
Okino Yamato itulah nama ayahku. Dia adalah mantan anggota Divisi Detektif Demon Hunter. Ayahku adalah teman dekat Kazuki dan juga Dai. Mereka bertiga tumbuh di SMA yang sama, dan mereka adalah satu kumpulan yang tak terpisahkan. Di suatu malam, segel kekuatan Ai terbuka dan membuat gadis umur lima tahun itu kehilangan kendali.
Kejadian ini belum pernah diramalkan oleh sang penerawang masa depan Demon Hunter. Maka dari itu, tidak ada yang tahu akan kejadian tak terduga ini. Malam itu juga Ai tak sengaja membunuh ibu kandungnya. Kazuki melihat Ai menusuk istrinya dengan tangan kristal yang sangat tajam. Tentu saja Kazuki tak tinggal diam, Kazuki menarik pedang keluar dari sarungnya dan berusaha menyerang putrinya itu. Kazuki juga ikut kehilangan kendali, ia hampir saja menusuk kepala Ai dengan ujung pedangnya. Tapi, ayahku menyelamatkan Ai dan malah membuat dirinya tertusuk pedang Kazuki.
"Hmm, jadi ayah memang payah ...," gumamku sembari menikmati pemandangan awan biru yang indah.
"Tunggu dulu ... aku belum selesai ...," ujar Dai tersenyum tipis.
Ayahku memang tak mempunyai kekuatan untuk membunuh dan melukai orang lain. Kekuatanya hanya satu, Seal. Ya, segel, karena itu ayahku mempunyai julukan khusus. Sang gunung pelindung. Ayahku bisa menyegel Jigoku Gate hanya dengan melihatnya saja. Ayah juga bisa menghilangkan kutukan iblis dengan menyentuh orang itu saja. Dan yang lebih hebat, ayah bisa menyegel kekuatan Tenshi. Sebelum ayahku menghembuskan nafas terakhir. Dia menyegel kekuatan Ai terlebih dahulu. Dan di saat itulah telinga Ai mulai mengalirkan darah merah. Efek samping kekuatan itu membuat Ai kehilangan pendengarannya.
Setelah itu ayahku tumbang dan darah mulai mencucur keluar. Kazuki sangat terpukul, hatinya sangat remuk. Kehilangan dua orang yang ia cintai dalam satu malam. Istrinya, sahabatnya, mereka berdua dilenyapkan oleh sang gadis kecil bernama Mirai Ai, putrinya sendiri. Dan sejak saat itulah Kazuki mulai berubah, ia tak lagi menggunakan pedangnya, ia tak lagi menyayangi Ai seperti sediakala.
"Kaito, sebelum ayahmu meninggal ... ia memberikan sebuah batu kepada Kazuki." Kata Dai sedikit menghela nafasnya.
"Hmm, aku tau, ayah sepertinya berhasil membantuku untuk melawan takdir." Ucapku lirih.
"Jadi, apa cuma itu yang kau tanyakan?" Dai menoleh ke arahku.
"Untuk sekarang iya, terima kasih." Aku bangkit berdiri dari tempat dudukku.
"Mau kemana setelah ini?" Lanjut Dai bertanya.
"Aku akan mencari tahu siapa pembunuh sahabatku." Kataku sembari mengepalkan tanganku kuat.
"Wah wah, semoga berhasil Kaito ...," ujarnya dengan seringai senyumannya itu.
"Satu lagi, apa aku boleh minta salah satu anggota Enjeruhanta untuk menemaniku?" Aku sadar aku tak bisa bekerja sendiri. Aku sudah punya Sora, tapi aku butuh satu orang lagi dengan perspektif yang berbeda. Enjeruhanta pasti punya informasi yang tak diketahui DH, aku yakin itu.
"Whoa, apa kau mau perempuan? Yang imut atau yang gimana?" Ujar Dai mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Yang penting bukan Detroit, lebih baik laki laki saja ...," untuk terakhir kalinya aku menikmati langit biru yang sangat indah itu.
