
Walau rasa sakit di dadaku inisudah hilang. Urat urat serta jantungku yang bersinar orangye terang ini masih terlihat saat aku telanjang dada. Aku hanya bisa berdiri menghadap ke dinding kamar mandi ini. Aku berada dalam bilik kaca berukuran satu kali satu meter. Menghadap ke shower yang menempel di dinding.
Shower di atas kepalaku ini menghujaniku dengan jutaan tetesan air yang menyejukan tubuhku ini. Sekujur tubuhku yang telanjang ini sudah basah kuyub. Rambut basah dan tetesan air berjatuhan dari poni rambutku.
Mungkin ... setiap kali aku menggunakan kekuatanku, kutukan dalam tubuhku ini bereaksi.
Begitulah pikirku, aku menyandarkan keningku ke dinding dan melihat ke bawah. Saat melihat benda bersinar di dadaku itu membuatku sangat takut untuk mati. Aku rasa, sekali atau dua kali lagi aku menggunakan kekuatan itu, aku bisa mati. Ya, aku memang tak takut mati, yang aku khawatirkan hanyalah. Setelah aku kehilangan nyawaku, tubuh ini masih bisa bergerak seperti Akame.
Dan aku yakin aku tak akan menjadi Akame biasa, dengan kakuatanku yang sebesar ini. Takdir bisa semakin kacau.
"Kenapa bisa sampai seperti ini!"
Buk!!
Aku memukul dinding dengan tinjuku. Pikiranku semakin kacau belakangan ini. Ya, sudahlah, hanya diam dan berpikir bukan jalan keluarnya sekarang ini. Aku mematikan shower lalu keluar dari bilik kaca ini. Berlanjut dengan mengambil handuk di samping wastafel, lalu mengeringkan tubuhku.
Setelah beres mengeringkan badan, aku berbalik dan mengambil pakaianku di pinggiran bak mandi yang masih kering itu. Aku keluar melewati pintu kamar mandi ini setelah selesai memakai semua pakaianku. Aku hanya memakai kaos hitam dan celana pendek warna cokelat.
Saat berbalik lalu menoleh ke kiri, aku melihat adik kelas mesumku itu masih duduk di atas ranjangku. Ia memeluk bantalku erat dan menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Apa badanmu masih panas?" Tanyaku sembari mendekat padanya.
"Hmm?" Saika tersentak lalu menatapku. Sepertinya ia melamun, entah apa lagi yang ia pikirkan.
"Mau makan malam?" Tanyaku seraya menyentuh keningnya dengan punggung tangan kananku.
"Hmm ...," si mesum itu hanya menggelengkan kepalanya.
Dia masih demam, sepertinya aku harus menyuapinya ...,
"Aku suapin ya? Tunggu bentar oke?" Tanpa pikir panjang aku segera keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju ke lantai dasar.
"Wo!! Kakak? Ayo makan!" Ajak Hanabi yang sedang sibuk menata masakan buatannya di atas meja makan.
"Hoi? Gimana keadaan pacarmu?" Tanya Munmei yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Dia masih demam, Hanabi? Masak apa hari ini?" Aku menuju ke depan meja makan dan melihat apa yang dimasak adik tersayangku ini.
"Humm, nasi goreng spesial kak!" Jawabnya penuh dengan senyuman keceriaan.
"Woah ...," perutku langsung terserang oleh jurus bernama lapar. Aku melihat empat piring nasi goreng yang ada di atas meja makan ini.
"Kak Fuyuka pulangnya nanti malem kan? Jadi ga kumasakin." Hanabi duduk di kursi seberang Munmei.
__ADS_1
"Biarin aja dia kelaperan di sana ...," Kata Munmei seraya melahap sesendok nasi goreng buatan Hanabi.
Bruak!!!
"Hoi!! Jangan lupakan aku!!" Sergah Fuyuka yang tiba tiba membuka pintu depan rumah ini.
"He? Ngapain teriak teriak?" ucap Munmei dengan wajah datarnya.
"Laper tau!!" Fuyuka langsung berlari kemari seraya duduk di kursi yang ada di samping Munmei.
"Wahh! Nasi goreng?!" Tanpa basa basi Fuyuka langsung mengambil sendok di samping piring itu lalu melahap masakan adikku ini.
"Enak!!" Ujar Fuyuka mengacungkan jempolnya pada Hanabi.
"Kak Fuyuka! Itu kan punya kak Kaito!" Teriak Hanabi dengan wajah cemberutnya.
"He? Haaaaaa!!!??" Fuyuka membeku karena terkejut.
"Udah ga apa, aku mau suapin Saika dulu ya?" Aku mengambil sepiring nasi goreng yang tersisa ini untuk Saika.
"Hoo ... perhatian banget ..., jangan cemburu loh." Kata Munmei menggoda Fuyuka sembari mencubit pipinya.
"Nanti aku masakin lagi ya kak!" Suara Hanabi yang terdengar ketika aku menaiki tangga.
