
"Ayah! Apa kau mengenalku?" Suara gadis yang menerobos masuk ke telingaku.
Tunggu, ada yang memanggilku ayah. Aku membuka kelopak mata lalu cahaya mulai merayap masuk kedalam mataku. Sejuk, nyaman, itulah yang kurasakan sekarang ini. Aku berada di dalam ruangan putih yang entah dimana ujungnya. Tempat ini berbeda dengan yang biasanya aku bertemu dengan Yume. Tak ada benda seperti lampu yang bersinar di langit langit. Dan sekarang aku sadar, ada seorang perempuan yang berdiri tepat di hadapanku.
"Kau ... siapa?"
Gadis dengan umur sekitar empat belas tahun. Ia memakai Yukata merah lengkap dengan aksesorisnya. Rambut hitam panjang yang dikuncir jadi dua, masing masing ikatan rambut itu ia letakan di depan bahunya. Kedua karet rambutnya itu memiliki hiasan bunga warna putih. Ia juga memakai bando putih. Manik mata hitam yang memantulkan cahaya.
"Ohh, tentu ayah tidak mengenalku ...," dia menghela nafas berat seakan sudah menduga ini akan terjadi.
"Ayah? Tunggu?! Aku masih kelas dua SMA loh?! Mana mungkin aku sudah punya anak?!" Aku berusaha menyangkalnya karena terus memanggilku dengan sebutan ayah.
"Hmm ... kalau gitu, aku panggil Kaito aja ya?" Dia memiringkan kepalanya dan melempar senyumannya padaku. Aku juga pastinya terkejut dia sudah mengetahui namaku terlebih dulu sebelum aku mengatakannya.
"Ternyata matanya sangat indah," gumamnya perlahan.
"Mata? Yang lebih penting, siapa kamu?" Aku terus berusaha mengenal siapa gadis misterius yang memanggilku ayah itu.
"Panggil aja ... Mi-chan," ucapnya lalu melangkah mendekat padaku.
"Mi-chan?" Aku hanya bisa diam dan merasakan kekacauan terjadi di kepalaku sekarang ini.
"Ayah? Em, maksudku kak Kaito, apa aku masih layak untuk hidup?" Pertanyaan pertama yang ia lontarkan itu membuat kepalaku serasa hancur. Ditambah lagi Mi-chan mulai membendung air matanya.
"Mi-chan ... aku, aku tak tau harus menjawab apa." Entah apa yang terjadi sekarang ini. Sepertinya dia bukan malaikat seperti Yume. Ini juga bukan mimpi, aku yakin itu. Tapi, sebenarnya siapa dia? Dan apa jangan jangan dia benar anakku dari masa depan?
"Ayah, aku mohon jawablah ... aku ... kakak ... apa aku harus menyerah sekarang?" Mi-chan semakin dekat denganku. Kata katanya itu semakin menggerus otakku. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya nyawanya sedang berada di ujung tanduk.
"Aku, aku sangat merindukan ayah!" Mi-chan memelukku seperti yang sering Hanabi lakukan. Hangat, ini kehangatan yang berbeda dengan pelukan Ai. Ini adalah kehangatan keluarga. Aku bisa merasakannya.
Jika dia benar benar dari masa depan, maka ...
__ADS_1
"Mi-chan, aku tidak mengenalmu, tapi aku tau. Jika Mi-chan berhasil sampai ke sini, itu artinya kamu sudah berjuang cukup keras." Aku mengusap kepalanya dengan lembut.
"Ayah!!! Aku merindukanmu!!!" Pekik Mi-chan lalu menangis di dalam pelukanku.
Dari kata katanya itu, aku menyimpulkan sesuatu. Mungkin saja aku sudah mati di waktunya. Sepertinya hidupku ini akan berjalan singkat. Mungkin aku bersyukur, aku tak lagi merasakan kepahitan di dunia ini selamanya.
"Mi-chan, semua orang masih layak untuk hidup ... tak seorang pun bisa menentukan bahwa kamu tak layak untuk hidup." Entah ini kata kata dari mana, tapi hanya itu yang ada dipikiran ku untuk menjawab pertanyaan pertamanya tadi.
"Ayah, ternyata ayah lebih ganteng waktu SMA ... ya?" Mi-chan melepas pelukannya dan mengusap air matanya yang keluar.
"Eh?!" Pipiku sedikit memerah karena pujiannya itu.
"Ayah, apa aku boleh memelukmu sekali lagi?" Tanya Mi-chan meminta izinku.