"Oke oke ... dia sudah menunggu di mobil ... semoga berhasil Kaito." Setelah mendengar kata kata Dai itu aku segera keluar dari ruangan kitu dan kembali turun ke lantai dasar menggunakan lift. Saat aku keluar dari gedung, mobil yang tadi mengantarku masih ada di posisinya dengan pintu kursi penumpangnya yang masih terbuka. Aku kembali masuk dan duduk di kursi penumpang. Dan orang yang aku minta sudah duduk di samping kananku.
"Apa kau Okino Kaito?"
Seorang pria tiga puluh tahunan. Rambut merah padam dan tubuh gagah. Ia mengenakan setelan jas warna cokelat dan celana panjang hitam. Penampilannya mirip seperti polisi, jangan jangan dia memang polisi.
"Hmm, benar." Di saat yang sama mobil yang kami tumpangi kembali melaju.
__ADS_1
"Namaku Sabushi Hayato, aku bekerja di kepolisian kota Natsu." Dan benar saja, dia adalah mata mata Enjeruhanta yang bekerja di kepolisian.
"Kebetulan aku sedang ingin menyelidiki pengeboman di rumah sabatmu itu." Lanjut Hayato.
"Baguslah, kalau begitu bantu aku menemukan pelakunya ... agar aku bisa menghabisinya dengan tanganku." Hatiku masih terasa sakit saat mengingat kejadian itu.
"Maaf, kalau soal menghabisi, aku tak bisa membantumu ... aku hanya manusia biasa." Hayato langsung mengaku bahwa ia bukan Tenshi ataupun Detroit.
"Ohh, apa aku panggil Hayato?" Lanjuku bertanya.
"Tentu, silahkan." Hayato mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya.
"Apa kau sudah berkeluarga?" Tanyaku melihat penampilannya yang terlihat sangat dewasa.
"Oh belum, hanya saja aku punya panti asuhan kecil." Kata katanya itu sedikit membuatku kagum.
"Wah, ada berapa anak di sana?" Aku kembali melempar pertanyaan padanya.
"Lima, empat laki laki dan satu perempuan. Umur mereka baru sekitar lima sampai enam tahun." Jelas Hayato menoleh ke arahku.
"Apa aku boleh berkunjung?" Hanabi pasti senang kalau bertemu anak anak itu.
"Tentu, kapan saja kau boleh berkunjung." Hayato terlihat bersemangat ketika membicarakan anak anak di panti asuhannya itu.
Kami berdua keluar dan mobil itu melaju pergi meninggalkan kami. Rumah minimalis dua tingkat yang sudah tak memiliki atap. Kaca kacanya yang sudah pecah, pintu yang hangus terbakar. Puing puing yang berserakan di teras rumah. Dan ada garis polisi yang menyilang di pintu rumah yang gosong itu. Bukan hanya rumah itu yang hancur, hatiku juga remuk menyadari Raku sudah tidak tinggal di sini.
"Kaito, apa kamu sehat?" Tanya Hayato menepuk pundak kananku karena melihatku melamun.
"Ohh aku sehat ...," Kami pun segera melangkah maju memasuki teras rumah sahabatku itu. Aku langsung melihat seikat bunga mawar merah yang tergeletak di depan pintu.
"Bunga?" Gumamku mendekat ke arah bunga itu. Aku membungkuk dan mengambil secarik kertas yang ada di bawah seikat bunga itu.
'Raku aku yakin kau masih hidup. Aku akan selalu menunggumu, Kaito juga berjuang mencarimu. Kami berdua selalu ada disini menunggumu.'
Tulisan tangan itu, aku mengenalinya. Mina, dia sampai berbuat seperti ini. Aku tak tahu seberapa rasa sakit yang ia tanggung di dalam hatinya. Hatiku saja rasanya tertusuk ribuan pedang tajam. Aku hanya sahabatnya, sedangkan Mina, dia menganggap Raku lebih dari sahabat.
