Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 127


__ADS_3

Tak Tak Tak!!


Suara deru langkah kaki ratusan orang yang lalu-lalang di depan mataku. Suara tawa kebahagiaan, suara tangisan bocah, suara satu kucing liar yang lalu lalang di sekitar pohon yang ada di belakang kami. Gemerlap lampu perkotaan yang sangat indah. Suara kendaraan bermesin yang lalu lalang di atas aspal jalan. Semua itu bercampur jadi satu membentuk satu kesatuan yang utuh.


Aku duduk di atas kursi kayu panjang depan pohon sakura yang masih mekar di akhir musim semi ini. Dan tentu saja aku tak sendirian, aku ditemani si mesum cantik itu di samping kananku. Aku mengakuinya sekarang, dia lebih cantik dari pada Ai, dan aku sedikit membuka hatiku untuknya. Ditambah lagi fakta bahwa dia adalah reingkarnasi Ame, hujan semangat di kehidupanku yang sebelumnya.


Tak ku sangka pertempuranku dengan sang takdir menjadi serumit ini. Tiga organisasi yang berlawanan. Satu dalang di balik terbukanya gerbang neraka. Fate Stone yang ada di dalam tubuh Ai dan Saika. Semoga tak ada lagi yang bisa membuatku lebih benci terhadap takdir dan dunia ini.


Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut kami berdua. Aku melontarkan pertanyaan yang akan menentukan masa depan. Jika dia menjawab bahwa ia menyukaiku, agak sedikit mudah membuatnya sepenuhnya jatuh hati padaku. Dan jika dia menjawab tidak, aku mungkin bisa mati. Aku meneguk salivaku sendiri karena menunggu jawaban keluar dari mulut Saika.


"Neko ...," Suaranya yang membuatku terperanjat dan mengambil seluruh perhatianku.


"Apa?!" Aku kira dia menjawab pertanyaanku, eeh, dia malah memangku seekor kucing dan mengelus-elus punggung kucing itu.


"Senpai, dia imut kan?" Tanya Saika sembari terus membelai bulu lembut kucing dengan bulu putih bersih itu.


"Hmm, Saika? Kenapa kamu suka kucing?" Tanyaku sembari ikut mengelus kepala mungil kucing itu.


"Karena mereka lucu ... dan katanya bulu mereka lembut ...," ucapnya dengan tatapan dinginya kepada kucing itu.


Katanya? Apa jangan jangan!?


"Saika, apa kamu gak bisa merasakan bulu kucing itu dengan tanganmu?" Lanjutku bertanya.


"Hmm, walau tangan ini kelihatan sempurna ...,"


"Tapi tetap saja semua yang ku sentuh rasanya sama ...," kata katanya itu menjelaskan semuanya. Jadi tangan robotnya itu juga mempunyai kekurangan.


"Ohh, kamu belum pernah merasakan lembutnya bulu kucing?" Aku merebut kucing itu dari pangkuannya.


"Belum," jawabnya dengan nada datarnya yang khas.


"Huff, ***** ...," aku mendekatkan tubuh kucing itu ke wajahnya perlahan sampai punggung kucing itu menyentuh pipi kirinya.


"Eh?!" Matanya terbelalak sesaat setelah merasakan lembutnya bulu kucing itu di pipinya.

__ADS_1


"Woaahh!!!" Saika kembali mengambil alih kucing itu dariku. Dia terus saja menggesek-gesekan tubuh kucing itu di pipinya.


"Heh, kasihan itu kucingnya ...," aku memasang wajah datarku.


"Senpai memang pintar!" Senyum tipis mulai terlihat di bibir merah meronanya itu.


"Hmm, mungkin kaki tanganmu tak bisa merasakan apapun, tapi kulit wajahmu bisa kan ...," aku mengangkat alisku tinggi tinggi menyadari betapa bodohnya adik kelasku ini. Bisa bisanya dia tak terpikirkan cara itu sejak lama.


"Nyaan~ Nyaan~" sekarang malah kucing itu mengeong keenakan karena perlakuan Saika padanya. Tapi, ya sudahlah, sedikit demi sedikit, mungkin aku bisa mengembalikan senyuman Saika yang hilang. Aku merasa senyum itu mulai tumbuh kembali seiring berjalannya waktu. Mungkin mudah menanam benih kebahagiaan pada dirinya. Tapi ketika itu sudah tumbuh menjadi pohon yang besar, akan sulit menjaganya dari tebasan pedang sang takdir.


