Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 198


__ADS_3

"Oi? Dia ga apa apa kan?" Suara Mei yang terdengar samar samar.


Aku mulai bisa merasakan tubuhku, membuka mataku, lalu menggerakan ujung jariku. Walau pandanganku masih buram dan tak jelas. Sepertinya aku berada di sebuah kamar, mirip sekali dengan rumahku. Cahaya terang yang memaksa masuk melewati jendela. Perasaan aman dan nyaman ini sudah lama tak aku rasakan.


Merasakan empuknya ranjang, dan bantal yang membuatku tak ingin meninggalkan tempat ini. Tapi, aku tak seharusnya disini, aku harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Aku menggelengkan kepalaku cepat lalu bangkit dari ranjang ini.


"Selamat pagi semua!" Seruku dengan penuh semangat sembari meregangkan tubuhku yang kaku ini. Aku juga melihat sekeliling mengenali betapa nyamannya kamar ini. Meja belajar yang ada di sisi kanan ruangan. Rak buku besar juga ada di sisi kiri, dan pintu di pojok itu pasti adalah kanar mandi.


"Heee?! Fuyu?! Kamu gila kah?" Ujar Mei berdiri di samping pintu dan menyandarkan punggungnya ke dinding.


"Mungkin ...," kataku sembari menggaruk kepalaku sendiri.


"Payah, reingkarnasi dewa yang kehabisan energi sihir di pertarungan kecil?" Aku baru sadar ada gadis tomboy mengenakan hoodie hitam dan rok merah duduk di kursi sampinh ranjangku tadi.


"Hoi?! Siapa?!" Aku terperanjat sampai kepalaku terantuk dinding di belakangku.


"Humm, kau memang berbeda dengan Kaito." Ia berdiri dan melangkah ke arah pintu keluar kamar ini.


"Siapa namamu?" Tanyaku penasaran sekaligus bingung.


"Sorachi Murakami, anggota divisi Cyber, aku banyak urusan, sampai nanti." Jawabnya cuek lalu keluar dari kamar ini.


"Hmm, kamu memang payah." Timpal Mei meremehkanku dengan santainya.


"Oi?! Aku kehilangan hampir semua energi sihir karena memanggilmu! Bukanya terima kasih malah ngejek?!" Aku meluapkan semua emosiku.


"Senpai? Maaf ganggu, tapi sarapan siap." Wajah dingin nan imut Saika itu memadamkan api di hatiku ini.


"Ohh ... oke," aku terpaku karena melihatnya memakai seragam SMA. Dia jauh terlihat lebih imut dari pada waktu ia memakai zirah hitamnya itu.


"Saika, Fuyu itu mesum," Mei menepuk pundak Saika dan mengejekku dengan santai.


"Heeeee?! Mei?! Dasar ga tau malu!" Teriakku karena kepala ini mulai mendidih.


"Se-Senpai? Ayo turun ke bawah," Rona merah yang samar samar itu terpancar di pipi Saika. Berapa kali pun aku berpaling, perhatianku selalu tertarik padanya.


"Ohh ... ayo," ucapku perlahan lalu mengikutinya. Kami berdua menuruni tangga dan menuju ke ruang makan. Rumah minimalis yang rapi, sungguh mirip dengan rumahku. Letak ruang tamu, ruang makan sekaligus dapur, satu kamar di lantai dasar. Dan dua kamar di lantai dua.

__ADS_1


"Yow, penyihir payah!" Mei sudah duduk di salah satu kursi meja makan itu melambaikan tangannya padaku. Meja makan kayu hitam, dengan empat kursi yang mengelilinginya. Sungguh mirip dengan rumahku.


"Hmm," aku sudah lelah menghadapinya dan langsung duduk di kursi yang ada di seberang dewi itu.


"Semoga kalian suka," setelah menunggu beberapa detik, Saika mengambil dua mangkuk sup hangat. Ia meletakan mangkuk itu di depanku dan juga Mei.


"Woah, selamat makan!" Tanpa basa basi lagi aku memakai sendok yang sudah tersedia di dalam mangkuk ini. Aku menyeruput kuah sup buatan Saika, rasanya sangat enak. Sudah lama aku tak merasakan masakan dari temanku itu.


"Enak!" Aku memuji masaka Saika dengan senyuman lebar di wajahku.


"Beneran? Untunglah ... aku mau anter ini ke Hanabi dulu ya?" Aku terdiam dan hanya membiarkan Saika melangkah masuk ke kamar yang ada di lantai dasar ini.


"Fuyu, apa orang itu masih ada di badanmu?" Tanya Mei sembari menikmati sup Saika.


"Haaa?! Dari mana kamu tau?!" Aku terkejut, sangat terkejut bahwa dia mengetahui rahasia terbesarku.


