
Kaito
Cahaya oranye yang mendobrak masuk melalui jendela ruangan klub. Bau debu dan kertas kertas tua yang tak pernah hilang. Kali ini aku tak lagi berdua dengan si tuli itu. Sekarang aku duduk diantara dua gadis yang tidak normal.
Sebelah kiri ku adalah gadis tuli yang selalu memandang novelnya. Sedangkan gadis sebelah kiri ku adalah si mesum yang dingin itu. Di tambah lagi beberapa siswa laki laki yang mengintip dari kaca yang ada di pintu ruang klub sastra ini. Alasannya hanya satu, mereka langsung jatuh hati pada Saika pada pandangan pertama.
Ku akui wajah Saika memang cantik, ditambah tubuhnya yang sempurna. Laki laki mata keranjang seperti Kakume pasti langsung berteriak kegirangan ketika melihat Saika melakukan hal yang imut. Rambut putih yang tak sampai ke bahu, poni rambut yang menutupi mata kanannya. Sekarang dia malah memakai kacamata dan membuatnya terlihat lebih imut. Tak heran banyak laki laki yang langsung jatuh cinta padanya. Jika aku mata keranjang pasti aku juga akan jatuh hati padanya. Tapi sayangnya aku bukan orang seperti itu.
Tak peduli seberapa cantik mereka. Aku tetap tidak akan merasakan kebahagiaan jika berpacaran dengan mereka. Kutukan ku inilah yang membuat ku berpikir demikian. Lagi pula, aku punya hal yang lebih penting dari pada urusan cinta.
"Saika, kenapa kamu malah ikut ikutan ke sini seh?!" Aku memegang kening ku sendiri.
"Mulai sekarang aku adalah perisai pribadi Senpai, itulah yang dikatakan Sensei pada ku." Jawaban yang selalu saja membuat ku lelah untuk mendengarnya.
"Apa Senpai lebih suka sama Ai dari pada aku?" Saika kembali mendekatkan wajahnya pada ku.
"Eh?! ... mana mungkin, aku gak akan memilih salah satu dari kalian." Aku berusaha menjauhkan wajah Saika yang semakin dekat dengan ku.
"Kaito?, apa Saika meminta mu untuk jadi pacarnya?" Ai menarik lengan seragam ku.
Mati aja deh aku ...
"Udah woi ... capek aku." ucap ku lemas karena menyerah menghadapi dua orang aneh di samping ku ini.
__ADS_1
"Oh iya, Kaito ... apa nanti malem kamu ada misi?" Tanya Ai meletakan novel yang di atas meja.
"Hmm ... Saika, hari ini kita libur kan?"
"Iya", jawab Saika tanpa ekspresi sama sekali.
"Woah!!! bisa makan malam bareng dong!?", Ai melempar senyumnya itu dan wajahnya semakin maju ke arah ku.
"Hmm ... jangan terlalu senang dulu, siapa tahu ada misi yang datang mendadak." Aku memalingkan pandangan ku darinya.
Di saat yang sama aku mendapat telepon dari Fumio. Tanpa pikir panjang aku langsung menerimanya.
"Fumio ada apa?"
"Ha?! Detro apa?!"
"Cepat! sungai Mabuta!!" Kata kata terakhir Fumio lalu sambungan telepon kami terputus.
"Ada apa Senpai?" Tanya Saika.
"Ai ... kamu di sini bentar ya, ada urusan mendadak." Aku bangkit dari kursi ku dan berlari keluar dari ruang klub.
Saika pun membuntuti ku dari belakang. Saat kami berlari menyusuri koridor sekolah, kami berdua menjadi pusat perhatian. Walau begitu, aku sama sekali tak menghiraukannya. Aku pun menjalani hal yang paling tak ku sukai, yaitu berlari. Apa lagi jarak sekolah dan sungai Mabuta itu hampir tiga ratus meter.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlari aki dan Saika akhirnya sampai di gerbang masuk sungai Mabuta. Suara ledakan pun mulai terdengar, Aku harap si pirang mesum itu masih hidup. Kami berdua menghentikan langkah saat melihat sesuatu yang bukan manusia menyerang Kakume yang sedang berlindung di balik pohon yang ada di pinggiran sungai.
Laki laki dengan mata yang bersinar layaknya lampu. Dari kepala sampai pinggangnya terlihat seperti robot. Laki laki itu berada di atas aliran sungai yang deras itu. Dia tak memiliki kaki, dia menggunakan air sungai untuk membuat tubuhnya melayang.
Dia juga tidak memiliki tangan. Hanya lengan dengan lubang seperti moncong senjata besi lah yang menjadi lengan kirinya. Tangan kanannya juga sudah berubah menjadi tangan robot seutuhnya. Sebenarnya dia itu manusia atau apa sih?!
"Senpai, itulah yang namanya Detroit, manusia hasil eksperimen ilmuan gila di Enjeruhanta." Saika menepuk pundak ku.
"Kalian juga Tenshi ya? Kalian akan mati bersama teman kalian itu!" Suara robot yang keluar dari mulut Detroit itu.
"Cih, tak ku sangka aku akan bertarung lagi sore ini." Ucap ku sembari menggenggam Ten Kara No Ken milik ku.
"Sang besi yang agung, lindungi segala yang ku miliki!" Saika memanggil tameng besinya itu.
Di saat yang sama Saika sudah membawa perisai besi besar berbentuk lingkaran cembung dengan lambang pedang yang ada di depannya. Tameng besi warna hitam itu terlihat sangat berat bagi ku, tapi Saika mengayunkan nya kesana kemari seperti perisai mainan dari plastik.
"Dark Beast!"
Tubuh bagian kiri ku kembali dipenuhi retakan aneh. Mata kiri ku kembali berubah menjadi merah menyala. Pisau ku berubah menjadi pedang cahaya dengan sinar warna merah darah.
Swush!!!
Sebuah peluru air yang cukup besar melesat cepat ke arah ku. Tapi sebelum serangan Detroit itu menghantam ku, Saika sudah berada di depan ku dan menangkis serangan itu dengan perisai kuat miliknya itu.
__ADS_1
Peluru air itu pun meledak dan melontarkan ribuan tetesan air ke segala arah. Jadi ini kekuatan tameng pribadi ku, sekarang aku tak perlu menghindari serangan jarak jauh lagi. Sesuai yang ku harapkan, anggota baru tim ku ini sangat berguna.