kesal ...," kami tidur satu ranjang dan saling berhadapan. Ai membelai pipiku dan memancarkan senyuman indahnya itu. Aku bisa melihat paras cantiknya itu dengan jelas. Aku bisa merasakan setiap hembusan nafasnya yang keluar. Matanya menahan air mata yang hendak mengalir keluar. Rona merah di pipinya itu membuatnya semakin terlihat cantik.


"Aku yang harusnya minta maaf, aku sudah kurang ajar tadi." Aku menyentuh tangan kanan Ai yang membelai pipiku itu dengan tangan kiriku.

__ADS_1


"Kamu sudah berkorban banyak untukku, dan aku malah egois dan tidak tau terima kasih."


"Maafkan aku Kaito, aku hanya gadis tuli yang bodoh dan tak bisa berbuat apa apa!"


"Aku tak layak hidup!" Ai mulai mengalirkan air matanya keluar.


"*****! kau masih belum mengerti juga ya?" Aku menyentuh bagian belakang kepalanya dan menarik kepalanya perlahan sampai menyentuh dadaku.


"Maaf, aku memang bodoh!" Ai terus menangis dan air matanya mulai membasahi kemeja yang aku pakai ini.


"Ai, dengar, akulah yang tak layak hidup."


"Aku tak akan bisa hidup tanpamu, Hanabi dan yang lain."


"Jika tak ada kalian aku pasti sudah bunuh diri."


"Aku membenci dunia ini."


"Aku membenci diriku sendiri."


"Aku membenci semua hal tentang diriku."


"Aku membenci semuanya."


"Jangan merendahkan dirimu sendiri!"


"Lebih baik aku mati jika mendengarmu berkata seperti itu lagi."


"Aku mohon! Tetaplah hidup dan tersenyumlah padaku setiap saat."


"Walau takdir menghalangi cinta kita, tapi aku tak akan menyerah begitu saja."


"Aku benar benar mencintaimu, entah berapa kali aku harus mengatakannya." Aku memejamkan mataku dan air mata pun mulai keluar.


"Kaito, maaf maaf maaf!" Ai terus meneteskan air matanya di pelukanku.


"Ai, tak perlu minta maaf. Mulai sekarang, jika kau ingin membantuku."


"Cukup tersenyum padaku setiap saat dan nikmati hidupmu bersama Hanabi."


"Aku tak ingin kamu kesepian lagi."


"Apa kamu bisa? adikku tersayang?" Aku mengelus rambutnya dengan lembut.

__ADS_1


"Siap kakak!"


__ADS_2