Setelah membuka pintu, aku segera kembali masuk ke dalam kamarku. Tak lupa aku juga kembali menutup pintu kamar ini perlahan. Saat aku menoleh lagi ke arah ranjangku, Saika masih duduk di atasnya tanpa merubah posisinya sama sekali.
"Saika?" Aku duduk di sampingnya untuk memintanya makan. Dia pasti tak ingin makan karena demamnya itu.
"Hanabi masak nasi goreng loh, makan ya?" Bujukku sembari menunjukan sesendok nasi goreng di tangan kananku.
"Hmm ...," lagi lagi si mesum itu menggelengkan kepalanya.
"Nee ... apa kamu mau aku panggilin kakakmu?" Tanyaku karena mungkin kakaknya bisa membantu.
"Ga perlu ...," Saika tetap memeluk bantal dan menundukan kepalanya.
Kruwwwwrrrkkk!!!
Ah, sial, perutku malah meraung kelaparan ...
"Senpai aja yang makan ...," kata Saika tanpa menoleh padaku.
"Hmm, aku ga mau makan sebelum kamu makan." Aku masih belum menyerah.
__ADS_1
"Hmm? Kalau Senpai sakit?" Tanyanya lirih menatapku dengan paras imutnya itu.
"Biarin ...," aku berpura pura memalingkan wajahku darinya.
"Aaaaahh ...," Suara Saika yang sedang membuka mulutnya itu mengambil perhatianku.
"Naa, gitu dong ...," aku kembali mengangkat sendok yang berisi nasi goreng ini dan mengarahkannya ke mulut Saika.
"Enak ...," gumam Saika sembari mengunyah sesuap nasi dariku tadi. Wajah dingin tanpa ekspresinya itu tak lagi membuatku kesal. Aku malah merasa tenang bila dia bersikap seperti biasanya.
"Sekarang giliran Senpai ...," Saika merebut piring dan sendok di kedua tanganku. Setelah mengambil sesendok nasi dari piring, ia mengarahkan sendok itu ke mulutku.
"He?" Aku terkejut dan malah gugup.
"Katanya Senpai mau makan setelah aku ... jangan boong." Si mesum itu menggelembungkan pipinya dan membuatku tak bisa menolah permintaannya. Aku membuka mulutku dan membiarkan ia menyuapiku.
"Hnm! Masakan Hanabi memang yang terbaik!" Ucapku sembari merasakan masakan adikku ini di mulutku.
"Sekarang giliran Senpai ...," ia memberikan piring dan sendok itu kembali padaku. Ia bahkan tak menatapku karena tersipu malu. Rona merah di pipinya itu membuat wajahnya semakin imut.
Syukurlah dia mau makan ...,
Dan begitulah carak unik kami untuk makan malam hari ini. Hal itu terus berlanjut sampai piring ini tak menyisakan satu pun nasi. Aku meletakan piring beserta sendok tadi di atas meja belajarku. Aku ingin beristirahat sejenak sebelum mengembalikan piring itu ke dapur. Jadi aku memutuskan untuk kembali duduk di samping Saika.
Dan seperti yang aku duga. Tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut kami berdua. Hanya ada kesunyian yang menyelimuti kamarku ini. Gadis rambut putih tak sampai sebahu, poni yang menutup mata kanannya, bola mata ungu yang indah. Ia mengenakan kaos putih dan celana pendek hitam duduk di samping kiriku. Memeluk bantal dan menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Nee, Senpai ... menurutmu, diantara aku dan kak Ai ... siapa yang lebih cantik?" Pertanyaan Saika yang membuatku langsung memusatkan perhatianku padanya.
"Ke-kenapa tiba tiba tanya gitu?" Aku malah termakan rasa gugup karena ia tak menoleh padaku sama sekali. Ia tetap memeluk bantalnya dan memandang lurus kedepan.
"Hmm, aku minta jawabannya sekarang ...," Ia menoleh dan mambuatku semakin gugup.
"Emm ...," aku memalingkan mukaku darinya dan menyandarkan punggungku ke dinding. Aku sengaja mengulur waktu untuk berpikir.
Aaahhh?! Gimana ini?! Pertanyaan ... walau ini tidak terlalu sulit ... tapi, jujur saja, Saika lebih cantik. Tapi aku tetap memilih Ai, ya sudah lebih baik aku jujur saja ... Eeehh?!
Aku terbelelak saat menyadari Saika menyandarkan kepalanya di bahu kiriku. Entah kenapa sikapnya itu selalu berhasil meluluhkan hatiku. Dia jauh lebih agresif dari pada Ai yang dulu. Sebelum ia kerasukan jiwa Munmei.
"Aku kalah ... kamu lebih cantik dari kakakmu ...," jawabku dengan senyum tipis.
"Be-be-be-beneran?" Saika tersentak dan malah bergeser ke kiri menjauhiku. Ia juga malah menutupi wajahnya dengan bantal.
"Bwahahaha!!! Kenapa malu? Kamu sendiri yang tanya ...ahahaha." Lagi lagi aku tertawa karena melihat tingkah lakunya itu.
__ADS_1