
Kakume
Tet tet tet~
Alarm dari jam bekerku berbunyi setiap detiknya. Mataku tak bisa menolak untuk terbuka karena suara itu. Jam beker yang ada di meja samping ranjangku ini menunjuk ke arah pukul tujuh pagi.
Setelah mematikan bunyi yang mengganggu itu, aku duduk dan bersandar di dinding sejenak. Cahaya mentari yang masuk dari jendela kamarku yang terbuka. Tirai yang tertiup angin musim dingin.
Pantas saja semalam aku merasa kedinginan. Aku lupa menutup jendela sejak malam tadi. Apa boleh buat, aku sangat lelah tadi malam. Misi Demon Hunter tak ada habisnya. Gerbang neraka apanya ...
Kami hanya terus menyelamatkan orang yang putus asa, membunuh mayat hidup. Kami bahkan tak sempat tidur setiap malam.
"Huff ... capek ..."
Tok tok tok~
"Senpai!! ... sudah bangun kah? ...," suara seorang gadis mengetuk pintu kamarku.
Dari suara dan panggilan itu, aku langsung mengenalinya. Itu adalah Sayuta Yuki, teman satu tim kami yang ikut tinggal di markas ini. Dia membuka pintu kamar ku perlahan dan terlihatlah wajah imutnya itu.
Gadis pendek dengan rambut merah muda sebahu. Bola mata warna kuning padam. Kacamata yang ada di wajahnya itu membuat dia semakin imut. Seragam sekolah dan jaket merah mudanya itu selalu terbayang di kepalaku.
"Ada apa Yuki-chan?" Tanyaku sembari tersenyum kepadanya.
"Ano ... cuma mau bilang ... malam ini ... misi kita bakalan berat ...," ucapnya sembari menyatukan kedua ujung jari telunjuk di depan wajahnya.
"Huah ... itulah yang aku tunggu!! ...", aku bangkit dari ranjang dan menghampirinya.
"Ano ... Senpai ...," wajah imutnya itu mulai memerah.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Emm ... boleh pinjem kamar mandimu gak?" Pertanyaan yang sama sekali tak ada di pikiranku sebelumnya.
"Haa? ... Emang ada masalah apa di kamar mandi mu? ...," tanyaku mengernyit heran.
"Kan lagi di pake Haru ... aku kebelet ... he he," ucapnya terkekeh.
"Ohh ... ya udah sana ...," aku mengusap kepalanya perlahan dan membiarkannya masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku.
Aku memakai jaketku yang kugantung di balik pintu kamar. Aku memutuskan untuk turun ke ruang rahasia dengan lift yang ada di ruangan tepat di depan kamarku. Setelah keluar dari lift aku tak lagi merasakan hawa dingin, ya, karena di sini punya pengatur suhu yang canggih.
"Fumio-chan!! ... selamat pagi," sapaku lalu menghampirinya yang sedang mengutak atik komputer pastinya.
"Hhmm ... aku harap kamu bersiap untuk malam ini," katanya tak mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
"Memangnya ... musuh kita malam ini raja iblis?" Aku sengaja menyentuh pipinya dengan jari telunjukku untuk membuatnya memperhatikanku.
"Ohh ... iya iya ...," aku pun memutuskan untuk mundur dari pertempuran ini.
Cih ... dasar loli ganas ...
Setelah lift kembali membawaku ke ruang depan kamarku. Aku segera menuruni tangga untuk mengambil sarapanku yang ada di kulkas. Setelah sampai di bawah, Haru dan Yuki sudah duduk di kursi meja makan dengan canda tawa yang mengiringi mereka.
"Ohh ... Selamat pagi pirang!" Sapa Haru sembari melahap roti isinya.
"Hmm ... Ha?!" Aku terkejut saat melihat isi dari lemari pendingin kami.
"Oii!! ... mana sarapan ku?!" Aku tak melihat satu pun makanan di dalam lemari pendingin ini.
__ADS_1
"Ano ... maaf senpai ... tadi malem aku kelaperan ... jadi ...," melihat wajah imutnya yang merasa bersalah itu, aku mengurunkan niatku untuk marah.
"Huff ... ya udah lah ... Yuki ... temenin aku ke minimarket ... bayarin aku ya ...," ujarku dengan senyuman jahat.
"Haa ... ta-ta-tapi ..."
"Gak ada alesan ... kamu harus tanggung jawab ...," aku membuka pintu depan rumah dan merasakan hawa dingin mulai menusuk kulitku.
"Udah sono ... entar malem kalo Kakume pingsan gimana?" Haru berdiri dari kursi dan menarik tangan Yuki.
"Iya iya ... tapi ...",
"Gak usah tapi tapi ... sana ...", Haru mendorong Yuki sampai ia menabrakku.
Kami berdua pun melangkah di tengah udara dingin yang masih berkeliaran. Salju masih menumpuk di atap atap rumah dan pinggir pinggir jalan. Yuki terus saja menundukan kepalanya sepanjang perjalanan.
Aku yakin dia sedang tak memiliki uang sepeserpun. Tentu saja aku tak akan memaksanya, aku malah ingin membelikan makanan untuknya. Yuki adalah seorang Tenshi yang sangat unik. Kemampuannya adalah memanipulasi kristal merah. Dia bisa membentuk pedang dari kristal yang muncul dari tanah begitu saja.
Aku bilang dia unik karena, efek samping kekuatannya. Setelah pertarungan, dia pasti akan sangat lapar. Ya, efek samping kekuatannya hanyalah membuat dirinya lapar. Tapi itu sedikit membuat kami kebingungan. Dia juga sering pingsan karena kelaparan.
"Nee ... Yuki ... apa kamu masih laper?" Tanyaku ditengah langkah kami.
"Ano ... senpai ... tapi aku lagi gak ada uang ...," Yuki masih menundukan kepalanya dan takut dengan reaksiku saat mendengar kata katanya tadi.
"Gak usah di pikir ... aku yang traktir," aku kembali mengusap kepalanya dengan lembut.
"Beneran?!" Tanyanya dengan kedua bola matanya yang berbinar.
"Iya iya ... tapi kalo gajian ganti loh ...," canda ku seraya menyenggolnya menggunakan siku tangan kananku.
__ADS_1
"Pasti!!"
Tapi kata pasti itu hanyalah sebuah kebohongan. Dia sama sekali tak pernah kembali sejak malam itu. Aku sudah tak bisa melihat gadis berkacamata yang imut itu lagi. Yuki ... aku juga mencintaimu ...