"Kaito, aku ngecek bagian belakang." Kata Hayato lalu melangkah pergi ke halaman belakang rumah. Aku kembali berdiri tegak dan menggenggam secarik kertas ini dengan hatiku yang kacau balau.
"Kau-kau siapa?" Suara Mina yang tiba tiba masuk ke lubang telingaku. Aku langsung berbalik dan melihat Mina berdiri di hadapanku. Dia masih memakai seragam sekolah, ia membawa seikat bunga mawar lagi di pelukannya.
__ADS_1
Kenapa dia tidak di sekolah jam segini?
"Mina? Kenapa kamu di sini?" Aku langsung melempar pertanyaan padanya.
"Ka-Kaito?! Se-sejak kapan kau?" Mina terperangah saat melihat penampilan baruku ini.
"Oi, lupakan soal aku, yang jelas ... apa kamu bolos?" Aku mendekat kepadanya.
"Hmm," Dia hanya bisa menunduk dan terus memeluk seikat bunga itu tanpa bisa menjawab sepatah kata pun.
Apa dia bolos gara gara suasana hatinya yang kacau?!
"Mina, silahkan ...," aku membuka jalan dan mempersilahkannya lewat untuk meletakan seikat bunga di pelukannya itu. Tanpa sepatah kata pun ia melewatiku dan meletakan Bunga itu di depan pintu rumah Raku.
"Kaito, siapa dia?" Hayato baru saja kembali dari halaman belakang rumah Raku.
"Sahabatku juga, kekasihnya Raku." Jawabku perlahan membiarkan Mina merenung sejenak.
"Pasti berat untuknya, aku menemukan sesuatu." Hayato menunjukan potongan bilah pedang yang masih mengkilap.
"Hmm, petunjuk, mungkin saja kita bisa menemukan sesuatu di dalam." Gumamku perlahan mengamati bilah pedang yang terpotong sangat rapi itu.
"Apa aku boleh ikut bersama kalian?" Mina mengusap air matanya lalu berdiri tegak setelah meletakan bunga yang ia bawa.
"Boleh ..., Hayato, kita masuk ke dalam." Aku melepas garis polisi yang menyilang di depan pintu. Perlahan aku membuka pintu yang engselnya hendak terlepas itu. Gelap dan hanya puing puing barang yang hangus terbakar terlihat berserakan di dalam rumah ini.
Kami terus berkeliling dan tak lupa menperhatikan setiap langkah kami. Tentu saja kami tak ingin menghilangkan barang bukti. Beberapa menit berlalu, berhatianku diambil oleh bungkus makanan ringan yang ada di bawah puing puing meja makan. Aku tak mengambilnya, aku hanya berjongkok dan mengamatinya. Bungkus plastik itu bukan dibuka menggunakan tangan ataupun gunting. Dia sudah terbuka karena ledakan dari dalam.
Bungkus plastik itu seperti meledak karena ada warna kehitaman di bagian dalam. Sedangkan bagian luarnya saja masih rapi dan tulisannya masih bisa terbaca dengan jelas. Aku kembali berdiri dan menghampiri Hayato yang sedang sibuk mencatat apa yang ia temukan.
"Hayato, bungkus makanan yang meledak dari dalam." Ucapku singkat karena pasti dia tahu maksudku. Dia adalah detektif berpengalaman dari kepolisian, terlihat dari lencana yang terpajang di jas cokelatnya itu.
"Ohh, terima kasih," Katanya sibuk mencorat coretkan pulpennya ke halaman buku catatan kecilnya.
"Hmm, petunjuknya hampir lengkap."
"Kita tinggal menunggu hasil otopsi dua mayat yang ditemukan hangus di sini." Kata kata Hayato itu membuat Mina yang berdiri di belakangku kembaki mengeluarkan air matanya.
"Jelas ini kasus pembunuhan, tapi kenapa ada dua mayat?"
__ADS_1
"Bukannya Raku hanya sendiri di rumah?" Gumamku terus berpikir keras.
Apa tunggu?! Ninja!?! Aku baru ingat?! Jangan jangan ....