"Hmm," aku mengangguk walau aku tak tahu aku membuat keputusan yang benar atau malah salah.
"Terima kasih, aku dan kakak berterima kasih, sangat berterima kasih!" Kata katanya yang kembali mengacaukan isi kepalaku.
"Kaito? Kamu gak apa apa?" Suara kecil yang membangunkanku dari alam mimpi. Aku langsung disambut senyuman indah yang selalu ia berikan padaku. Dia adalah Ai, dia meletakan kepalaku dipangkuannya. Aku merenung sejenak untuk berpikir. Dan akhirnya aku tersadar, seragam sekolah si tuli itu basah kuyub. Aku langsung terduduk dan melempar berbagai pertanyaan ku sembari memegang kedua bahunya.
"Ai?! Kamu ga apa apa kan? Kenapa kamu basah kuyub gitu? Dan kenapa kamu ada di sini?!" Dan ada yang lebih mengejutkan, aku sedang berada di ruang cargo pesawat yang entah milik siapa ini. Ruangan terang dengan pintu cargo yang terbuka lebar menumbulkan angin yang sangat kuat karena kami masih terbang di atas langit.
"Kaito, kamu Lock tiba tiba lagi ya?" Fumio tiba tiba melangkah mendekat kearah kami berdua.
"Hmm, gitulah ... dan aku perlu penjelasan ...," ucapku sedikit memiringkan kepalaku bingung.
"Ohh, ini Air Hunter One milik DH." Ya, satu katanya itu menjawab sedikit pertanyaanku.
"Ohh, jadi ini," aku melirik ke segala arah untuk mengenali pesawat yang sudah diceritakan Fumio beberapa saat yang lalu. Dan tepat saat itu juga pintu cargo pesawat ini perlahan naik dan akhirnya tertutup rapat. Angin kencang tadi sudah tak lenyap, sekarang aku lebih nyaman berada di sini.
"Oh, dimana Saika, Taki, dan Takumi?" Lanjutku bertanya setelah mengingat kejadian sebelum aku tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Mereka berdua ada di ruang medis, Saika juga paling sebentar lagi ke sini." Kata Fumio santai.
"Senpai? Apa kamu ga apa apa?" dan benar saja, si mesum itu menuruni tangga yang menghubungkan lantai atas di pinggir ruang muatan ini.
"Hmm, dan sekarang aku butuh penjelasan lebih."
"Pertama, Fumio, gimana caranya kamu sampai di sini?"
"Dua, gimana cara Ai juga ada di sini?"
"Tiga, kenapa Ai basah kuyub?"
"Empat, dimana Hanabi?" Empat pertanyaan sekaligus yang aku lempar kepada mereka.
Fumio terpaksa menjelaskan kejadian setelah aku pingsan dengan detail. Tepat setelah aku kehilangan kesadaran, Saika terus mengejarku sampai ketinggian kami hanya ratusan meter diatas permukaan laut. Dan tepat sebelum aku menghantam air laut, Ai melesat cepat dan menangkapku. Ya, walau kami sempat menyentuh dinginya air asin itu, tapi Ai berhasil menyelamatkanku. Hanabi juga berada di dalam pesawat ini, dia sedang heboh mengagumi ruang kantor para anggota divisi Cyber di dalam pesawat ini.
Sebelum Ai menyelamatkanku, ia lebih dulu membawa Hanabi dan Fumio ke pesawat ini dengan kemampuan teleportasi yang ia miliki. Semua pertanyaanku terjawab, dan mungkin aku akan meminta penjelasan detail tentang kekuatan Ai lain kali saja. Sekarang aku akan mencerna semua hal yang baru saja menimpaku. Mulai dari mimpi aneh itu, oh iya, jika Mi-chan adalah anakku. Rambutnya hitam, mungkin saja Ai adalah ibunya.
Haaaa?!!! Aku menikah dan ena ena sampai punya anak dengan si tuli itu?!!!
------------------------------
Waduhhh ... Siapa tuh Mi-chan?!!!
Hehhe ... pusing pusing dah ...
oh ya, kalo suka jangan lupa klik tombol likenya yah ... satu like itu sangat berharga loh ...
ya belakangan ini aku up nya agak sedikit jarang, bagi kalian yang kangen kangen sama novel school drama kaya Ai No Koe punyaku, bisa baca novel karya juniorku tuh, judulnya Unforgettable kalo gak salah ... hehe makasih udah gitu aja ...
__ADS_1
See you next chapter guys ...