"Sudah kubilang ...,"


"Aku ga mau!!! Kak mau kak Kaito!!!" Teriakan seorang gadis itu menghentikan percakapan kami. Diiringi Saika yang keluar dari kamar itu dengan raut muka khawatirnya.


"Hmm, ini semua gara gara aku, Hanabi jadi seperti ini." Saika duduk di kursi samping Mei lalu menutup mukanya dengan kedua tangan.


"Siapa dia?" Tanya Mei dengan suara kecil.


"Adiknya Kaito, katanya dia mimpi buruk terus soal kakaknya." Jawab Saika seraya menghela nafasnya. Ia pasti sedang banyak pikiran, aku tak pernah melihat raut wajahnya yang seperti ini.


"Hmm, biar aku bicara dengannya." Tanpa basa basi aku bangkit berdiri dan berjalan ke depan pintu kamar Hanabi.


Tok tok tok~


"Hanabi? Apa aku boleh masuk?" Ujarku setelah mengetuk pintunya. Tentu aku tak mendengar jawaban darinya, tapi aku memutuskan untu tetap masuk ke dalam.


Kamarnya begitu gelap, tirai kamar yang masih tertutup itu menghalangi cahaya pagi ini. Bahkan lampu kamarnya saja tidak ia nyalakan. Gadis SMP itu berbaring di kasurnya dan menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut.


"Hanabi, udah pagi, ga baik kalo kamar masih gelap gini." Aku membuka tirai sekaligus jendela kamarnya dan suasana berubah dalam sekejap. Dan aku sadar, cahaya itu bukan dari matahari, ada lampu besar yang bersinar di langit langit besi itu. Jadi ini adalah lantai Alpha. Sungguh mirip dengan dunia nyata.


"Kakak?!" Gadis Rambut hitam sebahu dengan piyama merah muda itu terbangun dan menatapku bingung.

__ADS_1


"Ohh, aku bukan Kaito ... etto ... Umm gimana yak?" Aku bingung sendiri harus menjelaskan atau memperkenalkan diriku ini. Kalau dipikir diriku ini adalah Kaito yang lain, tapi, aku adalah aku.


"Ohh, iya, matamu sedikit lebih biru." Gumam Hanabi perlahan. Aku menarik kursi meja belajarnya dan meletakanya di samping kasur Hanabi. Sup buatan Saika yang terletak di atas meja belajar itu bahkan belum tersentuh sama sekali.


Dan entah kenapa Hanabi mau berbicara padaku. Bahkan kami langsung akrab. Walau kadang masih canggung sih, tapi aku berusaha memininalisir itu dengan menceritakan semua tentang diriku. Mulai dari makanan kesukaan, hobi, pengalaman lucu, dan lain lain.


Setelah aku selesai mengoceh, ternyata aku berhasil memintanya menceritakan apa yang ia alami. Strategiku memang yang terbaik. Hanabi bercerita kalau belakangan ini ia sering mimpi buruk. Karena itu ia memaksa kakaknya yang bernama Tomoya itu untuk menceritakan semua yang terjadi pada Kaito.


Tomoya mungkin sedang berada dalam tekanan dan banyak pikiran. Ia membentak Hanabi dan berkata bahwa Kaito sudah berubah jadi iblis. Tentu Hanabi sangat terpukul mendengar kata kata kakak sulungnya itu. Aku yakin Tomoya juga menyesal sampai membuat adiknya jadi seperti ini.


"Okino, aku ambil alih tubuhmu." Suara laki laki yang paling aku benci.


Aku berdiri dari tempat dudukku karena kepalaku terasa sangat sakit. Seketika tubuhku diselimuti cahaya yang sangat terang.


-Arthur Mafuyu-


Mulai sekarang aku yang ambil alih.


Namaku adalah Arthur Mafuyu, bisa dibilang aku adalah kepribadian kedua milik Fuyuka. Mungkin kalian sedikit bingung, tapi kalian akan segera terbiasa. Setelah cahaya ditubuhku memudar, badan Fuyuka sudah tak ada lagi, sekarang aku adalah Arthur Mafuyu seutuhnya. Laki laki tampan berambut putih dan mata biru. Jubah putih khas penyihir hebat.


"Halo Hanabi, namaku Arthur Mafuyu." Aku memperkenalkan diri sembari membungkukan badanku.


"He? Dimana kakak yang tadi?" Hanabi terperanga kebingungan.


"Senpai ... siapa kamu?" Saika yang baru saja membuka pintu itu juga ikut kebingungan melihat Fuyuka yang sudah berubah jadi diriku.


--------------



Okino Fuyuka



Arthur Mafuyu


Dia adalah penyihir yang tersegel di tubuh Okino Fuyuka. Terkadang bisa mengambil alih tubuh dan kesadaran. Ia bisa muncul dan merubah tubuh Fuyuka jadi tubuhnya yang sebenarnya. Bukan hanya kepribadian ganda, tapi dua orang yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2