"Haachuu!!"


"Meoww!!!"


Saika bersin dan kucing itu pun melompat pergi meninggalkan Saika. Kucing itu pasti terkejut karena Saika yang bersin tiba tiba. Bukan hanya kucing tadi, aku juga ikut terperanjat saat mendengar suara bersinnya yang imut itu.


"Yaah, dia pergi ...," Saika mendesah kesal sembari mengesek gesekan jari telunjuknya di bawah lubang hidungnya.


"Hmm, tapi jangan kelamaan juga kali ...," aku menepuk kepalanya perlahan.


"Hmm," aku menyandarkan punggungku ke kursi dan menengadahkan kepalaku memandang indahnya bunga sakura yang bermekaran di ranting pohon.


"Senpai, apa aku boleh mencintaimu?" Saika kembali menyandarkan kepalanya di bahu kananku.


"Boleh ...," tak kusangka jawaban itu keluar dari mulutku tanpa pikir panjang. Lagi pula ini juga demi keselamatan Ai.


"Tapi, aku gak tau apa itu cinta ...," ucapanya yang mengambil seluruh perhatianku.


"Setahuku, cinta itu adalah saat sepasang kekasih melakukan hubungan intim di kamar." Kata kata dengan wajah datar yang membuatku sadar Saika adalah anak yang polos dan tak tahu apa apa.


"Dasar mesum, teori dari mana itu?" Aku tersenyum menyadari kebodohan adik kelasku ini.


"Cinta bukan hanya soal ena ena ...," aku kembali memandang ke atas dan melihat bunga sakura yang terjun perlahan dari dahannya.


"Lalu, apa itu cinta Senpai?" Tanya Saika penuh kepolosan di dalam dirinya.

__ADS_1


"Cinta itu ...," aku terus mengikuti jejak bunga sakura itu sampai ia jatuh di atas rambut putih Saika.


"Cinta itu seperti bunga Sakura ...," aku mengambil bunga Sakura yang ada di kepalanya itu perlahan.


"Cinta itu akan mekar di waktu tertentu dan tidak setiap saat ...,"


"Seperti bunga Sakura yang hanya tumbuh di musim semi."


"Bunga Sakura hanya akan bertahan sebentar saja dan tak selamanya mekar."


"Tapi cinta akan bertahan selamanya di dalam hatimu." Jelasku sembari memandangi bunga Sakura yang ada di telapak tangan kiriku ini.


"Heem, aku ga paham ...," Saika kambali duduk tegak dan menatapku dengan tatapan dinginnya itu.


"Mungkin sekarang kamu belum merasakanya ... tapi suatu saat nanti ...," aku mendekatkan wajahku padanya dan bisa menatap paras cantiknya itu dengan sangat jelas.


"Aku akan membuatmu merasakannya ...," aku mengusap kepalanya perlahan dan berdiri dari tempat dudukku.


"Ya udah, ayo keburu malem ...," aku mengulurkan tangan kananku padanya.


"Terima kasih Senpai ...," Saika menggenggam tangan kananku dan bangkit berdiri. Rona merah di pipinya itu selalu mengambil perhatianku.


"Untuk apa?" Aku mengernyit heran.


"Membiarkan aku mencintaimu."


Satu kata darinya yang membuat waktuku serasa berhenti begitu saja. Walau dia adalah gadis yang berbeda sekarang, aku masih bisa merasakan ada sedikit diri Ame yang tersisa di dalam dirinya. Apa ini? Sekarang aku jatuh cinta pada dua gadis sekaligus? Apa bedanya aku dengan laki-laki mata keranjang sekarang ini?!


Aaaaghh!! Tapi jika aku tidak melakukan ini, takdir akan merebut mereka berdua sekaligus ...


Apa aku harus memilih satu diantara mereka?!


Sekarang aku malah tak bisa memilih mana yang lebih baik dari mereka berdua ...


Ai atau Saika?!

__ADS_1


__ADS_2